Apa yang salah dengan memiliki kehendak untuk mendapatkan keturunan? Tentunya hal ini nggak salah dan sah-sah saja ya, selama dilakukan dengan cara yang benar. Akan tetapi, bagaimana kalau yang ngebet ingin dapat keturunan adalah para lansia yang notabenenya secara fisik sudah terlalu tua untuk dapat hamil, melahirkan dan merawat seorang anak layaknya para perempuan lain pada umumnya di usia yang relatif lebih muda, misalnya di bawah 40 tahun?

Hal ini barangkali akan jadi pertanyaan yang mendasari tentang fenomena yang beberapa tahun belakangan sedang merebak di India. Mungkin kamu pernah dengar, tentang seorang perempuan berusia 72 tahun asal  Amritsar, di Punjab, India, Dajinder Kaur yang berhasil melahirkan anak pertamanya pada tahun 2016 lalu?

Advertisement

Nah, faktanya Kaur hanyalah satu dari sekian banyak ibu lansia yang mendapatkan anak dari hasil program bayi tabung atau IVF yang marak di India. Merebaknya ‘tren’ banyak ibu lansia yang melakukan program IVF dan melahirkan anak pertama di usia senja memang merupakan sebuah fenomena yang sebenarnya meresahkan karena di negara yang populasinya sudah begitu padat tersebut, banyak nyawa ibu, pendonor sel telur dan bayi yang terancam bahaya. Di balik rekor ‘ibu tertua’ yang diraih kebanyakan wanita India, ada latar belakang kelam yang memprihatinkan. Simak ulasan Hipwee News & Feature berikut ini ya~

1. Banyak perempuan lansia yang berusaha hamil meski telah berada di usia rawan. Berbekal tekad kuat akibat sering diejek tak bisa punya keturunan, pasangan lansia ini mantap menjalani IVF

Daljinder Kaur, 73, dari Amritsar, di Punjab dan putranya, Armaan via www.dailymail.co.uk

Dilansir dari Aljazeera, program bayi tabung atau IVF telah dimulai di India sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu dan lantas menjadi semacam jawaban ‘surga’ atas keresahan banyak pasangan mandul yang tertekan oleh stigma negatif masyarakat tentang kaum yang mandul atau tak punya anak. Dianggap sebagai kutukan Tuhan, banyak pasangan berusaha mencari cara untuk dapat menghasilkan keturunan. Hal itu pulalah yang memicu Kaur dan pasangannya untuk memutuskan melalukan program bayi tabung setelah menikah tanpa memiliki keturunan selama 46 tahun.

Sejumlah klinik, salah satunya adalah National Fertility and Test Tube Baby Centre yang juga menjadi tempat Kaur menjalani program IVF menawarkan solusi program ‘istimewa’ yang memberikan kesempatan para ibu, yang sayangnya tak diberikan batasan hukum dan batas usia demi mendapatkan keturunan. Hmm, padahal memiliki anak di atas usia 30 tahun saja sudah rentan sekali, kebayang ‘kan risikonya kalau hamil di usia 50-an tahun bahkan 70-an tahun begitu?

2. Terlihat bak keajaiban Tuhan, usaha IVF pada banyak lansia acapkali justru mendapat keprihatinan karena program tersebut sebenarnya tak disarankan dijalani mereka para wanita lansia

Kaur dan suaminya yang berusia 80 tahun via www.dailymail.co.uk

Advertisement

Dilansir dari Daily Mail, Kaur dilaporkan menderita sejumlah komplikasi penyakit akibat kehamilannya di usia yang tak lagi muda. Dalam ulasan wawancaranya dengan Daily Mail, Kaur mengaku tubuhnya tak mampu menangani segala proses yang dijalaninya sebagai seorang ibu dan sungguh harus berjuang agar mampu menjadi seorang ibu. Hipertensi dan sakit di persendian menjadi momok yang harus dilewatinya. Selain itu, karena tak mampu memberikan ASI dengan baik, diakuinya bahwa anaknya tak bisa bertumbuh dengan normal dan bertubuh lebih kecil daripada usianya. Kendati demikian, Kaur merasa tak menyesali apa yang dialaminya.

Tak jauh berbeda dengan Kaur, dilansir dari Aljazeera, Rajo Devi Lohan yang melahirkan di usia 70 tahun pada tahun 2008  dan menjadi pemegang rekor ibu tertua kala itu didiagnosa menderita kanker pasca kehamilan dan persalinan anak pertamanya. Beragam penyakit dan keluhan Lohan disebutkan dokter yang menangani penyakitnya sebagai konsekuensi dari kehamilannya di usia terlalu tua dan beragam treatment kesuburan yang dijalaninya. Waduh~

3. Tak hanya ibu lansia yang terancam keselamatannya jika nekat menjalani IVF. Para wanita pendonor sel telur yang diberi iming-iming bayaran mahal pun juga terancam keselamatannya

Lokasi IVF yang ‘menyukseskan’ banyak ibu lansia via www.aljazeera.com

Faktanya, telah tercatat setidaknya ada 2 orang pasien donor telur yang harus kehilangan nyawa pasca prosedur ekstraksi sel telur yang dilakukan. Dengan diiming-imingi bayaran ratusan dolar, sejumlah perempuan dari kalangan miskin menerima tawaran sebagai pendonor meski usianya di bawah usia yang disarankan, yaitu minimal 18 tahun. Sejumlah kematian yang dilaporkan terjadi karena ovarian hyperstimulation syndrome, sebuah kondisi dimana kondisi fatal terjadi akibat terlalu tingginya dosis yang digunakan demi memicu hormon yang memicu produksi sel telur dan terlambatnya penanganan yang dilakukan. Duh, serem ya.

4. Tak sedikit korban yang sudah berjatuhan, namun besarnya peminat program IVF di India tak beranjak surut. Tak bisa dimungkiri, persoalan tekanan masyarakat turut jadi penyebab utamanya

Stres dipicu lingkungan via www.aplaceformom.com

Menjadi pasangan mandul yang tak bisa memiliki keturunan memang jadi momok besar bagi warga India, dikarenakan tekanan yang begitu besar dari lingkungan sosial. Seperti yang dialami pasangan Kaur dan suaminya, dilansir dari Kompas yang mengaku bahagia karena berhasil mendapatkan keturunan setelah bertahun-tahun diejek dan dicap ‘menerima kutukan Tuhan’. Nah, lho. Akibat gesekan kanan kiri, segala cara pun rela dilakukan demi bisa mendapat momongan. Ini nih yang jadi pupuk subur, hebohnya industri IVF di India. Iya, di India program IVF memang seolah telah menjadi industri sukses yang menelurkan banyak klinik IVF di India.

5. Para dokter yang seolah bersikap masa bodoh pada risiko yang dihadapi para ibu lansia dan pendonor telur pun turut mendapat kecaman, pasalnya mereka dianggap hanya mencari ketenaran dan penghasilan

Dokter yang tak peduli pada kode etik via health.usnews.com

Tak tinggal diam, sebenarnya banyak yang sudah mengecam tindakan medis yang tak peduli latar belakang ibu saat diminta menangani program IVF di India. Para dokter yang melakukan program IVF berbahaya dituding hanya mencari ketenaran dan peduli pada penghasilan serta ‘bermain sebagai Tuhan’. Seorang aktivis, Dr Narendra Malhotra, President of the Indian Society of Assisted Reproduction mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap program IVF yang tak menerapkan batasan usia. Menurutnya nyawa para perempuan tersebut lebih penting daripada mewujudkan impian yang sebenarnya justru menempatkan para pasien dalam situasi yang rentan dan berbahaya.

6. Ditanya soal siapa yang kelak akan menjaga dan merawat anak para ibu lansia tersebut kelak, jawabannya cukup telak dan pasti

Rajo Devi Lohan yang sakit parah pasca melahirkan anaknya via www.aljazeera.com

Sedihnya, saat ditanya soal bagaimana nasib anak yang telah dilahirkannya, para ibu tersebut cenderung bersikap defensif dan bersikap pasrah sepenuhnya pada keyakinan mereka bahwa tuhan akan menjaga dan merawat anak mereka, karena anak tersebut merupakan hadiah berharga dari tuhan. Seperti Kaur, dilansir dari  aljazeera.com, yang memilih tak berkomentar saat ditanya soal siapa yang akan merawat anaknya kelak saat ia terlalu tua atau sudah meninggal dan menyatakan penyerahan penuh anaknya pada tuhan yang ia yakini. Tak peduli soal kesehatan diri sendiri, kesehatan anak dan masa depan sang anak, banyak ibu lansia yang memilih bungkam dan menjalani semuanya apa adanya tanpa rencana masa depan yang matang. Bisa kebayang ‘kan kelak dampaknya bagaimana pada si anak?

Memang sih, perkara soal mendapatkan kesempatan untuk memiliki anak atau nggak menjadi hak setiap pasangan yang menjalani. Namun sebaiknya juga turut mempertimbangkan soal kemampuan fisik, rencana masa depan dan kesehatan sang ibu dan anak. Terlebih di India, dimana jumlah populasinya sudah semakin membludak, booming-nya program IVF tanpa ada batasan apapun menjadi hal yang miris dan tragis. Anak sudah sepatutnya mendapat pengasuhan terbaik, setidaknya ya diusahakan untuk mendapat hidup dan masa depan yang layak ‘kan? Demikian pula kaum perempuan, layak mendapat pilihan untuk menjadi sehat dan tak harus terbebani memiliki anak jika kesehatan dan usia tak memungkinkan. Masyarakat pun seyogyanya jangan sampai menekan siapapun untuk memiliki keturunan, meski dengan dalih ‘biar lengkap hidupnya’. Kalau menurut kamu gimana, Guys?

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya