4 Alasan Milenial Ragu Buat Investasi (Plus Cara Mengatasinya). Kalau Kamu yang Mana?

Investasi Milenial

Jika didengar sambil lalu, kata investasi terkesan kaku, penuh risiko, dan eksklusif untuk kepentingan kalangan berduit banyak saja. Pandangan sekilas itu nggak salah, tapi bukan pula benar. Karena faktanya, investasi itu penting untuk siapa saja. Meski begitu, masih banyak generasi milenial Indonesia yang enggan melakukan investasi. Masih ragu-ragu, gitu.

Tapi namanya manusia, wajar bersikap ragu-ragu. Apalagi ketika dihadapkan dengan satu hal yang baru. Nah, biar kamu nggak ikut-ikutan ragu di tahun yang baru ini, berikut adalah jawaban atas 4 alasan umum mengapa milenial enggan berinvestasi. Siapa tahu momentum tahun baru ini jadi saat yang tepat untukmu mulai berinvestasi. Cuss!

1. Belum tahu manfaat investasi dan merasa cukup dengan nabung aja

Menabung beda dengan investasi (foto: Pixabay) via www.hipwee.com

Nggak dimungkiri, masih banyak yang menganggap menabung dan berinvestasi itu sama. Memang sih, tujuan keduanya adalah menyimpan uang. Tapi sebenarnya dua hal ini berbeda lho. Gampangnya, menabung bertujuan untuk kebutuhan jangka pendek. Misal untuk beli ponsel baru. Sementara berinvestasi merupakan kegiatan menyimpan uang untuk kebutuhan jangka panjang. Tujuannya apa? Ya untuk mendapatkan keuntungan. Misal untuk dana pensiun atau dana pendidikan anak kelak.

Nah, jadi mulai sekarang tanamkan mindset bahwa menabung nggak sama dengan investasi. Keduanya sama-sama penting, tapi alangkah idealnya kalau kamu melakukan keduanya sekaligus. Karena dalam jangka waktu menyimpan uang yang sama, katakanlah lima tahun, uang yang diinvestasikan akan jauh lebih menguntungkan daripada ditabung. Bunga dari investasi lebih tinggi, selain itu juga dapat melawan inflasi.

2. Kurang paham tentang jenis-jenis investasi dan mengira semua investasi itu berisiko tinggi

Menganggap investasi terlalu berisiko (foto: Burak K/Pexels) via www.hipwee.com

Ini alasan yang paling umum. Biasanya kalau dengar kata investasi, hal-hal horor langsung muncul di pikiran. Soalnya banyak dari kita yang merasa investasi itu sangat rumit dan berisiko tinggi. Ya sih, yang namanya investasi pasti ada risiko rugi. Tetapi, untuk investasi pasar uang seperti Reksa Dana itu memiliki risiko rugi yang paling rendah, kok. Cara kerja investasi reksa dana begini: uang yang kamu investasikan akan dikumpulkan oleh Manajer Investasi untuk kemudian diinvestasikan ke instrumen pasar uang seperti Saham, Deposito, dan Obligasi. Sedangkan peluang risiko investasi Reksa Dana adalah jika terjadi penurunan harga dari efek, likuiditas, atau wanprestasi.

Karena risikonya paling rendah, Reksa Dana pasar uang ini cukup populer di kalangan investor pemula. Proses investasi Reksa Dana pasar uang pun sekarang supergampang, misalnya lewat Tokopedia Reksa Dana. Kalau kamu sudah punya akun Tokopedia, cuma perlu waktu dua menit untuk isi formulir pendaftarannya! Setelah disetujui, kamu bisa mulai investasi dengan menggunakan aneka metode pembayaran baik sekali maupun secara rutin, seperti nabung di celengan menggunakan fitur Langganan.

Selanjutnya, cukup pantau pergerakan keuntungan investasi dari satu aplikasi Tokopedia, dan bebas jual beli kapan pun 24 jam. Keuntungannya bahkan bisa sampai 6.5% per tahun tanpa dikenakan pajak, lho. Tokopedia juga menyediakan fitur untuk cek nilai investasi akhir dengan memasukkan nilai investasi awal yang kamu sanggupi, kemudian rentang waktu investasi yang diinginkan. Bisa dikira-kira tuh, berapa keuntungannya~

3. Merasa penghasilan masih pas-pasan dan tahunya investasi itu harus besar

Investasi nggak harus besar (foto: Andrea Piacquadio/Pexels) via www.hipwee.com

Karena kadung berprasangka investasi hanya kepentingan orang berduit banyak, nggak sedikit milenial yang gajinya pas-pasan enggan berinvestasi. Apakah investasi Reksa Dana harus dalam nominal besar? Nggak lah, di Tokopedia kamu bahkan bisa berinvestasi mulai dari Rp10.000,-. Lebih murah dari harga segelas es kopi yang kamu beli setiap hari, bukan?

Lagipula, dalam berinvestasi yang jadi tolok ukur bukan nominal, melainkan kapan kamu memulainya. Percaya atau enggak, kamu yang mulai berinvestasi di usia 18 tahun meski hanya Rp100.000 per bulan, akan mendapat keuntungan lebih banyak di usia 50 tahun dibanding mereka yang mulai investasi di usia 35 tahun meski sebanyak Rp500 ribu per bulan. Jadi penghasilan pas-pasan bukan lagi alasan untuk menunda-nunda investasi, ya. Coba di tahun 2021 ini kurangin nongkrong dan mulai alokasikan duit jajan ke instrumen investasi. Patuh protokol kesehatan sekaligus cuan!

4. Takut rugi atau malah tertipu investasi bodong yang sedang marak

Takut ditipu (foto: Tima Miroshnichenko/Pexels) via www.hipwee.com

Yang satu ini memang bikin trauma, sih. Maraknya investasi bodong bisa bikin kita terjerumus ke jurang kerugian kalau nggak jeli. Wajar kok kalau kamu takut merugi, tapi, kamu bisa menghindarinya, dengan cermat memilih tempat berinvestasi yang terpercaya. Langkah ini juga bisa menyelamatkanmu dari investasi bodong. Perhatikan dan selidiki apakah Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang ditunjuk terpercaya, dan yang terpenting haruslah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kalau dua hal ini terpenuhi, kemungkinan kamu kena tipu nyaris nggak ada.

Nah, syarat sederhana investasi anti tipu-tipu ini dipenuhi Tokopedia Reksa Dana yang bekerja sama dengan Bareksa sebagai APERD, dan menunjuk Syailendra Capital dan Mandiri Manajemen Investasi sebagai Manajer Investasi. Sedangkan untuk setiap transaksi reksa dana akan diawasi oleh OJK. Dijamin aman karena ada aturan hukum resmi yang mengikat. Di Tokopedia Reksa Dana kamu bisa memilih di antara dua produk, yaitu Syailendra Dana Kas untuk reksa dana konvensional dan Mandiri Pasar Uang Syariah Ekstra untuk reksa dana syariah. Keduanya sama-sama reksa dana pasar uang dengan risiko paling rendah.

Bagaimana, udah nggak ragu lagi buat mulai berinvestasi, kan? Cus langsung kunjungi laman Tokopedia Reksa Dana untuk mulai investasi sebagai bagian perencanaan keuangan masa depan.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.