Di Indonesia, bisa beli kendaraan pribadi apalagi dari hasil jerih payah sendiri memang membanggakan. Apalagi zaman sekarang udah banyak jasa pembiayaan atau kredit kendaraan yang syaratnya nggak neko-neko. Selain itu, banyak orang yang memilih kendaraan pribadi karena memang di negara kita transportasi umumnya masih jauh dari kata nyaman. Ya, orang jadi nggak punya pilihan lain.

Tapi baru-baru ini Presiden Jokowi malah dikritik Bank Dunia karena keukeuh mempertahankan harga BBM sampai 2019 nanti, padahal harga minyak dunia terus melejit. Melihat polemik ini ya sebenarnya masuk akal juga sih kalau harga BBM, mau nggak mau harus dinaikkan, apalagi kalau krisis keuangan global terus meningkat. Soalnya kalau ada gap gini, badan usaha kayak Pertamina dan PLN harus menanggungnya. Bukan nggak mungkin anggaran negara jadi membengkak.

Advertisement

Selain masalah bensin, sebagai pengguna kendaraan, ada baiknya kita hal-hal lain di bawah ini sebelum membeli mobil atau motor pribadi. Simak ulasan Hipwee News & Feature berikut ini.

1. Harga bensin itu bakal susah banget dipertahankan di angka yang sama karena harga minyak dunia terus naik turun. Kalau ngotot pengen murah terus, pemerintah pasti tekor~

Harga bensin murah karena subsidi via www.situsbelajaronline.com

Jangan dulu keburu senang dengan harga bensin di Indonesia yang relatif murah, khususnya premium atau pertalite. Karena kalau harga minyak dunia terus melejit, cepat atau lambat harga BBM juga akan ikut naik. Pemerintah nggak bisa terus-terusan mempertahankan harga BBM di satu nominal aja. Soalnya itu bisa membuat anggaran negara bengkak, dan badan usaha di sektor terkait harus menanggung beban gap.

2. Padahal nggak semua kendaraan bakal cocok diisi BBM murah. Kalau terus-terusan diisi premium atau pertalite ya malah cepat rusak

Malas isi yang lebih mahal via www.otonusa.com

Di Indonesia jumlah orang yang bisa beli mobil mahal nggak terhitung jumlahnya. Tapi sayang, belum semua paham kalau mobil ratusan juta mereka harus diisi pertamax atau pertamax plus. Dengan alasan biar hemat, banyak yang mesih memilih BBM subsidi. Padahal kendaraan yang sudah berteknologi tinggi, perlu bahan bakar yang bisa memaksimalkan fungsi mesinnya. Kalau diisi yang murah, ya jangan kaget kalau jadi cepat rusak.

3. Kalau di luar negeri, kendaraan tuh ada umurnya lho. Kalau udah mencapai batas, ya harus dimusnahkan

Mobil rongsokan via www.balimaning.com

Advertisement

Di beberapa negara maju, kendaraan bermotor itu punya batas umur tertentu lho. Saat dirasa sudah cukup tua, mobil-mobil itu harus dimusnahkan atau dihancurkan demi mengurangi volume kendaraan di jalan raya. Lain halnya kayak di Indonesia, kendaraan-kendaraan lawas masih bebas berkeliaran. Macet pun tak terhindarkan.

4. Belum lagi banyak orang yang punya kendaraan mahal tapi nggak mampu bayar pajak, jadinya nunggak terus

Nunggak pajak via news.okezone.com

Selain biaya perawatan kendaraan yang mahal, para pengendara juga terbebani pajak yang nggak murah. Melihat tingkat perekonomian masyarakat Indonesia yang masih rendah, banyak orang yang nggak bisa bayar pajak tiap tahunnya. Sedangkan untuk membeli kendaraan, mereka pakai sistem kredit. Belum lagi masalah korupsi di Indonesia yang mendarah daging. Duit pajak sejatinya bisa buat memperbaiki infrastruktur negara seperti membangun transportasi umum, tidak pernah tepat sasaran.

5. Di Indonesia sih mau punya garasi atau nggak ya tetap boleh-boleh aja beli mobil. Alhasil banyak mobil parkir sampai bahu jalan

Parkir di bahu jalan via lampung.tribunnews.com

Tahun lalu sempat ada rumor yang mengatakan kalau mau punya mobil harus menunjukkan surat keterangan memiliki garasi di rumahnya. Tapi entah gimana, aturan itu belum ada realisasinya hingga sekarang. Padahal garasi di dalam rumah itu penting adanya. Soalnya kebanyakan masyarakat Indonesia yang nggak punya garasi malah memakai bahu jalan buat parkir. Padahal itu harusnya bukan hak mereka, melainkan hak pengendara jalanan. Kalau jalan makin sempit dan menimbulkan macet, ya itu udah jadi risiko.

6. Nggak cuma mobil, sepeda motor pun yang kelihatannya efisien tetap bisa menimbulkan kerugian seperti kemacetan. Apalagi kalau jumlahnya terus bertambah, tapi jalan raya nggak ditambah

Siapa coba yang harus bayar kalau jalan butuh dilebarin terus karena motor tambah banyak? via otomotif.kompas.com

Sebagian orang menganggap mobil terlalu mahal untuk dimiliki serta bisa menimbulkan macet yang lebih parah. Anggapan itu membuat mereka beralih ke sepeda motor. Padahal ya sama aja, meskipun kelihatannya efisien sepeda motor tetap bisa menimbulkan kemacetan kalau jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya. Padahal di zaman sekarang sulit untuk memperluas kondisi jalan yang sudah ada, terlebih di kota-kota besar yang kanan kirinya udah dipenuhi gedung-gedung bertingkat.

Itulah dilema berat yang kita hadapi sebagai orang Indonesia. Dengan tidak adanya sistem transportasi publik yang layak, nyaman, dan merata, masyarakat akhirnya banyak yang memilih membeli kendaraan pribadi. Pemerintah akhirnya berusaha mengakomodasi banyaknya pemilik kendaraan pribadi yang butuh bahan bakar murah dan sistem kredit yang mudah. Tapi bahaya laten dari praktik itu ternyata juga cukup besar lho. Selain pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM terus membengkak, kita juga harus dihadapkan dengan berbagai dampak negatif dari mudahnya memiliki kendaraan pribadi di negeri ini. Dari kemacetan yang semakin melumpuhkan produktivitas warga, sampai polusi udara yang makin mencekik. Semoga kita segera punya solusi yang lebih baik ya…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya