• 9 Desember 2016, 7:51 am
  • Taman Budaya Yogyakarta

Bertempat di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta , Festival Film Dokumenter (FFD) 15| Displacement telah resmi digelar pada Rabu (7/12). Tajuk Displacement  yang diangkat pada tahun ini lantas diwujudkan melalui pemutaran film berjudul I Remember. Berkisah tentang penduduk Roboski yang  menjalankan sebagian besar aktivitas komersial lewat jalur ilegal,  film besutan sutradara Seilm Yildiz ini menampilkan betapa kematian begitu lekat dengan kehidupan mereka, bahkan hingga seratus tahun semenjak garis perbatasan didemarkasi. Film asal Turki berdurasi 38 menit tersebut menjadi salah satu film yang merespon tajuk Displacement yang terangkum dalam program Perpektif. Melalui Displacement, FFD sebagai festival dokumenter tertua di Asia Tenggara hendak mendedah berbagai proses perpindahan dalam ruang dan waktu hidup kita, dengan tetap kritis terhadap relasi kuasa yang terjalin.

Festival Film Dokumenter 15 selanjutnya diselenggarakan selama empat hari di minggu kedua bulan Desember tepatnya pada 7 – 10 Desember 2016. Melibatkan 71 film pilihan dari 32 negara di beragam belahan dunia, pemutaran akan berlangsung di empat lokasi, yakni: Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, IFI-LIP Yogyakarta, dan Kelas Pagi Yogyakarta. Khusus di kawasan kelas Pagi Yogyakarta, film-film dokumenter tak sekadar dapat disaksikan, namun dapat pula dialami secara lebih nyata melalui salah satu program parsial, Virtual Reality (VR).

Advertisement

Seperti saat pertama kali digelar pada 2002, FFD kembali menghadirkan program kompetisi. Terdiri dari kategori Dokumenter Panjang, Dokumenter Pendek, dan Dokumenter Pelajar, tahun ini FFD pertama kalinya membuka peluang bagi film-film dokumenter mancanegara untuk turut berpartisipasi dalam kompetisi kategori Dokumenter Panjang. “Tahun ini jumlah film yang terkumpul dalam program kompetisi meningkat dari tahun sebelumnya,” ungkap Greg Arya selaku direktur festival FFD 15. Dengan total 151 film submisi: 53 film submisi kategori Dokumenter Panjang; 87 film submisi Dokumenter Pendek; dan 11 film submisi Dokumenter Pelajar, proses kurasi internal menyisakan total 22 film finalis dengan rincian: 7 film finalis Dokumenter Panjang, 9 film finalis Dokumenter Pendek, dan 6 film finalis Dokumenter Pelajar.

Tak hanya program kompetisi, dalam sambutannya Fransiscus Apriawan sebagai Koordinator Program menjelaskan bahwa masih ada empat program lain yang akan turut mengisi gelaran festival tahun ini. Program tersebut yakni: Pemutaran (Perspektif & Spektrum), Parsial, Edukasi (School Docs & Masterclass), dan Diskusi. Pemutaran program Perspektif berupaya untuk merespons Displacement sebagai tajuk FFD tahun ini, sedangkan Spektrum dirancang oleh FFD untuk menyajikan keragaman dalam film-film dokumenter di dunia. Sementara program Parsial hadir memberi ruang bagi lembaga, organisasi, dan rekan untuk berkolaborasi melalui kurasi program yang disepakati bersama – bukan hanya berkenaan dengan film dan arsip dokumenter, namun juga lintas medium serta mendukung visi antar satu sama lain. Program parsial diperinci menjadi 5 sub-program, yakni: Virtual Reality (VR), Asian Docs, Focus Japan, SEADoc, serta Docu Française.

Sedangkan Program Diskusi akan diadakan di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 8-10 Desember dengan tiga bahasan yang berbeda, yakni: Merasakan Film Etnografi Indrawi, Yang Tidak Dibicarakan Saat Bicara Tentang Remaja Perempuan, dan Displacement dan Siasat. Penyelenggaraan diskusi bekerjasama dengan dengan beberapa kritikus film, dan perwakilan dari berbagai lembaga multi-disiplin untuk sama-sama membahas fenomena yang sedang terjadi dan kaitannya dengan narasi yang disampaikan di film-film yang diputarkan di hari H festival.

Advertisement

Pada pembukaan FFD kali ini tampak hadir sosok-sosok yang tidak asing lagi di dunia perfilman Indonesia, seperti Ismail Basbeth, FX Harsono, John Appel, Ranjan Palit, BW Purbanegara, dsb. “Displacement semoga bisa menjadi respon bersama mengenai isu-isu di sekitar sekaligus sarana refleksi bagi persoalan-persoalan terkini”, tutur Iwan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya