Jika tulisan ini terbit, maka ini akan menjadi  hadiah yang bisa aku berikan untukmu. Aku belum mampu memberikan boneka yang super besar seperti inginmu atau tas serta sepatu dengan merk tertentu . Atau mungkin sesederhana untuk datang ke sidang skripsimu pun aku tak bisa — maaf.

Bukan cuma aku yang memiliki sahabat, aku yakin banyak orang yang memiliki orang terdekat yang dipercayai untuk tempat berkeluh kesah, bersandar, bersenda gurau, teman makan, atau mungkin hanya sekadar sebagai pendengar yang baik lalu kita sebut dia dengan sahabat.

Ya, begitulah aku memanggil mu, Sahabat. Setelah hampir 7 tahun bersama, masih banyak keinginan kita yang belum terwujud. Tapi aku percaya kelak semua tak hanya sekedar harap, semua akan menjadi nyata. Sekali lagi kamu adalah sahabat, entah kamu gendut atau kurus, sehat atau sakit, senang atau sedih.

Akankah kita seperti ini? via lmfao77.wordpress.com

Hei sahabat, masih ingatkah gambar itu yang dulu pernah kamu kirimkan untukku. Gambar itu kamu beri judul “kita gak akan seperti itu ‘kan?” Di balik gambar itu, kamu sebenarnya ingin meyakinkanku bahwa persahabatan kita ini tak akan ada habis masanya.

Ada satu titik di mana aku mulai sadar bahwa teman-teman yang dulu selalu ada satu persatu mulai hilang. Tapi demi persahabatan ini, akan kuperpanjang masa berlakunya.

Advertisement

satu persatu teman-teman menghilang via readzo.com

Mungkin banyak dari kita yang mengalami hal semacam itu. Tapi percayalah, itu tak akan terjadi pada persahabatan kita. Dalam hidupmu ada teman-teman yang masuk dan pergi dalam kehidupanmu, dan waktulah yang akan menjawab siapa dari teman-temanmu yang akan bertahan menemanimu dari masa ke masa. Dan jika ada teman yang seperti itu, itu pasti diriku.

Coba tengok ke belakang, beberapa tahun silam sewaktu kita lulus SMP, lalu kita pilih SMA yang jaraknya luar biasa jauh tapi kita bisa untuk meluangkan waktu bertemu tiap weekend, untuk sekedar bercercerita bagaimana hari-hari mu kemarin di sekolah atau soal kisah cintamu yang tak jarang membuatmu sedih.

Meski cuma bermodalkan chatting Facebook dan SMS, tapi kita masih bisa berkomunikasi kan. Masih berpikir bahwa semua ada masanya setelah 6 tahun berlalu? Jangan dengar apa kata mereka, jangan percaya bahwa sebuah persahabatan itu ada masanya. Persahabatan kita ini bukan kontrakan, yang harus disudahi ketika masa kontraknya habis. Percayalah, sampai kapanpun aku selalu berada tepat di belakangmu.

Dulu hampir setiap hari aku menyapamu, tapi sampai tiba waktunya saat mau chat atau meneleponmu harus bertanya dulu, “lagi sibuk atau nggak?”

Aku pun mulai takut untuk menyapamu via www.theglow.com.au

Transisi dari siswa menjadi mahasiswa sudah kita lewati. Persahabatan kita memang gak akan semulus jalan tol. Ada satu waktu aku temukan kamu asik dengan teman-teman barumu. Iya, memang benar di beberapa kesempatan aku pernah tak berani menyapamu, karena aku takut mengganggumu yang sedang asyik dengan dunia barumu.

Tapi sungguh, aku sama sekali tak iri dengan teman-teman barumu, hanya saja aku memang harus mengalah sejenak pada teman-teman barumu. Aku pun punya teman-teman baru yang juga menyenangkan, dan aku pun menikmati pertemanan baruku ini. Meski kadang aku tak mengajakmu untuk bertemu, itu bukan karena aku lupa dan iri pada teman-teman barumu.

Kamu tahu ‘kan bahwa aku punya gengsinya luar biasa besar. Jadi untuk sekadar menyapa pun aku butuh usaha ekstra. Aku kira hari itu aku akan kehilangan kamu, sampai pada akhirnya kamu yang bertanya: “Kamu sibuk ya? Sudah lama kita gak jalan bareng?”

Terimakasih, karena malam itu kamu berani untuk menghubungi aku terlebih dulu. Mungkin kalau hari itu kamu tidak bertanya, tidak ada kita lagi dihari ini. Lagi-lagi ini masalah sebuah komunikasi. Maaf jika aku terlalu gengsi, tapi aku mohon percayalah, setiap kali kamu menoleh ke belakang untuk mencariku, aku akan ada di sana, sahabatku.

 

Sampai ada masanya aku ragu mau mengomentari foto-foto konyolmu, hanya karena aku merasa asing dengan teman-teman barumu.

Ada kalanya aku mulai ragu mengomentari foto-foto konyolmu via www.theglow.com.au

Sahabat, maaf ya jika selama ini diam-diam aku kepoin akun-akun media sosialmu. Diam-diam aku melihat setiap postingan-mu bersama mereka. Iya, benar aku ragu untuk ikut bergabung dengan teman-teman barumu untuk mengomentari dan menertawakan foto-foto konyolmu.

Semenjak itu aku sadar, bahwa ternyata bukan hanya aku yang mengetahui tentang burukmu tapi mereka juga. Jujur, hari itu aku takut bahwa posisiku akan tergantikan oleh mereka. Aku berusaha menjadi sahabat yang baik, membiarkanmu mengenal dunia lain yang lebih luas, dunia yang tidak hanya akan kau bagi dengan aku. Tapi sekali lagi kamu hanya akan menemukan aku yang selalu berada tepat dibelakangmu.

Persahabatan orang lain bisa saja berakhir oleh suatu sebab, tapi tidak untuk kita. Aku akan terus jadi sahabatmu dari masa ke masa.

Aku akan selalu jadi sahabatmu dari masa ke masa (dok. pribadi) via Hipwee.com

Aku tidak pernah berpikir bahwa persahabatan kita akan berakhir seperti kebanyakan orang. Kamu tahu siapa aku kan? Sahabat yang selalu menempatkanmu di prioritas pertama. Sahabat yang tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah membuatmu bersedih, dan tidak akan pernah pergi darimu.

Jadi jangan berpikir bahwa semuanya akan berakhir. Masih banyak tempat yang belum kita kunjungi, masih banyak jenis makanan yang belum kita cicipi bersama-sama. Mari persiapkan waktu dan dompet, lalu kita ciptakan perjalanan yang luar biasa, seperti yang pernah kita lakukan dulu kala. Menyempatkan pergi bersama sahabat itu bisa jadi salah satu cara mempererat persahabatan kita.

Sekarang aku dan kamu punya kesibukan masing-masing. Intensitas pertemuan kita memang berkurang drastis, tapi bukan berarti masa persahabatan kita sudah habis.

Sukses sahabatku, persahabatan kita tak akan ada habis masanya. (dok. pribadi) via Hipwee.com

Bukankah masing-masing dari kita sudah memiliki kesibukan sebelum hari ini? Lantas apa aku melupakanmu, mengabaikanmu, atau meninggalkanmu? Tidak sama sekali. Aku memang tak datang ke sidang skripsimu, tapi itu karena pekerjaanku. Maaf, tapi aku harap engkau tahu bahwa doa tak pernah putus untukmu.

Sukses ya dear, sampai kapanpun persahabatan kita tak akan pernah berhenti. Aku mohon, ingatlah selalu bahwa masa persahabatan kita di dunia ini hanya akan habis ketika maut hadir di depan mata.

Semua tergantung bagaimana kita, bagaimana komunikasi kita. Jangan gengsi untuk sekedar bertanya “Apa kabar?”. Titik temu dari semuanya bukanlah pertemuan, melainkan komunikasi. Hubungi aku kapan pun kamu mau, karena aku selalu berada tepat dibelakangmu. Terimakasih atas waktu dan perjalanan yang telah terlewati, sukses sahabatku!