Sejak gencarnya program pemerintah untuk memberantas konten pornografi online, pasti banyak yang kesulitan mengakses film-film porno atau film dewasa. Bahkan pastinya tidak sedikit yang memutar otak mencari kata kunci lain, supaya bisa tetap mendapatkan ‘konten panas’. Salah satu kata kunci itu mungkin adalah film biru. Kalau dipikir-pikir, kenapa dan sejak kapan ya film biru jadi sebutan lain dari film panas. Kalau merujuk warna, kenapa juga bukan film merah — ‘kan lebih ‘berapi-api’….

Ada beberapa teori yang berupaya menjelaskan hal ini. Bagi yang sudah terlanjur penasaran, Hipwee News & Feature punya rangkumannya nih…

Teori pertama berhubungan dengan sejarah film. Dulu katanya cara paling mudah & murah bikin film adalah dengan menggunakan lighting atau corak kebiruan, makanya film panas yang hampir pasti low budget selalu kebiru-biruan

Film-film panas via johnnyalucard.com

Meski kini industri film dewasa adalah bisnis raksasa bernilai ratusan juta dolar, pada awal mulanya, film-film ini harus selalu dibuat sembunyi-sembunyi dengan budget yang sangat minim. Ya apalagi alasannya kalau bukan karena kontennya yang melawan standar moral masyarakat. Nah salah satu teori kenapa genre film panas itu disebut ‘blue movie’ atau film biru itu, berhubungan dengan teknik membuat film low budget zaman dulu. Dilansir dari Daily Hunt, teknik paling murah dan gampang untuk memproduksi film hitam-putih adalah dengan menggunakan corak atau lighting kebiru-biruan.

Makanya film-film panas yang dibuat sembunyi-sembunyi dan sangat minim budget, selalu memiliki corak kebiruan dan akhirnya dipanggil ‘blue movie’. Kalau bertanya di forum Quora, lebih lanjut dijelaskan bahwa studio-studio zaman dulu biasanya cuma punya dua set lighting yaitu lighting warna merah dan biru. Lighting merah digunakan siang hari, sedangkan lighting biru dipakai pada malam hari. Karenanya, film-film dewasa yang kontroversial selalu direkam seusai jam kerja resmi. Biar nggak ketahuan gitu…

Ada juga teori terkait pembungkus biru kaset VCR. Karena pertamakali mulai populer secara mainstream lewat kaset-kaset VCR, film-film dewasa jadi identik sama warna pembungkusnya yang biru

Pertamakalinya bisa menikmati film-film dewasa di rumah sendiri via mentalfloss.com

Anak-anak muda zaman sekarang mungkin tidak akrab dengan penampakan kaset VCR seperti ini. Tapi sebelum PornHub dan situs-situs semacamnya, kaset-kaset inilah yang jadi andalan untuk memasarkan film-film dewasa. Keberadaan kaset VCR mengubah format film-film dewasa  menjadi tontonan atau hiburan rumah. Tidak perlu lagi pergi ke bioskop-bioskop terpencil atau ilegal untuk menikmati film-film dewasa. Nah karena kaset-kaset VCR dulu biasanya dibungkus dengan plastik biru, makanya film-film panas yang jadi genre kaset VCR paling populer saat itu juga identik dengan warna biru.

Teori paling jadul dihubungkan dengan terminologi atau makna. Katanya ‘blue movie’ itu semacam plesetan dari istilah ‘blue laws’ — hukum zaman dulu yang mengatur standar moral

Menurut hukum ‘biru’, hari Minggu harus bebas maksiat. Makanya tidak boleh jual alkohol via www.wideopeneats.com

Ada juga mengaitkan penamaan film biru dengan menelusuri sejarah terminologi atau bahasa. Ternyata pada era akhir abad ke-18 di Benua Amerika, dikenal sistem hukum yang disebut ‘Blue Laws’ karena dituliskan dalam buku bersampul biru. Menurut hukum tersebut, semua bisnis duniawi harus tutup pada hari Minggu. Terutama bisnis seperti penjualan alkohol. Nah berdasarkan teori ini, ‘blue movie’ justru seakan-akan melambangkan perlawanan atas aturan moral ini. Jadi film biru diartikan sebagai produksi sinema yang tidak sesuai standar moral.

Nah kalau menurut kamu, mana nih teori yang paling mungkin?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya