Kita semua tahu kalau film horor pasti menyeramkan. Banyak hantu yang wajah mengerikannya pasti masih terngiang-ngiang hingga keesokan harinya. Tapi kenapa setiap ada film horor baru di bioskop, tiketnya selalu cepat habis? Apalagi kalau sutradara atau produsernya udah dikenal lihai menggarap film bergenre horor, kayak James Wan yang turut andil membuat sekuel Insidious dan The Conjuring.

Kalau ternyata sesampainya di rumah malah nggak berani tidur sendirian, logikanya sih kita seharusnya kapok menonton film horor. Ternyata faktanya nggak sesimpel itu guys. Ada penjelasan ilmiah lho kenapa film horor selalu sukses bikin ketagihan meski menakutkan setengah mati. Penasaran? Simak ulasan Hipwee News & Feature ini dulu yuk~

Plot cerita dan gambar film-film horor yang begitu shocking serta jarang ditemui di kehidupan nyata, ternyata mengaktifikan bagian-bagian tertentu otak manusia yang jarang terpakai

Kapan lagi coba melihat penampakan seperti ini… via aminoapps.com

Advertisement

Pantas aja film horor di samping menyeramkan juga menyenangkan. Dilansir CNN, sosiolog Margee Kerr pernah menyatakan dalam penelitiannya, kalau menonton film horor yang penuh adegan mengejutkan, adrenalin kita ikut terpacu jadi menimbulkan efek bernama respons ‘fight-or-flight‘. Hal ini bisa merangsang otak memproduksi hormon dopamine atau hormon yang berperan menciptakan rasa bahagia. Bahkan katanya, perasaan ini mirip kayak yang dirasakan orang jatuh cinta lho!

Studi yang sama juga mengatakan kalau setelah menonton film horor justru orang akan cenderung lebih tenang dan rileks, seperti halnya setelah yoga. Ini karena hampir di setiap ending film horor, tokoh antagonis atau hantunya akan berhasil dikalahkan pemeran protagonis. Dalam studi lain yang dilakukan di University of Westminster, jantung yang terus terpacu saat menonton film horor akan mampu membakar kalori seperti saat sedang olahraga lho. Dalam 90 menit durasi film horor saja kabarnya ada 113 kalori dalam tubuh yang terbakar. Jumlah ini sih nggak pasti ya, tergantung seberapa menyeramkan dan mengejutkannya film itu.

Makanya penyuka film horor dikategorikan memiliki kepribadian tipe T, yakni orang-orang yang suka tantangan alias thrill-seeker

Personality tipe T suka menonton film horor via sites.psu.edu

Memang sih, nggak semua orang di dunia ini suka film horor. Ternyata ini ada hubungannya dengan tipe kepribadian yang dimilikinya lho. Menurut Frank Farley, profesor psikologi dari Temple University di Philadelphia, Amerika Serikat, orang-orang dengan kepribadian tipe T akan cenderung menyukai film-film yang menantang dan memicu adrenalin seperti film horor. Jadi kalau kamu suka banget sama film horor meskipun di dalam bioskop teriaknya paling keras, besar kemungkinan kamu tergolong orang dengan personality type-T. 

Dalam dunia film dan psikologi dikenal adanya istilah neurocinematics. Ilmu ini membahas tuntas mengenai hubungan antara otak manusia dengan film yang ditonton

Reaksi khusus otak kita ketika menonton film horor via kernelmag.dailydot.com

Advertisement

Lebih lanjut lagi, ternyata hubungan antara dunia film dan psikologi bisa dijelaskan lewat istilah neurocinematics lho. Jadi menurut ilmu ini, otak manusia akan memberikan respon berbeda-beda ketika menonton film, mulai dari genre komedi, drama, action, sampai horor. Profesor psikologi, Uri Hasson dari Princeton University, mengungkap istilah ini pertama kali berdasarkan studi fMRI-nya. Menurutnya otak manusia terbagi jadi 5 bagian, yang nantinya akan memberikan respon berbeda-beda:

  1. Frontal Cortex: bagian otak yang merangsang atensi kita
  2. Ventromedial Prefrontal Cortex: yang terlibat dalam pembentukan self-awareness
  3. Amygdala: berkaitan dengan emosi dan memori. Paling aktif saat berhadapan dengan ancaman dan ketakutan
  4. Fusiform Gyri: yang bekerja saat otak berusaha mengenali wajah karakter-karakter dalam film
  5. Insula: bagian otak yang paling aktif saat banyak adegan sedih, empati, tersentuh, dan lain-lain.

Para pembuat film profesional sebenarnya banyak yang memanfaatkan teori tersebut untuk membantu menciptakan film yang bisa laku di pasaran

Kru pembuat film via www.premiumbeat.com

Membuat film bagus dengan rating tinggi tentu tidak mudah. Banyak sekali rangkaian proses yang harus dilalui para pembuat film. Salah satunya riset. Sebelum benar-benar mulai memproduksi film, mereka pasti melakukan riset terlebih dahulu. Sejak ditemukannya neurocinematics di atas, banyak filmmaker yang memanfaatkannya untuk menciptakan film agar bisa laku di pasaran. Dengan melakukan percobaan menggunakan alat functional-MRI, mereka jadi bisa menentukan plot cerita yang merangsang bagian-bagian otak tertentu manusia, menuliskan skrip, membuat karakter atau tokoh, sampai melakukan casting.

Wah ternyata nggak sia-sia ya kita mengantre sepanjang jalan kenangan cuma buat mendapatkan tiket nonton film horor favorit. Ya karena faktanya banyak manfaatnya sih. Tuh, mumpung Insidious 4 masih hangat-hangatnya, mending segera nonton deh. Lumayan, itung-itung olahraga 😀

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya