Mendobrak Stigma Soal Standar Kecantikan ala Ayu Gani

Cantik ala Ayu Gani

Perempuan Indonesia telah lama dikotak-kotakkan sesuai standar yang dibangun berdasarkan konstruksi sosial. Bahwa perempuan cantik harus putih, tinggi semampai, dan berambut hitam panjang adalah standar lama yang jelas hanya didasarkan pada preferensi atau selera sebagian orang saja.

Banyak tokoh terkenal yang berani mendobrak hal tersebut, dan membuktikan bahwa mereka tetap cantik meskipun tidak mengikuti standar yang disepakati banyak orang. Sebut saja Oprah Winfrey yang cantik bukan karena fisik semata tetapi juga karena kemampuan dan kecerdasannya, atau Ayu Gani yang mendobrak standar lama untuk menciptakan versinya sendiri hingga diakui sebagai simbol kecantikan yang berbeda.

Berikut adalah beberapa sudut pandang Ayu Gani mengenai kecantikan yang barangkali bisa menginspirasi.

Stigma yang salah soal cantik adalah berambut hitam panjang

Dalam sebuah perbincangan bersama Luna Maya, Ayu Gani yang berkarier sebagai model mendefinisikan cantik dengan tidak merujuk kepada penampilan fisik. Bagi Gani, cantik adalah tentang bagaimana seorang perempuan menjadi dirinya sendiri dan dengan tulus menerima kelebihan dan kekurangan yang ada.

Gani yang sekarang berambut pendek membuktikan kalau cantik harus berambut hitam panjang adalah pernyataan yang salah. Sebab ia mengaku, dengan rambut pendek saat ini ia malah menemukan soft look yang nggak pernah ia rasakan saat berambut panjang. Ini alasan mengapa cantik bagi Gani adalah tentang bagaimana seorang perempuan menjadi dirinya sendiri.

“Selama ini aku menang Asia’s Next Top Model, jadi ikon Jakarta Fashion Week (dengan rambut panjang) tapi deep inside my heart i feel so insecure karena aku nggak menemukan soft look,” kata Gani

Konstruksi soal standar kecantikan bikin kamu nggak bebas menggapai cita-cita dan menggali potensi

Rambut yang hitam panjang adalah salah satu standar kecantikan. Dan Gani dengan rambut pendek berwarnanya kini jadi semacam simbol perlawanan, setidaknya terhadap dunia modeling Tanah Air, yang kata Gani masih cenderung mensyaratkan rambut hitam dan panjang bagi para model yang ingin terlibat sebuah show.

Gani mengatakan, pada saat ia memiliki rambut panjang saja standar kecantikan telah menghalanginya untuk mengeksplorasi kemampuan diri. Ia mengaku nggak pernah mendapat kesempatan untuk memperagakan baju kebaya, dengan alasan rambutnya tidak cukup panjang untuk bisa dikonde.

Tapi kebebasan yang jadi terbatas hanya karena standar kecantikan, kata Gani nggak cuma terjadi di dunia modeling. Ia mengisahkan ulang cerita salah seorang pengikut media sosialnya yang memutuskan untuk tidak jadi melamar pekerjaan lantaran rambut bob yang ia miliki nggak memenuhi persyaratan untuk bekerja sebagai perawat.

“Terus ada juga yang cerita mau kerja kantoran. Tapi kemudian nggak bisa karena rambutnya berwarna,” lanjut Gani.

Semua perempuan punya kesempatan yang sama apapun pilihan penampilannya

Karena cantik bukan hanya soal penampilan fisik, maka semua perempuan sejatinya punya kesempatan yang sama untuk menjadi apapun terlepas dari pilihan penampilannya. Seperti Gani yang tetap berkarier di dunia modeling meski rambut panjang sudah tidak lagi ia miliki. Menurutnya, sudah saatnya bagi kita menyadari fakta bahwa manusia terlahir berbeda dengan keunikan jati dirinya masing-masing.

Dalam dunia modeling, misalnya, Gani berpandangan bukan lagi eranya model itu harus putih, langsing dan berambut hitam panjang. Karena jika didefinisikan, modeling adalah pekerjaan di mana seseorang harus create a look agar orang lain tertarik untuk membeli busana yang diperagakan.

Maka untuk itu, dunia modeling dan industri lainnya sudah selayaknya membuka diri terhadap perbedaan. Karena jika model harus selalu langsing, maka pemilik badan curvy di luar sana tentu akan kebingungan ketika menyaksikan peragaan busana yang jelas bukan untuk dirinya.

Ayu Gani buktikan bahwa semua perempuan bisa cantik dengan #RambutTanpaBatas apapun gaya rambutnya

Ayu Gani dengan rambut pendeknya adalah penegasan kalau perempuan bisa tampil cantik terlepas dari pilihan gaya rambutnya. Sebab yang berhak mendefinisikan cantik adalah diri sendiri bukan orang lain, maka seperti kata Gani menerima diri sendiri adalah salah satu hal yang bisa diupayakan untuk menjadi cantik, bukan terus-terusan memenuhi standar kecantikan.

“Nggak perlu mengorbankan rasa nyaman karena kamu dituntut untuk mengikuti beauty standart. Kamu semua cantik dan punya kesempatan yang sama apapun (gaya) rambutnya. Self expression and loving yourself is number one,” kata Gani.

Tapi meski begitu, sikap menerima diri sendiri bukan berarti bodo amat terhadap segala hal. Gani menegaskan sikap accept ini harus dibarengi dengan praktik self-care. Contohnya, ketika memiliki rambut pendek bukan lantas lepas tangan tidak melakukan perawatan rutin, karena permasalahan rambut juga bisa timbul terlepas pilihan gaya rambutmu.

“Ketika sudah menerima tubuh kita, harus banget untuk merawatnya. Yang namanya accept harus dibarengi love dan care,” lanjutnya.

Nah, itu dia beberapa hal dari sudut pandang Ayu Gani mengenai kecantikan, stigma, dan bagaimana perempuan dapat terbebas dari tuntutan memenuhi standar kecantikan jika berupaya menjadi diri sendiri, menerima diri berikut kelebihan dan kekurangan serta merawat diri sepenuh hati.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor

I know I glow up