Anak berpotensi psikopat

Kisah kematian tragis seorang guru muda di Sampang, Madura, baru-baru ini menyita perhatian seantero Indonesia. Pasalnya guru muda itu meninggal karena dianiaya dan dipukul salah satu muridnya sendiri, yang juga seorang aktivis, saat jam sekolah. Sebagaimana Kompas menjelaskan kronologi kejadian ini, alasannya pun sebenarnya sekilas sepele yaitu hanya karena sang murid tidak diterima ditegur di kelas. Mengamati kejadian mengerikan seperti ini, pastinya banyak diantara kita yang bertanya-tanya kok bisa ya anak semuda itu sampai berperilaku sangat brutal? Bahkan setelah foto pelaku tersebar, tidak sedikit netizen yang berkomentar mukanya yang tanpa ekspresi mirip psikopat.

Terlepas dari kasus itu, tanda-tanda psikopat di anak usia muda memang sudah lama jadi bahan penelitian ilmiah. Bahkan ada teori terkenal disebut ‘Macdonald Triad’, seperti diulas Brightside, menjelaskan tiga ciri utama yang paling banyak ditemukan di anak-anak yang di kemudian hari memiliki kecenderungan melakukan kekerasan, kriminalitas, atau menjadi psikopat. Jika dapat dideteksi dari dini, banyak peneliti berkeyakinan anak-anak yang memiliki kecenderungan ini masih dapat direhabilitasi. Apa aja sih tanda-tandanya?! Yuk kenali bareng Hipwee News & Feature!

1. Memang kedengarannya rada nggak nyambung, tapi ternyata anak yang suka ngompol di malam hari punya kemungkinan bakal bertindak ‘liar’ di kemudian hari lho. Eits, jangan buru-buru protes, sampai kamu baca tanda kedua dan ketiga

Enuresis via www.udaipurpost.com

Advertisement

Enuresis, adalah istilah medis yang dipakai untuk menyebut kebiasaan ngompol pada anak di malam hari. Anak-anak dengan enuresis nggak mampu menahan kencingnya sendiri sehingga sering mengompol. Bagi mereka yang sudah beranjak besar, enuresis bisa menimbulkan rasa malu tersendiri. Soalnya memang ngompol identik sama bayi. Nah, anak-anak yang diledek karena masih suka ngompol padahal sudah bersekolah ini kemudian merasa dianggap lemah. Ada memang yang cuek saja, tapi ada yang malu atau marah dan melampiaskannya ke hal lain. Ini yang bahaya.

2. Karena malu tadi, tak sedikit anak yang berusaha menunjukkan dia nggak lemah dan punya “kuasa” dengan melakukan kekerasan pada binatang

Melakukan kekerasan pada binatang via brightside.me

Kita semua tahu kalau binatang itu seringnya nggak berdaya, apalagi binatang rumahan kayak kucing atau anjing. Ketika mereka diperlakukan buruk oleh majikannya, paling mereka akan lari menghindar. Keadaan ini sering dimanfaatkan anak-anak yang merasa malu dan marah karena enuresisnya. Ia melampiaskan dengan melakukan kekerasan pada hewan di sekitarnya. Bahkan nggak segan-segan membunuh. Ini tujuannya untuk membuktikan kalau mereka nggak selemah yang orang pikir. Lihat saja foto masa kecil pembunuh berantai Amerika Serikat bernama  Jeffrey Dahmer di atas. Kecenderungan suka menyiksa hewan menjadi salah satu tanda utama yang seringkali ditemukan di pembunuh berantai atau psikopat lainnya.

3. Selain itu ia juga jadi sulit menahan emosi, temperamen gitu. Kemarahannya ini kerap dituangkan dengan melakukan hal-hal merusak, kayak membakar, menendang, atau memukul sesuatu

Nggak sedikit anak-anak yang justru dimarahin kalau masih suka ngompol, padahal sudah besar. Kebiasaan ortunya itu justru akan “direkam” oleh sang anak dan memengaruhi kepribadiannya di masa depan. Ia akan mudah menggunakan emosi saat sesuatu yang nggak diinginkan terjadi. Ya, apa-apa diselesaikan pakai amarah gitu. Mulai dari membentak, sampai melakukan perusakan kayak membakar, menendang, atau memukul benda-benda. Terutama hobi untuk membakar barang-barang, menurut Macdonald Triad, adalah indikasi kuat dari calon psikopat.

4. Di luar Macdonald Triad, banyak juga penelitian lain. Karena minimnya rasa empati, si anak juga nggak punya perasaan menyesal, sekalipun ia tahu kalau tindakannya salah

Nggak punya perasaan menyesal via womanitely.com

Advertisement

Anak yang tumbuh tanpa rasa empati ya nggak akan peduli mau dia salah sekalipun. Penyesalan tak akan pernah muncul dalam hatinya. Tanpa perasaan menyesal, otomatis ia akan terus mewajarkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Nggak ada rasa takut untuk mengulanginya. Padahal ya normalnya anak bakal takut ketika dia tahu dia salah, seperti berbohong misalnya. Tapi lain halnya dengan anak-anak yang punya kecenderungan jadi psikopat.

5. Tanpa rasa empati, jangan juga berharap ia akan punya perasaan sensitif. Nggak peduli gimanapun sedihnya keadaan di sekitarnya, ia nggak akan punya belas kasihan

Nggak peduli dengan sekitar via acculturated.com

Sekeras apapun anak, selama nggak punya kecenderungan psikopat, dia akan memiliki perasaan sensitif. Entah ikut menangis ketika tahu ada adegan sedih, merasa takut kalau ada bahaya, dan lain-lain. Perasaan insensitif inilah yang turut mendorong ia bisa melakukan hal-hal di luar nalar, kayak menyiksa, merusak, atau berontak. Tapi ini juga bisa banget dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya sih, terutama keluarga sebagai lingkungan terdekat. Kalau  dia dibesarkan di tengah keluarga keras, ya selamanya dia akan menganggap langkah tersebut sah-sah saja dilakukan.

6. Tanda-tanda di atas juga bisa mendukung perlakuan bullying atau perundungan yang sering dilampiaskan ke teman-teman di lingkungannya

Perundungan atau bullying via aceofgeeks.net

Sikap temperamen, minim rasa empati dan sensitif, jelas bakal memengaruhi anak dalam berinteraksi dengan lingkungan, termasuk teman-temannya. Perundungan adalah salah satu perlakuan buruk yang bisa dilakukan anak-anak dengan sikap seperti di atas. Alasannya beragam, seperti mencari perhatian, pengakuan, ingin terlihat seperti ortu mereka yang juga sering bertindak keras, dan lainnya. Sehingga dengan melihat orang lain tertindas, akan memunculkan kepuasan tersendiri.

7. Terakhir, anak dengan tanda psikopat akan cenderung melawan aturan. Justru dengan begitu mereka bisa puas

Melawan aturan via www.istockphoto.com

Iya, mereka akan merasa melakukan hal-hal tercela itu biasa aja, misalnya mencuri. Mereka justru senang ketika adrenalinnya terpacu. Terutama saat berkejaran dengan waktu agar nggak ketahuan saat mencuri. Mereka akan terus mengulangi tanpa ada rasa bersalah.

Meski tanda-tanda di atas terpampang nyata, nggak seharusnya kita serta merta menghakimi seorang anak sebagai psikopat. Karena biar gimanapun psikopat itu adalah kondisi yang dialami orang dewasa. Anak-anak cuma menunjukkan tanda-tanda. Dan ‘gejala’ itu sebenarnya bisa disembuhkan, seperti dilansir Businessinsider. Caranya adalah dengan memberikan kasih sayang dan lingkungan yang nyaman untuk anak-anak tersebut tumbuh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya