Banyak dari kita yang terkejut dan ikut bersedih mendengar kabar perceraian pasangan Gading Marten dan Gisella Anastasia. Bahkan bagi yang rajin mengikuti update keseharian mereka di media sosial sekalipun, kabar ini cukup mengejutkan karena tampaknya tidak ada tanda-tanda perpecahan rumah tangga dari pasangan yang terkenal harmonis ini. Apalagi jika mengingat kelucuan anak semata wayang mereka, Gempita Nora Marten yang akrab disapa Gempi. Banyak orang menyayangkan dan khawatir akan nasib anak yang masih berusia 3 tahun ini jika orangtuanya berpisah. Sampai-sampai tagar #savegempi jadi viral di dunia maya.

Meski kisah ini menyedihkan, anak sebenarnya tidak selalu jadi ‘korban’ dalam perceraian. Bahkan ada yang merasa lebih baik karena pada akhirnya orang tuanya bahagia meski nggak bersama. Bukannya menyetujui perceraian ya. Perceraian memang bukan hal yang menyenangkan serta bukan tujuan akhir yang diharapkan pasangan ketika menikah. Tapi, ini untuk menginformasikan saja, bahwa terkadang, perceraian bisa membuat anak jadi lebih bahagia. Bahkan, ada penjelasan penelitian dan juga ahlinya lho. Kulik lebih dalam yuk bersama Hipwee News & Feature!

1. Memang sih di awal, anak pasti inginnya punya orangtua yang utuh. Tapi ketika mereka sudah besar, mereka akan merasa bahagia juga kalau orang tuanya bahagia

Anak pasti ingin orang tuanya selalu bersama. via www.moneysmart.id

Advertisement

Kalau anak ditanya sih pasti mereka nggak mau orangtuanya berpisah. Kata Kimberley O’Brien, psikolog anak, hal itu memang salah satu fase terberat di awal perceraian. Tapi ada harga yang sangat besar yang harus dibayarkan jika tetap bertahan yaitu kebahagiaan. Kalau anak diberi pengertian dan selalu dilimpahi kasih sayang, mereka pasti akan paham kok dengan pilihan orangtuanya buat bercerai. Apalagi kalau melihat orang tuanya bahagia, mereka juga akan ikut bahagia.

2. Perceraian ‘kan seharusnya nggak lantas memutus hubungan anak dengan orangtuanya. Mereka tetap punya ayah dan ibu walaupun sudah berpisah

Mereka nggak akan kehilangan orang tuanya. via www.pexels.com

Ketika orangtua bercerai, bukan berarti anak akan kehilangan orangtuanya. Mereka masih punya orangtua kok. Hanya saja mereka nggak lagi hidup bersama. Orangtua harus sadar juga bahwa anak butuh sosok ayah dan ibunya. Anak tetap nggak boleh kekurangan perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibunya.

3. Kalau orang tua tetap bertahan di pernikahan yang nggak bahagia, mereka bisa depresi. Depresi akhirnya bisa menular ke anak dan memberi efek yang negatif kepadanya

Kalau orang tua depresi, anaknya akan mengalami efek negatif emosional lho. via askopinion.com

Orangtua yang tetap memaksakan diri bertahan di hubungan pernikahan yang nggak sehat punya potensi besar jadi depresi. Yang lebih bahaya dari depresi orang tua adalah ketika depresi itu mempengaruhi caranya membesarkan anak. Menurut jurnal yang dimuat di National Center for Biotechnology Information (NCBI), anak akan lebih terganggu secara emosional dan temperamental. Kalau perceraian bisa bikin lebih bahagia, anak pasti ikut bahagia ‘kan~

4. Anak sebenarnya peka dengan apa yang terjadi di sekitarnya, termasuk soal hubungan orangtuanya. Walau nggak diungkapkan, tapi mereka biasanya tahu jika orangtuanya pura-pura bahagia

Anak tahu kok kalau ada yang nggak beres terjadi kepada orang tuanya~ via www.washingtonpost.com

Advertisement

Meski berlagak baik-baik saja di depan anak-anak, tapi anak peka lho dengan perubahan orangtuanya. Mereka sebenarnya tahu jika orangtua baru saja bertengkar atau sudah nggak saling sayang. Psikolog anak, Kimberley O’Brien, mengatakan bahwa hal ini terlihat sih dari nada bicara dan level stress orangtuanya. Sebagai anak pasti sedih kan kalau tahu orang tuanya pura-pura bahagia padahal mereka sebenarnya sama-sama terluka.

5. Selain itu, anak punya kecenderungan meniru yang dilihat dari hubungan orang tuanya. Kalau selama ini yang dilihat hanya pertengkaran, mereka justru bisa mengalami trauma yang lebih mendalam

Anak yang disuguhi pertengkaran orang tuanya setiap hari bisa jadi tertekan lho~ via lifestyle.kompas.com

Menurut psikolog Mel Schwartz L.C.S.W, gambaran anak soal hubungan pernikahan itu ditiru dari hubungan pernikahan orangtuanya. Jika anak melihat orangtuanya saling mencintai, perhatian, dan bahagia dengan tulus, mereka akan memandang pernikahan itu indah dan menyenangkan. Kalau selama ini disuguhi dengan pertengkaran orangtua, anak bisa mengira kalau pernikahan itu menakutkan dan jadi trauma. Membiarkan anak mengalami dan melihat pernikahan yang nggak sehat bisa mempengaruhi masa depannya termasuk hubungan dengan pasangannya kelak.

Tiap orang pasti punya prinsip atau pandangan sendiri-sendiri, tapi perceraian orangtua bisa menjadi salah satu cara menyelamatkan anak dari dampak negatif melihat hubungan pernikahan orangtuanya yang nggak sehat. Ada kok anak yang bersyukur orangtuanya bercerai, apalagi jika orangtuanya nggak bahagia dan malah saling menyakiti dalam pernikahan itu.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya