Media sosial seperti Twitter atau Instagram memang dibuat sebagai tempat di mana semua orang bisa berbagi cerita. Nggak perlu juga jadi ahli dulu buat bisa bikin konten tentang sesuatu. Mau bikin thread soal editing foto tinggal bikin aja berdasarkan pengalaman, nggak harus ambil kursus dulu. Atau misalnya mau mempromosikan gaya hidup sehat, tinggal unggah foto-foto makanan (yang kelihatannya) menyehatkan, dan merekam aktivitas saat lagi olahraga beserta tips-tipsnya, nggak perlu jadi ahli nutrisi dulu.

Masalahnya, nggak semua yang diunggah orang-orang ini benar secara teori dan tidak semua orang sadar akan hal itu. Kalau sekadar tips yang nggak membahayakan kayak edit foto tadi sih mungkin nggak masalah, tapi kalau udah menyangkut kesehatan, jelas nggak bisa dibiarkan. Apalagi yang sampai bikin orang terobsesi pengin kurus gara-gara lihat selebgram menerapkan pola makan keliru. Ada lo yang sampai mengidap anoreksia dan makin diperparah dengan konten-konten ngawur itu.

Jodie-Leigh Neil, mantan pengidap anoreksia yang menganggap Instagram turut andil dalam memperparah penyakitnya itu lewat foto-foto tubuh orang yang super kurus

Advertisement

Jodie sempat bergelut dengan anoreksia selama 3 tahun lamanya. Waktu itu, ia cuma mengonsumsi 20 kalori per hari agar jadi sekurus mungkin. Meski Instagram nggak secara langsung menyebabkan Jodie mengidap anoreksia, tapi dikatakannya dalam BBC, kalau media sosial ini membantunya memperparah penyakit itu. Jodie bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya buat scrolling feeds orang-orang pengidap anoreksia juga. Ini terus memengaruhi pikirannya untuk membuat tubuhnya lebih kurus lagi. Para penderita anoreksia ini saling mendukung untuk tidak makan dan memamerkan tulang-tulang yang tampak dari tubuhnya. Menurut mereka, itu adalah pencapaian!

Penelitian yang sudah pernah dilakukan pun membuktikan kalau wanita yang menghabiskan waktu ‘berselancar’ di media sosial selama 2 jam dalam sehari, akan terobsesi menjadi lebih kurus atau lebih cantik

Realita sempurna yang “terbungkus” dalam dunia media sosial via foreverymom.com

National Eating Disorder Association pernah melakukan sebuah penelitian. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa perempuan Amerika yang berusia 18-25 tahun dan menghabiskan waktu bermain media sosial, minimal 2 jam/hari, akan terobsesi untuk menjadi sempurna. Di Instagram misalnya, orang berlomba-lomba untuk menunjukkan potret paling sempurna dalam dirinya. Padahal kebanyakan, realitanya justru berbeda. Tapi, orang lain tahunya ya cuma yang tampak di media sosial aja. Hmm, pengaruh media sosial terhadap psikologi seseorang memang nyata adanya lo, Guys.

Instagram sendiri menyatakan nggak pernah mendukung konten-konten yang mempromosikan gaya hidup nggak sehat, seperti anoreksia tadi

Instagram sendiri berharap bisa menghapus konten-konten semacam ini via www.dailydot.com

Pendiri Instagram mungkin memang nggak pernah kepikiran sebelumnya kalau platform yang dibuat bisa dimanfaatkan orang buat menyebarkan paham nggak benar, termasuk soal gaya hidup nggak sehat itu. Dalam pernyataannya yang dikutip BBC, Instagram menyatakan:

Advertisement

“We do not and have never allowed content that encourages or promotes eating disorders and will remove it as soon as we are made aware of it.”

Memang sudah jadi kewajiban Instagram buat membersihkan platformnya dari dorongan-dorongan menerapkan gaya hidup nggak sehat. Mungkin bisa dimulai dari menghapus semua konten yang diimbuhi hashtag tertentu, seperti #anorexia dan yang lain. Biar orang nggak lagi mudah menemukannya.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya