Apa yang ada di pikiranmu setiap mendengar kata Jepang?

Bahasanya? Tempat wisatanya? Budaya Kawaii-nya? Atau malah industri pornografinya? Nggak salah sih kalau kamu jawab yang terakhir. Soalnya Jepang emang terkenal banget sama industri film pornonya yang bisa dibilang fantastis. Coba bayangkan, dalam waktu 1 tahun aja setidaknya ada 20 ribu judul film porno yang dirilis lho. Perputaran angkanya bisa mencapai USD 4,4 miliar atau sekitar Rp5,7 triliun per tahun! Gila, ‘kan?

Nah, popularitas industri pornografi Jepang ini secara otomatis juga dirasakan para “artis”nya. Nama-nama seperti Maria Ozawa, Sora Aoi, Risa Murakami, atau Akiho Yoshizawa udah dikenal di banyak negara dunia. Tapi tahukah kamu kalau di balik itu semua sebenarnya tersimpan fakta pahit tentang cara agensi pornografi Jepang merekrut bintang-bintang “panas”nya? Di sini Hipwee News & Feature bakal mengupas tuntas cerita kelam di baliknya. Yuk simak.

Perusahaan film porno kebanyakan merekrut cewek-cewek random di jalanan dan menawarkan kesempatan buat jadi model atau artis

Menawarkan langsung ke cewek-cewek di jalanan via 13n.com

Lupakan kalau kamu berpikiran cewek-cewek bakal datang langsung ke kantor agensi sambil bawa CV. Terus mereka akan diaudisi kayak variety show di TV. Di Jepang, perusahaan film porno bakal terjun ke lapangan buat mencari langsung cewek-cewek yang mau diajak kerja sama mereka. Mereka biasanya mendatangi jalanan ramai, pusat perbelanjaan, atau tempat-tempat publik lainnya. Jelas aja mereka nggak bilang kalau mereka dari agensi film biru. Agen-agen “gelap” itu menawarkan kesempatan buat jadi model, artis, atau penyanyi. Tentu dengan sejuta kalimat manis, mulai pujian sampai tawaran popularitas.

Mayoritas cewek yang ditawarin umurnya masih 18-25 tahun. Ya, namanya juga masih muda, siapa yang nggak tergiur sama gaji gede?

Sasarannya cewek-cewek umur 20-an awal via www.efe.com

Sebenarnya agen-agen “gelap” itu nggak serta merta memilih cewek yang melintas di depannya sih. Mereka bakal mencari yang muda dan menarik. Tapi uniknya, kalau dari keterangan agen berinisial M seperti dilansir Tokyo Reporter, dia malah mencari cewek yang berpakaian sopan alias nggak terbuka lho. Rata-rata cewek yang direkrut berusia 18-25 tahun. Sebagian bahkan ada yang udah berumah tangga. Masih muda, polos, dan belum stabil finansialnya, siapa coba yang nggak tertarik tiap ditawari gaji gede, popularitas selangit, dan kesempatan muncul di TV? Mereka terhasut sama tawaran bak sales profesional yang menjanjikan karir sukses.

Mereka nggak nyadar, kalau ternyata di balik tawaran menggiurkan itu tersimpan fakta pahit yang bikin mereka malah rugi

Saki Kozai, mantan bintang porno yang berhasil keluar dari jeratan industri pornografi via stillunfold.com

Setelah mengiyakan tawaran itu, mereka bakal disuruh tanda tangan kontrak perjanjian. Biasanya mereka nggak pada paham sama sederet aturan yang mengikat di sana. Nah waktu syuting perdana, barulah sadar kalau ternyata mereka dibayar untuk jadi bintang porno. Di situ mereka seolah nggak punya pilihan lain selain menuruti apa kata produser. Mereka disuruh buka baju dan akting adegan “panas” sama aktor porno lain. Mirisnya, saat mau membatalkan kontrak, mereka dikenai denda super mahal bahkan ada yang diancam videonya bakal disebar!

Ibaratnya sekali terjerumus bakal susah banget buat mereka keluar dari dunia itu. Nggak sedikit yang akhirnya depresi terus bunuh diri

Human Rights Now (HRN), organisasi yang membela korban-korban eksploitasi via www.japantimes.co.jp

Sekali bilang “iya”, ibaratnya sama aja kayak mereka setuju hidup dan masa depan mereka dikontrol sama agensi yang menaungi. Nggak sedikit juga yang diancam bakal nggak bisa cari kerja di tempat lain sekalinya keluar dari dunia pornografi. Soalnya nama mereka terlanjur dicap sebagai bintang porno. Segala fakta miris ini yang bikin banyak dari mereka yang berujung depresi dan akhirnya bunuh diri.

Organisasi Human Rights Now (HRN), seperti dilansir Independent, menyatakan ada wanita berinisial D yang punya masalah dalam menolak setiap tawaran, termasuk menjadi “artis”. Ia sempat menolak perintah produser buat diambil videonya. Tapi si produser bilang kalau ia udah terlanjur dijadwalkan buat syuting film selanjutnya. Sadar kalau D berencana keluar dari profesinya, agensi tersebut malah sengaja menyebarluaskan film D secara masif. D pun berencana menyewa pengacara dan melapornya ke organisasi HAM. Tapi nahas, D yang terlanjur malu akhirnya malah bunuh diri.

Dari fakta di atas jadi bisa disimpulkan kalau cara-cara tersebut sama aja kayak melanggar hak asasi manusia. Belum lagi banyak juga adegan-adegan yang memaksa mereka diperlakukan secara kasar. Meski belum jelas undang-undang yang menaungi, tapi saat ini banyak organisasi pembela HAM yang lagi mendorong pemerintah buat melakukan upaya menghentikan masalah ini. Semoga aja segera ada solusinya deh!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya