Sebelum membahas lebih lanjut soal nikah muda, perlu ditegaskan dulu bahwa menikah muda ini berbeda dengan pernikahan anak. Pernikahan anak dilakukan oleh mereka yang masih berusia di bawah 18 tahun –sesuai batas minimal menikah dalam UU Perkawinan. Sedangkan pernikahan muda, masuk di rentang usia 19-24 tahun –sesuai kategori pemuda di Indonesia yang dibatasi sampai 30 tahun.

Menikah muda sendiri banyak sekali jadi pembahasan akhir-akhir ini, apalagi semenjak maraknya akun-akun Instagram yang mempromosikan betapa indahnya menikah muda. Tapi pada kenyataannya justru sebaliknya, banyak penelitian yang menghubungkan angka pernikahan muda dengan tingkat perceraian, dimana menikah muda justru memicu angka perceraian yang lebih tinggi.

Bagi sebagian orang, menikah mungkin jadi suatu tujuan terbesar yang kalau bisa tercapai, ada kebanggaan tersendiri. Tapi ingat, menikah di usia terlalu muda katanya malah meningkatkan risiko bercerai lo

Masih sering tinggi emosinya  via sdixonlaw.com

Advertisement

Seringkali orang dipandang sebelah mata kalau belum menikah di usia tertentu. Faktor ini mungkin jadi alasan kenapa sebagian orang memandang menikah itu sebagai sebuah tujuan terbesar dalam hidupnya. Tapi sebuah penelitian yang dilakukan Nicholas Wolfinger, sosiolog dari Universitas Utah, AS, justru menunjukkan pada periode 2006-2010, risiko perceraian untuk pernikahan di usia di bawah 20 tahun mencapai 32%, sedangkan antara 20-24 tahun angkanya sebesar 20%.

Penelitian lain menyebutkan, kalau rendahnya pendidikan dan kondisi ekonomi juga berpengaruh sama risiko perceraian

Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah juga berpengaruh via karyapemuda.com

Meskipun Nicholas nggak menyebut jelas apa faktor penyebabnya, tapi dalam penelitian lain disebutkan kalau tingkat pendidikan dan ekonomi juga berpengaruh sama tinggi rendahnya angka perceraian. Seperti dikutip Your Divorce Questions, semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, kemungkinan bercerainya juga semakin tinggi –lulusan universitas lebih rendah risiko bercerainya dibanding lulusan SMA atau yang putus sekolah. Pun dengan kondisi ekonominya, makin rendah, makin memungkinkan bercerai.

Sedangkan kita tahu kalau orang-orang di usia terlalu muda, kebanyakan belum matang secara finansial, pendidikan, maupun mental. Makanya lebih rentan bercerai. Ibaratnya belum pernah belajar algoritma, tapi sudah disuruh mengerjakan soal-soal algoritma level universitas, ya siapa yang nggak stres?

Nggak cuma terlalu muda, menikah di usia terlalu tua ternyata juga nggak kalah berisiko. Data ini diperoleh dari penelitian yang sama. Kalau mau aman, menikah sebaiknya dilakukan di rentang umur 28-32 tahun

Tapi kalau terlalu tua juga berisiko sih via www.liputan6.com

Advertisement

Nah, ternyata perceraian nggak cuma rentan dialami mereka yang menikah di usia terlalu muda aja menikah di usia terlalu tua juga bisa memicu perceraian lo. Lebih lanjut, Nicholas menyebut rentang waktu terbaik orang untuk menikah, yang sebaiknya dilakukan antara 28-32 tahun. Setelah 5 tahun pernikahan, kemungkinan bercerai pasangan yang menikah di rentang “aman” tersebut cuma berkisar 10-an persen. Sedangkan kalau di bawah itu, kemungkinannya bisa mencapai 38%.

Sebetulnya, balik lagi sih ke keputusan masing-masing orang, mau menikah di usia berapa. Tapi tentunya dengan catatan, mereka paham dulu berbagai risiko yang mungkin menghadang. Karena pernikahan itu bukan soal senang-senang dan enak-enak aja lo, banyak banget permasalahan yang mungkin timbul di tengah jalan. Yang sebelumnya mungkin belum pernah dihadapi. Kalau secara emosional aja belum matang, gimana bisa masalah-masalah itu diselesaikan dengan baik? Makanya, #JanganGegabahNikah ya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya