“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” –Pramudya Ananta Toer

Lulus kuliah menjadi waktu yang tepat untukmu mencari kerja. Kamu bakal ditertawakan oleh Pakde Pram jika sudah punya ijazah tapi masih mengharap subsidi orangtua. Manusia modern sudah sepatutnya hidup dari hasil kerja kerasnya sendiri, kan?!

Advertisement

Sebenarnya hal tersulit dari kerja itu bukan pekerjaannya, tapi proses keterimanya. Banyak jalan yang mesti ditempuh. Pintar saja nggak cukup sebab kerja juga butuh sikap yang baik. Dan belakangan ada seorang cewek yang bikin heboh warganet. Dialah Rina. Begini ceritanya.

Beredar chat cewek pencari kerja yang bikin geram warganet. HRD mana pun pasti bakal KZL sama tingkah lakunya

Geleng-geleng bacanya. via www.instagram.com

Potongan chat antara pelamar kerja dengan HRD belakangan viral di media sosial. Sebut saja Rina, cewek yang hendak mendaftar kerja jadi marketing penjualan mobil. Rina berhasil membuat warganet gemes pengen jitak lantaran sikapnya kepada HRD.

Dari percakapan di atas, warganet geram melihat Rina yang seperti nggak punya tata krama saat menghubungi perekrut. Dia yang butuh kerja tapi dia juga yang seenaknya membalas pesan, bahkan sampai marah-mara dong!

Tiga kesalahan besar Rina saat chattingan dengan HRD perusahaan. Semua ada etikanya, Bos!

Bertindaklah baik sama semua orang, biar diperlakukan baik juga. via www.unsplash.com

Advertisement

Dalam kasus ini apa yang dilakukan Rina kelewat kebangetan. Tercatat ada tiga kesalahan besar. Pertama, penggunaan pronomina “gw” jelas sangat nggak sopan digunakan –jangankan kepada HRD, sama orang baru aja bagi beberapa orang itu nggak tepat. Mendingan pakai kata ganti “saya” biar aman. Kita nggak pernah tau perekrut kita seumuran atau lebih tua.

Kedua, belum mengirim CV atau berkas lainnya tapi Rina sudah berani untuk tanya gaji. Percakapan seperti itu umumnya terjadi saat wawancara. Rina bahkan sampai meremehkan nominalnya, membandingkan dengan biaya kuliah dan uang jajannya. Kalau nggak cocok ya nggak usah lamar kerja di situ, simpel kan?

Ketiga, permasalahan utama Rina sebenarnya adalah sikapnya. Sikap arogansi semacam itu haram dilakukan di dunia kerja. Di mana-mana HRD akan lebih memilih orang yang beretika dibanding berandalan. Kecuali cucunya Mbah Harto!

Rina sebenarnya cukup beruntung karena punya kesempatan bertanya ke HRD yang santuy dan asyik. Tapi itu disia-siakan begitu saja

Menyia-nyiakan kesempatan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan. via www.unsplash.com

Cari kerja itu susah-susah gampang. Nggak semua orang beruntung bisa punya kerja. Idealnya orang musti bikin CV, ikut jobfair, ikut psikotes sampai interview. Nggak banyak kasus pelamar kerja bisa ngobrol langsung dengan HRD atau perekrut sebelum panggilan interview –sejatinya Rina beruntung. Bahkan perekrutnya mau menjelaskan detail kerjaannya, kebanyakan cuma dimentahin aja tuh.

Kalau cerdik ia bisa mengulik apa saja yang dibutuhkan untuk bisa lolos interview. Alih-alih memanfaatkannya ia malah berlaku seenaknya. Butuh kerja tapi memposisikan diri seperti kerjaannya yang butuh dia. Kira-kira pekerjaan apa yang cocok buat Rina? Ngasih makan buaya Amazon? Atau ngecat es balok kutub utara? 😀

Semoga kasus ini bisa jadi pelajaran buat Rina dan semua warganet yang dalam perjalanan cari kerja ya!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya