Salah satu tolok ukur keberhasilan sebuah aplikasi bisa dilihat dari rating dan review dari penggunanya. Kalau aplikasinya bagus dan fungsional, orang akan memberikan rating tinggi dan mengulasnya di kolom review. Biasanya rating dan review itu akan memengaruhi keputusan orang lain untuk mengunduh aplikasi tersebut. Tapi, gimana jadinya kalau suatu aplikasi diberi rating jelek dan dihina-hina cuma karena kesalahpahaman??

Belum lama ini media sosial dihebohkan dengan aplikasi asal Polandia yang kebetulan namanya sama dengan salah satu fitur di Go-Jek. Yup, Gopay. Aplikasi Gopay Polandia di PlayStore ini dihina habis-habisan sama warganet Indonesia dan diberi rating jelek karena masalah bahasa. Duh, apa susahnya sih membaca keterangannya dulu sebelum download atau kasih review?

Warganet Indonesia ramai-ramai memberikan komentar dan rating jelek untuk aplikasi Gopay dari Polandia, cuma gara-gara bahasa!

Advertisement

Sebuah aplikasi asal Polandia yang kebetulan namanya Gopay, banyak dikira buatan Go-Jek oleh warganet Indonesia. Mereka berbondong-bondong mengunduhnya. Tapi pas mau dipakai, mereka justru kebingungan karena bahasa yang dipakai bukan bahasa Indonesia atau Inggris, melainkan bahasa Polandia. Karena kecewa, para warganet ini memberikan rating jelek dan menghina aplikasi tersebut di kolom review. Yang katanya bahasanya nggak jelas lah, nggak bisa buat bayar Go-Jek lah, dan lainnya.

Padahal aplikasi itu kan memang buatan Polandia dan diperuntukkan bagi orang Polandia, kenapa sih kok nggak pada baca keterangannya dulu sebelum download?

Ngegas dulu baru mikir kemudian via www.hitekno.com

Sekilas dari nama dan warna logo sih memang aplikasi ini mirip sama punya Go-Jek. Apalagi di logonya ada gambar uangnya gitu, makin meyakinkan kalau aplikasi ini memang fungsinya buat pembayaran online. Tapi, adalah sebuah kesalahan kalau melihat dari logo aja langsung memutuskan download tanpa membaca keterangannya dulu.

Screenshot sebagai gambaran aplikasi via www.hipwee.com

Advertisement

Dan lagi kalau di PlayStore kan ada screenshot aplikasi yang bersangkutan, biar calon pengguna ada bayangan gimana wujud aplikasinya sebelum beneran download. Di screenshotnya itu bahasa yang dipakai memang bukan Indonesia atau Inggris. Harusnya kalau teliti, mereka nggak bakal download sih karena udah curiga duluan itu bukan apps buat orang Indonesia.

Sedih sekaligus malu sih, segitu malasnya kah orang Indonesia buat membaca? Berarti data soal rendahnya minat baca di Indonesia itu benar-benar terbukti ya

Minat baca masyarakat masih rendah via merahputih.com

Kasus di atas mungkin bisa jadi bukti kalau orang Indonesia memang malas membaca. Dibanding negara lain, frekuensi membaca orang Indonesia terbilang rendah, hanya 3-4 kali per minggu. Sedangkan rata-rata jumlah buku yang dibaca per tahun cuma 5-9 buku! Ini melansir data dari Perpustakaan Nasional tahun 2017, seperti dikutip CNN. Kenapa hal ini bisa terjadi? Katanya sih di samping jumlah buku memang minim, orang lebih banyak tertarik menjelajah internet.

Mungkin karena malu, akhirnya banyak juga orang Indonesia yang memberi klarifikasi di kolom review dan membalasnya dengan memberikan rating 5.

Tapi lucu juga ya, review kok berasa kolom komentar. Yang kasih bintang 5 ini juga mungkin belum pernah pakai app-nya via www.hipwee.com

Duh, sedih lo, padahal kualitas sumber daya manusia itu erat kaitannya dengan kemampuan literasi. Semoga saja pemerintah atau siapapun bisa mendorong peningkatan daya baca masyarakat Indonesia ya!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya