Guys, kamu pernah nggak sih mendengar kalau penis kerap diidentikan dengan unggas? Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya. Kata burung kerap sekali kita konotasikan dengan kemaluan cowok. Sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat.

Tapi sebenarnya, apakah kita tahu kenapa penis kerap diidentikan, diasosiasikan, dikaitkan, disamakan, atau diapakanlah itu dengan kata ‘burung’? Nah kali ini Hipwee Boys lewat pendekatan sejarah, bahasa dan analogi bakal mencoba mengorek itu semua. Semoga menjawab, ya!

Pengasosiasian penis dengan unggas sebenarnya sudah terjadi sejak ratusan lalu, dan telah berkembang seperti yang kita rasakan hari ini

Awalnya sih ‘ayam jantan’ via commons.wikimedia.org

Ihwal penggunaan kata unggas dalam mengasosiasikan penis sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia. Dan, bisa jadi penggunaan dalam bahasa Indonesia lahir karena pengaruh dari luar. Masyarakat Amerika Serikat, misalnya, punya kata cock soal penis. Awalnya, kata tersebut hanyalah bagian dari bahasa slang — ragam bahasa tidak resmi dan belum baku dan bisa jadi sifatnya musiman. 

Mundur ke ratusan tahun yang lalu. Penggunaan kata unggas untuk mengasosiasikan penis diyakini muncul pada abad ke-12. Seorang penulis dan konsultan untuk kantor kabinet Britania Raya, Mark Harrison, pernah menulis bahwa istilah a male chicken atau ayam jantan sudah dipakai sejak abad ke-12. Hingga abad ke-15, istilah tersebut menjadi cukup umum di masyarakat.

Advertisement

Vivek Sharma meyakini pengistilahan unggas pada penis berasal dari Jerman dengan sebutan ‘burung jantan’. Selain itu, Sharma juga menjelaskan adanya kemiripan karakteristik saat kedua hal ketika sama-sama dalam postur tegak. Nggak heran kalau penis diasosiasikan dengan unggas memang karena banyaknya kemiripan.

Istilah pengasosiasian penis dengan unggas sudah terjadi di beberapa negara. Indonesia dengan beberapa suku di dalamnya pun nggak luput

Cowok dan burungnya via www.at-edge.com

Di beberapa negara, sejak dari zaman dahulu kala, ayam jantan sering digunakan sebagai simbol maskulinitas. Kemudian entah bagaimana prosesnya, pengasosiasian penis dengan unggas meluas ke berbagai penjuru dunia dan jadi kesepakan bersama masyarakat dunia.

Selain Jerman dan Amerika Serikat yang telah disebutkan tadi, pemakaian kata slang unggas untuk penis kini sudah bisa ditemui di berbagai negara, tanpa kecuali di Indonesia. Misal Spanyol yang punya istilah pajaro (burung), pavo (kalkun), atau polla (ayam). Lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Sebenarnya penggunaan kata burung sudah bukan hal yang asing lagi. Beberapa suku seperti Sunda dan Jawa pun mengenal istilah manuk sebagai pengasosiasian untuk penis. Mungkin atas dasar pengetahuan itu yang sudah meluas itulah yang membuat ‘burung’ bukan lagi kata slang di Indonesia.

Kalau mau sedikit membuktikan dan nggak malas, coba periksa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kamu bakal menemukan arti yang tak hanya menjelaskan bahwa burung adalah hewan. Jangan kaget jika kamu menemukan arti lain dari burung adalah ‘kemaluan laki-laki’.

Kalau kamu pusing dengan pengasosiasian penis dengan burung dari sisi sejarah dan bahasa, kita analisis lewat analogi yuk! Nggak usah terlalu serius

Alat kelamin pria dan burung memiliki lebih banyak kesamaan dari yang kalian kira via i.dailymail.co.uk

Bicara masalah ini, kayaknya bakal lebih asik kalau dibahas nggak terlalu serius layaknya dua poin di atas. Maka dari itu, alangkah baiknya kita membahas pengasosiasian penis dengan unggas lewat analogi.

Seperti di jelaskan sebelumnya, pengasosiasian penis dengan unggas terjadi karena adanya kemiripan di antara keduanya. Pertama, penis dan burung punya leher yang cukup panjang dan lebih kecil dari badannya. Dari segi bentuk leher, sudah jelas kan kemiripan unggas dengan alat kelamin cowok.

Kedua, burung termasuk unggas yang berkembang biak dengan cara bertelur. Telur tersebut tentu sangat berguna dalam rangka menjaga kelestarian keturunannya. Untungnya, cowok pun memilikinya dan menjadi bagian penting dari penis dalam rangka melestarikan keturunan. Kalau burung bisa bertelur banyak, penis hanya punya dua. Dua ‘telur’ tersebut amat penting, sebab di sanalah produksi sperma terjadi.

Ketiga, penis dan burung sama-sama punya bulu. Hanya saja ada banyak perbedaan. Bulu-bulu di penis lebih tepat disebut rambut. Tapi kita kerap susah membedakan bulu dengan rambut, jadi, kita sepakati saja kalau itu bulu. Biar nggak beda jauh.

Keempat, nggak hanya kucing atau anjing, binatang yang suka mendapatkan elusan. Unggas pun begitu. Tengok saja ayam jago atau burung merpati yang kerap ditenteng bapak-bapak di kampungmu. Si burung pasti bakal merasakan kenyamanan dan membuatnya jinak. Pun dengan penis. Paling suka mendapatkan elusan. Bedanya cuma dikit kok. Penis kalau dielus bisa lebih galak.

Terakhir atau kelima, burung dan penis sama-sama bisa matuk. Apalagi kalau menemukan makanannya. Bedanya, ketika cewek dipatuk burung paling sakitnya bisa hilang dalam beberapa detik, sedangkan kalau  penis efek patukannya bisa sampai terasa sembilan bulan.

Boys, jangan bingung lagi ya kalau ada cewek yang nanya. via wrkr.com

Kelima kesamaan diatas jelas bercanda sih, jangan terlalu dianggap serius ya. Memang artikel ini nggak penting, tapi apakah kita semua tidak butuh hiburan? Anggaplah artikel ini sebagai hiburan dan bahan candaan. Kalau dibilang kurang bermutu, well, ada banyak artikel bermutu lainnya kok di Hipwee yang bisa menjadi bahan diskusi idiologis dan filosofis. Artikel ini hanyalah sebuah hiburan receh ditengah pembahasan isu gender, agama, pendidikan usia dini, dan moral.

Itulah sekelumit penjelasan kenapa penis kerap diidentikan, diasosiasikan, dikaitkan, disamakan, atau diapakanlah dengan unggas, atau tepatnya ‘burung’ kalau di Indonesia. Gimana? Nggak bingung lagi ‘kan? Kalau kamu punya pendapat lain, bisa kali berbagi dengan kami di kolom komentar.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya