Hampir di setiap negara dunia, sampah plastik jadi masalah pelik yang seolah tak pernah ada habisnya. Kampanye-kampanye yang mendorong orang buat mengurangi sampah plastik, hingga aturan yang menerapkan plastik berbayar, belum juga cukup mengatasi masalah satu ini. Tak seperti sampah makanan, plastik sulit terurai dan membusuk, membakarnya pun nggak bisa jadi solusi karena hanya akan menambah masalah baru lewat asap yang dihasilkan.

Baru-baru ini ada laporan investigasi The New York Times yang cukup menghebohkan masyarakat. Media internasional asal Amerika Serikat itu mengungkap sisi gelap pabrik tahu di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur, yang ternyata menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakarnya. Yang lebih mengejutkan, pabrik itu ternyata sudah beroperasi selama puluhan tahun! Duh, miris banget, berarti penduduk desa setempat sudah terpapar asap beracun itu sejak dahulu kala. Tahu-tahunya pun kemungkinan juga terkontaminasi plastik yang mereka pakai…

Fakta yang sudah terjadi selama puluhan tahun ini awalnya terungkap setelah media internasional The New York Times membongkarnya pada pertengahan November ini

Seorang pegawai pabrik tengah menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar via www.nytimes.com

Advertisement

Laporan pemberitaan The New York Times menyebutkan adanya aktivitas sejumlah pabrik tahu di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur yang menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakarnya. Sampah-sampah plastik itu datang dari Amerika Serikat, setelah sebelumnya didaur ulang terlebih dahulu. Baru setelahnya, limbah plastik dikirim ke berbagai negara, salah satunya Indonesia. Namun, di Tropodo, limbah-limbah kiriman ini justru disulap menjadi bahan pembakar tungku untuk mengolah tahu yang akan diedarkan ke berbagai penjuru daerah.

Berdasarkan keterangan seorang supir truk bernama Fadil yang menjadi salah satu penyalur limbah bagi para produsen tahu, ia melakukan hal tersebut sejak 20 tahun ke belakang. Artinya, selama itu pula para pemilik pabrik tahu menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar utama mereka.

Mirisnya, selama bertahun-tahun ini kita sebagai masyarakat Indonesia sendiri hampir tak pernah meributkan kasus tersebut. Alih-alih memberitakannya, hal tersebut bahkan baru heboh setelah dilaporkan oleh media internasional.

Jumlah pabriknya pun nggak cuma segelintir, semuanya “kompak” menggunakan limbah plastik yang begitu berbahaya. Asap buangannya bisa memicu berbagai penyakit seperti kanker, cacat lahir, dan Parkinson

Lebih dari 30 pabrik melakukan aktivitas terlarang itu via www.nytimes.com

Advertisement

Sebanyak lebih dari 30 pabrik yang beroperasi di Tropodo dikabarkan menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakarnya. Tahu-tahu yang dihasilkan bisa jadi terkontaminasi limbah plastik yang mereka gunakan untuk memasak. Padahal, daerah Tropodo sendiri merupakan salah satu kawasan yang memang terkenal sebagai sentra pembuatan tahu terbesar di Indonesia.

Asap mengepul dari kegiatan yang dilakukan sejak pagi hingga malam hari setiap harinya juga berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Desa Tropodo sendiri dihuni sekitar 5.000 lebih penduduk. Setiap harinya mereka harus menghirup asap-asap hitam buangan pabrik tahu yang memiliki level dioksin tinggi. Kadar zat berbahaya lain juga nggak kalah ekstrem. Dampaknya bisa memicu kanker, cacat lahir, hingga Parkinson.

Kasus ini terjadi lantaran tidak adanya peraturan yang serius untuk meregulasi hal tersebut, bahkan sampah dari Amerika ini bukan yang pertama kali lo!

Indonesia sudah beberapa kali kedatangan ‘sampah impor’ via www.nytimes.com

Dua puluh tahun tentunya bukan merupakan waktu yang singkat. Hal tersebut menunjukkan bagaimana lemahnya sistem hukum yang ada di Indonesia. Tidak adanya aturan yang jelas untuk memberi regulasi terhadap hal semacam ini membuat oknum-oknum nakal dapat beraktivitas secara leluasa.

Lebih menyedihkannya lagi, kasus impor sampah dari Amerika ini bukan yang pertama kalinya terjadi lo. Beberapa waktu sebelumnya, negara-negara Eropa dan Australia juga tercatat pernah mengimpor sampah ke Indonesia. Menurut laporan The Economist ini karena Cina –sebagai pengolah limbah plastik terbesar di dunia– menghentikan impor sampah ke negara mereka. Jadi negara-negara barat mencari ‘sasaran’ baru untuk mengirim sampah-sampahnya.

Sebagai masyarakat, kita harus peka terhadap hal-hal seperti ini. Terlebih tahu adalah salah satu makanan favorit yang banyak dikonsumsi. Niatnya makan tahu biar sehat, kalau seperti ini caranya kan justru mengkhawatirkan. Kasus ini seharusnya juga dapat menjadi pukulan telak untuk pemerintah setempat agar membuat regulasi yang lebih ketat kepada proses pembuatan pangan di Indonesia.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya