Dahsyatnya gempa yang menimpa Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah akhir tahun lalu, masih menyisakan duka dan trauma mendalam bagi banyak orang, terutama para korban selamat beserta sanak keluarganya. Apalagi gempa bermagnitudo 7,4 SR ini juga disertai tsunami dan likuifaksi. Akibatnya, ribuan korban dinyatakan meninggal, ribuan lainnya hilang, puluhan ribu luka-luka dan kehilangan tempat tinggal.

Sedemikian kuatnya gempa yang terjadi di Palu dan Donggala, membuat bencana itu baru saja dinyatakan sebagai gempa supershear langka! Penobatan ini berdasarkan hasil dua studi berbeda tentang guncangan 2018, yang dilakukan ilmuwan barat dan terbit di Nature Geoscience, seperti dikutip National Geographic. Jadi, apa sih gempa supershear itu? Mari simak ulasan lengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Dua studi di barat, kompak mengatakan kalau gempa Palu kemarin tergolong gempa supershear dilihat dari kecepatannya tidak biasa, berbeda dari gempa pada umumnya!

Tergolong gempa supershear via www.newscientist.com

Advertisement

Satu faktor yang membuat para ilmuwan yakin gempa Palu kemarin termasuk gempa supershear adalah karena kecepatan rambatnya yang melebihi kecepatan gelombang geser seismik, membuatnya mirip dengan efek ledakan sonik! Makanya, gempa supershear juga kerap disebut sebagai gempa supersonic. Menurut pengamatan ahli, gempa Palu ini bergerak merusak 14 ribu lebih kilometer permukaan bumi dalam waktu 1 jam, atau sekitar 200-an kilometer hanya dalam 1 menit saja!

Para peneliti yang tergabung dalam riset itu, menggunakan citra satelit untuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi saat gempa Palu berlangsung September lalu

Analisis menggunakan citra satelit via assert.pub

Kelompok peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA), menggunakan data teleseismik dan penginderaan jarak jauh untuk menghasilkan pencitraan terperinci dari proses patahan. Dari data yang mereka kumpulkan, tercatat bahwa kecepatan gempa Palu mencapai 4,1 kilometer per detik. Kelompok studi lain dari Université Savoie Mont Blanc di Perancis, menjelaskan lebih detil soal struktur patahan ini. Mereka memetakan patahan utama dan struktur sekunder terkait gempa menggunakan citra satelit. Ternyata jalur patahan itu tidak lurus dan memiliki dua tikungan besar.

Pulau Sulawesi sendiri terletak di tengah “puzzle” lempeng tektonik, dengan persimpangan yang paling aktif adalah sesar palu-Koro. Kondisi fisik sesar ini jadi salah satu faktor penyebab begitu dahsyatnya gempa Palu hingga dinobatkan sebagai gempa supershear.

Tapi meski dinyatakan sebagai gempa supershear, menurut peneliti ‘level’ kecepatan gelombang supershear di Palu masih tergolong rendah

Advertisement

Kebanyakan gempa supershear yang pernah terjadi sebelumnya, ternyata lebih cepat jika dibandingkan dengan gempa Palu kemarin. Gempa-gempa besar itu “meluncur” hampir secepat jenis gelombang gempa lain yang dikenal sebagai ‘gelombang tekanan’ atau ‘pressure wave’. Diperkirakan kecepatannya sekitar 18 ribu kilometer lebih per jamnya. Seorang seismolog di Université Côte d’Azur Perancis, Jean-Paul Ampuero, percaya bahwa perbedaan kecepatan ini dipengaruhi oleh kondisi batuan di sekitar patahan dan zona patahannya sendiri yang ternyata dapat memperlambat kecepatan gelombang.

Lalu, apakah gempa supershear ini bisa terulang kembali di Palu? Sejatinya para seismolog belum bisa memastikan, karena butuh studi lebih lanjut untuk memprediksi secara akurat ukuran getaran. Dan tentu saja, para ahli nggak bisa cuma mengandalkan citra satelit, mereka perlu turun langsung ke lapangan. Tapi setidaknya, dengan studi yang sudah dilakukan ini, identifikasi potensi bencana di masa mendatang bisa dilakukan dengan lebih akurat.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya