Masih hangat beredarnya video Hanna Annisa, video mesum yang melibatkan bocah SD, sampai rumor soal video mesum kontestan ajang pencarian bakat. Kini publik kembali digegerkan dengan video seorang bocah lelaki SMP dan siswi SMK di Semarang yang tersebar melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp, sebagaimana dilaporkan Kompas disini. Berita ini pun dan menjadi keresahan tersendiri bagi publik. Pasalnya kini dilakukan oleh dua pelajar yang sama-sama masih berusia di bawah umur.

Makin kesini, makin banyak saja rekaman mesum yang akhirnya tersebar dan menjadi viral. Tidak sedikit juga video-video tersebut hasil rekaman pribadi dari pasangan yang sedang berhubungan intim. Namun kenapa atau bagaimana dapat berakhir di dunia maya. Mungkin sebagian besar orang bakal heran dan bertanya, ‘Lah ngapain juga sih di video-videoin segala?‘  Ternyata menurut Medical Daily, fenomena ini sebenarnya cukup sering terjadi dan bahkan telah banyak diteliti secara ilmiah. Kira-kira apa aja ya alasannya pasangan merasa terdorong merekam proses hubungan intim mereka meskipun tahu ada risiko untuk tersebar?! Yuk simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

1. Menonton kembali video rekaman sendiri adalah stimulasi visual untuk melakukan hubungan seksual

Untuk konsumsi pribadi via www.nusabali.com

Advertisement

Beberapa orang yang memutuskan untuk merekam kegiatan seksual mereka, menginginkan agar di kemudain hari bisa melihatnya kembali. Menonton kembali rekaman sendiri berbeda dengan menonton video porno yang dilakukan orang lain. Menonton rekaman sendiri merupakan stimulasi visual dari kegiatan intim yang pernah dilakukan, hal ini membuat mereka merasa menyimpang dan berada di luar batas. Namun, semakin menyimpang dan berbahaya suatu kegiatan seksual justru makin disukai. Munculnya stimulasi visual inilah yang memicu sebuah ide untuk merekam kegiatan intim.

2. Terbiasa dengan menonton video porno juga mempengaruhi motivasi pasangan untuk merekam kegiatan mereka sendiri

Banjirnya video porno di internet memicu orang menirukannya via www.linkedin.com

Sementara pornografi saat ini menjadi industri yang semakin profesional dan melibatkan banyak sekali perputaran uang di dalamnya, makin banyak pula orang yang mengonsumsinya. Kebiasaan ini memicu mereka untuk melakukan hal serupa, namun kali ini diperankan oleh dirinya sendiri bersama pasangan. Merekam kegiatan intim yang dilakukan sendiri disebut memiliki sensasi yang berbeda dengan hanya sekedar menonton video porno yang direkam secara profesional. Mereka merasa masuk di dalam sebuah ‘film’ yang diperankan oleh mereka sendiri.

Lagi pula, kita sudah berada di sebuah masa di mana teknologi kamera hampir dimiliki semua orang di ponselnya. Semua orang mampu menyusun konten visual mereka secara individual tanpa perlu bekal kemampuan broadcast yang mumpuni. Oleh sebab itu, makin kesini justru makin banyak pasangan yang merekam kegiatan privat mereka.

Advertisement

“Dengan makin populernya pornografi, banyak pasangan yang seolah berminat untuk menjadi bintang porno di dalam rumah mereka sendiri” Kelly Chisholm, seorang seks terapis.

3. Dipicu oleh selebriti yang membuat rekaman video hubungan intim mereka, kemudian makin banyak orang yang secara tidak sadar menirukan

Awalnya ingin disimpan, berujung jadi konsumsi publik via www.merdeka.com

Kita tentu ingat dengan kasus video porno sejumlah artis tanah air yang bikin heboh beberapa tahun lalu. Misalnya saja kasus Ariel Peterpan yang ketika itu menjadi sangat gencar dan jadi buah bibir publik. Bocornya sex tape milik Ariel degan sejumlah artis wanita ke dunia maya jadi awal mula kelahiran sex tape atau rekaman video seksual di Indonesia. Nggak hanya di Indonesia, Amerika juga mengalami hal serupa. Kim Kardashian dan Pamela Anderson adalah beberapa artis yang ‘hobi’ mengoleksi rekaman kegiatan intim mereka sendiri dan kemudian tersebar di publik.

Tersebarnya video-video selebritis tersebut kemudian jadi objek menarik yang banyak ditonton, dan bahkan menginspirasi banyak orang untuk merekam kegiatan ranjangnya meski dengan berbagai resiko yang tidak diinginkan. Dengan menyimpan sebuah rekaman kegiatan ranjang, tidak menutup kemungkinan suatu saat rekaman kegiatan privat ini juga jadi objek bagi publik secara luas.

4. Hobi merekam kegiatan seksual sendiri bisa jadi merupakan kelainan psikologis. Mulai dari indikasi paraphilic disorder sampai exhibitionism

Merekam kegiatan ranjang via www.shutterstock.com

Menikmati rekaman sendiri daat melakukan hubungan sosial bisa masuk indikasi kelainan paraphilic/paraphilia. Kelainan ini adalah kelainan seksual psikologis yang tertarik pada objek seksual diluar genital, namun biasanya orang yang sudah benar-benar memiliki kelainan ini cenderung akan menyakiti atau mengancam objek seksualnya demi kepuasan pribadi. Sedangkan jika seseorang merekam kegiatan seksualnya lalu berniat menyebarkannya bisa jadi ia merupakan exhibitionism atau ekshibisionis yang bangga membeberkan kegiatan privat ke ranah publik.

Tapi nggak menutup kemungkinan orang yang merekam kegiatan seksual mereka justru hanya ingin rekaman ini jadi konsumsi pribadi dan disimpan sendiri dan ditonton demi kepuasan mereka sendiri. Seperti dilansir melalui Telegraph, keadaan seperti ini adalah kondisi narsisme psikologis yang menyukai bagaimana seseorang menyaksikan dirinya sendiri tanpa intensi untuk disebarkan pada orang lain.

Memiliki sex tape bisa jadi serupa fenomena gunung es. Tanpa kita sadari banyak orang yang memiliki hasrat untuk melakukan kegiatan serupa. Namun, merekam kegiatan seksual punya efek samping yang begitu besar ke depannya. Kita nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi dalam sebuah hubungan, yang pasti ada pertengkaran dan beda pendapat dengan pasangan. Dalam kondisi marah, apa saja bisa diperbuat seseorang termasuk menyebarkan rekaman kegiatan seksualnya dengan pasangan dalam bentuk balas dendam. Terlebih lagi jika hubungan seksual yang dilakukan di luar pernikahan yang sah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya