Hipwee setuju kok kalau momen Ramadan harusnya perbanyak amalan. Tapi bukannya berbagi pengetahuan juga salah satu amalan ya? Mumpung ada momen Ramadan juga makanya Hipwee mengangkat hal yang abu-abu di masyarakat dalam tulisan ini.

Nah kali ini, Hipwee mencoba memberikan (sedikit) pencerahan buat cowok-cowok yang kerap kebingungan dengan hal-hal yang terkait dengan keluarnya cairan kenikmatan atau mani pada bulan Ramadan. Tak pernah ada niatan menggurui, hanya murni untuk saling berbagi.

1. “Apakah boleh berhubungan badan pada bulan Ramadan?”

Ena-ena di bulan puasa… via arthursplace.co.uk

Ini pertanyaan yang selalu muncul pada bulan Ramadan. Ramadan memang dikenal dengan bulan suci, tapi bukan berarti kamu tidak bisa berhubungan badan. Tolong dicatat: ketentuan utama berhubungan badan pada Ramadan yang harus dipahami, pastinya, dilakukan oleh pasangan yang halal atau sudah terikat dalam tali pernikahan. Kedua, asal dilakukan pada malah hari, sepasang manusia diizinkan berhubungan badan pada Ramadan. Kegiatan tersebut terdapat pada firman Allah surah Al Baqarah 187 yang berbunyi,

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kalian campuri mereka itu sedang kalian beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

2. Kalau berhubungan badan dan tertidur sampai pagi. Apakah boleh berpuasa tanpa mandi wajib?

Ketiduran… via www.abc.net.au

“Telah diangkat pena (kewajiban syar’i/taklif) dari tiga golongan: dari orang gila sehingga dia sembuh, dari orang tidur sehingga bangun, dan dari anak-anak sampai ia bermimpi/dewasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Kalau kita mendengar kasus tersebut, maka acuan untuk menjawabnya pun tak sulit. Cukup sebutkan syarat wajib puasa. Di antara syarat wajib berpuasa, tak ada syarat suci dari hadas besar dan hadas kecil. Masalah sudah mandi wajib sendiri hanya akan membuatmu bermasalah dengan syarat wajib shalat yang harus kamu lakukan pada waktu Subuh. “Masa iya puasa dilakukan, shalat wajibnya ditinggal? Kan lucu~”

Dalam rukun Islam, shalat kan nomor dua, puasa nomor empat. Jadi kalau menurut logika, kamu pasti tahu mana dulu yang harus diprioritaskan, meskipun keduanya sama-sama wajib.

3. “Apakah mimpi basah membuat puasa seseorang menjadi batal?”

Basah euy… via fthmb.tqn.com

“Batal enggak ya?”

Buat kalangan cowok, pertanyaan semacam ini kerap muncul di setiap bulan puasa. Mungkin salah satu dari kamu pernah ada yang mengalami hal yang satu ini. Kita tahu sendiri, semua mimpi itu terjadi di bawah alam sadar kita. Pun begitu dengan mimpi yang bikin celanamu basah.

Jawabannya pun tak pernah berubah, yaitu: tidak membatalkan puasa. Kalau bicara dalilnya pun jelas. Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 286 yang intinya, “Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.”

Dalam kitab Al Mughni (4/363) juga disebutkan perihal mimpi basah di siang hari pada saat menjalankan puasa. Andai ada seorang bermimpi basah, maka tidaklah rusak puasanya. Parah banget sih kalau kamu enggak yakin.

Mimpi basah adalah suatu hal yang berada di luar kendali seseorang, yang mana orang tersebut tak dapat mencegahnya menghampiri. Semua terjadi di luar kehendak orangnya. Siapa juga coba yang bisa mengatur mimpinya sendiri? Nah kalau kamu mengalaminya, kamu enggak usah kuatir puasamu batal. Yang penting kamu jangan lupa mandi wajib.

 

4. “Lalu, gimana hukumnya kalau sengaja mengeluarkan air mani pada siang hari saat menjalankan puasa? Bukannya kita enggak bersetubuh ya?”

“Kan enggak berhubungan badan sama lawan jenis?” via i.huffpost.com

Kita jelas bakal ngerti kalau makan dan minum bisa membatalkan puasa seseorang. Itu hal yang paling umum. Kalau kamu nginget-nginget mata pelajaran Agama Islam zaman sekolah kamu pasti bakal tau masih  banyak hal yang bisa membatalkan puasa seseorang. Dan salah satunya: mengeluarkan mani dengan sengaja karena tak bisa menahan hawa nafsunya.

“Onani pada bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan hukumnya haram, tidak boleh dilakukan, berdasarkan firman Allah yang menceritakan sifat orang beriman,” ujar Lajnah Daimah dari Komite Tetap untuk Studi Islam dan Fatwa Arab Saudi.

Nah ‘kan? Orang yang melakukan masturbasi dengan sengaja enggak hanya batal puasanya, tapi juga wajib tobat dan menggantinya di hari lainnya. Selain itu, meskipun enggak berhubungan badan dengan lawan jenismu, onani tetap saja membatalkan puasa.

Kalau kamu kurang puas dengan fatwa di atas, ada yang lebih pasti nih. Allah berfirman dalam surah Al Mu’minun ayat 5-7 yang berbunyi, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka, kecuali kepada istri atau hamba sahaya mereka karena itu tidak tercela. Barang siapa yang mencari selain itu, maka mereka itulah orang yang melampaui batas.”

5. Tapi kalau kemarin kita ngelakuin dan belum tahu soal hukumnya, gimana dong?

Kadang, untuk tahu sesuatu yang benar, kita perlu tahu juga mana yang salah. Setelah kamu baca pada poin pada nomor dua di artikel ini, maka kemungkinan pertanyaan lain seperti: “Aku kan enggak ngerti soal hukumnya dan malah lanjut puasa aja waktu itu, terus gimana dong?”.

Meminjam kutipan dari kajian Ustadz Ammi Nur Baits dalam laman Konsul Syariah, beliau bilang, “Seandainya kamu belum tahu sama hukumnya, kamu tak berdosa. Namun kamu punya utang puasa dan wajib bertanggungjawab membayarnya di hari yang lain.”

Setelah baca paragraf sebelumnya kamu mungkin bakal bilang hamdallah karena bebas dari dosa karena beronani di saat puasa. Tapi kamu tetap punya tanggungan puasa yang harus kamu bayar di hari selain pada bulan Ramadan. Jadi enggak ada alasan buat enggak tahu hukumnya ‘kan setelah baca ini?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya