Mitos tentang Jogja

Hantui orangtua lepas anaknya jadi mahasiswa

Rantai kekang tak lagi berwenang

Kuasa penuh di tangan si bocah yang kini beranjak dewasa

Begitulah sepotong lirik pada lagu “Di Jogja Kita Belajar” dari Umar Haen yang cukup menggambarkan kegelisahan orangtua saat melepas anaknya pergi merantau. Umar sendiri adalah seorang perantau dari Temanggung dan sudah hampir 7 tahun ia tinggal di kota Jogja, yang konon katanya menjadi ‘gudang’ para seniman. Selama itu pula, Umar memulai proses perjalanannya menjadi seorang musisi. Umar mencoba menerjemahkan kegelisahannya selama menjadi perantau dan pembelajar di Jogja melalui lirik-lirik lagunya yang sederhana. Seperti apa sih, sosok Umar Haen yang sebenarnya?

Umar mulai serius menggarap karier solonya sebagai musisi pada pertengahan tahun 2016

Advertisement

Umar memilih bermusik karena ia menganggap bahwa musik bisa dijadikan sebagai sarana aktualisasi diri, berbagi masalah dan keresahan serta sebagai medium bagi Umar dalam menyampaikan gagasannya. Dalam lingkungannya pun, Umar berada di lingkungan sesama musisi dan kawan-kawan sesama pekerja kreatif.

Sosok Umar Haen memang suka dengan musik dan ‘gitar-gitaran’. Awalnya, Umar ingin membentuk sebuah band, tapi ia mengurungkan niatnya karena mewujudkan keinginannya tersebut dirasa sulit. Umar pun memutuskan untuk berkarier ‘sendiri’. Namun, ia membawa dirinya ke atas panggung dengan konsep nggak kelihatan ‘sendiri’ banget dengan main musik multi instrumen.

Dalam kariernya sebagai solois, Umar memilih membuat Arok dibanding harus memilih personil lain untuk bermain perkusi

Umar dan arok buatan ayahnya via instagram.com

Masih seperti alasan enggan membuat band karena sulit, Umar pun realistis dengan keadaan. Dengan adanya Arok, Umar bisa menghemat biaya dan lebih bisa memaksimalkan performanya. Selain itu, Umar juga ingin membuat sesuatu ‘komposisi’ yang baru dan belum cukup banyak dalam dunia musik. Dalam proses pembuatan Arok pun, Umar dibantu oleh ayahnya sendiri.

Pemilihan nama ‘Umar Haen’ yang banyak orang-orang belum tahu apa artinya justru menjadi personal branding di panggung musisi

Advertisement

Nama ‘Umar Haen’ bukanlah nama asli dari Umar. Kata ‘Umar Haen’ merujuk pada istilah ‘Marhaen’ yang dicetuskan pertama kali oleh Bung Karno. Dilihat dari akar sejarah, dalam buku otobiografi Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno menemukan istilah tersebut pada saat usianya 20 tahun, alias sekitar tahun 1921. Singkat cerita, saat itu Bung Karno tinggal di Kota Bandung dan bertemu dengan seorang petani yang bernama Marhaen. Petani itu mengerjakan sawah warisan orangtua, menggunakan perkakas sendiri, tidak memperkerjakan tenaga orang lain, hasilnya pun untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, karena tidak ada hasil lebih untuk dijual. Dari situlah, Bung Karno mulai menamai orang-orang Indonesia yang bernasib sama dengan istilah ‘Marhaen’.

Setelah dipelajari lagi, saya adalah seorang ‘Marhaen’. Saya seorang anak petani di kampung yang nggak punya alat produksi banyak, hanya cukup untuk menghidupi keluarga sehari-hari. Nah, kebetulan ada kata ‘Mar’ dan pas dengan nama, kupikir seru menggabungkannya. Nggak sedikit juga orang-orang kemudian bertanya-tanya “Marhaen iki opo?” – tutur Umar saat dijumpai di kantor Hipwee.

Umar nggak merasa malu dengan branding-nya sebagai anak kampung, karena Umar nggak mau ‘menipu’ dirinya sendiri

Di saat musisi sekarang tampil dengan gaya yang ‘gaul’, Umar justru ingin menampilkan identitasnya yang lahir dan besar di kampung. Saat di panggung pun, Umar seringkali membawa narasi kampung dan lebih banyak porsinya dibandingkan narasi yang lain. Hal ini dilakukan Umar untuk mempertegas branding-nya sebagai anak kampung dan menceritakan background dunia kampung kepada penontonnya. Umar juga mempunyai maksud tersirat bahwa semestinya kampung itu semakin dimajukan, karena di kampung juga banyak potensi, tenaga kerja juga tersedia di kampung. Ketika kampung maju, harapannya nggak ada kota yang semrawut. “Desa maju, negara kuat’, begitu kata Umar.

Tapi saya nggak bisa menyangkal bahwa ada pengaruh semacam ‘beban’ ketika identitas itu saya pertahankan, karena banyak teman-teman saya yang sangat urban misalnya, nggak doyan makan di angkringan. Yah, walaupun hal-hal itu nggak dilakukan secara radikal.

Dalam bermusik, Umar hanya fokus tentang apa yang ingin dibawakan, diajak, dan diperbincangkan liriknya. Bukan melulu soal genre ataupun tren

“Musik nggak melulu soal genre sih. Menurutku, genre adalah cara bagaimana mengemas suatu pesan, entah dibuat elektronik, atau rock, metal, dan lainnya. Kalau aku lebih fokus kepada apa yang ingin aku bawa dan aku perbincangkan dari sebuah lagu”.

Selain senang dengan musik, laki-laki yang juga senang membaca buku ini pun juga berkarier sebagai seorang penulis konten

“Buku favoritku cukup banyak. Salah satunya yang kusuka adalah Arus Balik dari Pramoedya Ananta Toer serta Kambing dan Hujan karyanya Mahfud Ikhwan. Aku suka sekali. Selain itu, aku juga suka buku Radikal Itu Menjual dari Josep Health dan Andrew Potter”.

Pada awal bulan November lalu, Umar baru saja merilis album perdananya Gumam Sepertiga Malam. Albumnya pun cukup unik, karena di dalamnya terdapat beberapa postcard yang dilengkapi dengan narasi khas Umar Haen

Album perdana Umar Haen Gumam Sepertiga Malam via instagram.com

Karangan narasi pada postcard yang ditulis Umar hadir setelah lirik-lirik lagu dibuat. Tentunya, Umar menuliskan narasi-narasi tersebut bertujuan untuk menemani pendengarnya ketika mendengarkan lagu-lagunya, sehingga narasi tersebut bukanlah penjelasan dari lirik-lirik lagu Umar Haen. Lanjutnya, Umar mengatakan bahwa dia nggak mau merusak penyerapan pendengar tentang lagu-lagunya jika narasi tersebut hadir sebagai narasi penjelasan.

Gumam Sepertiga Malam adalah mimpi dan perjuangan Umar Haen, setelah beberapa kali berpikir untuk berhenti dan enggan melanjutkan prosesnya

Umar mengaku memang cukup berat dalam proses ‘melahirkan anak pertamanya’. Merilis album bukanlah perkara yang mudah. Prosesnya sangat panjang dan banyak teman-teman Umar yang terlibat dalam prosesnya. Ada perasaaan lega, berharga, dan ‘tak terbeli’ pada saat akhirnya album tersebut rilis.

Di tahun ini, salah satu mimpi saya yang terealisasi adalah lahirnya album perdana saya. Setelah berproses lama, sempat ada pikiran ‘apa nggak usah aja, ya?’. Cukup berat buat saya sebagai ‘orang baru’ di dunia musik, apalagi ketika melalui proses rekaman, menghubungi banyak orang, dan emang nggak mungkin bikin acara rilis album sendirian. Selama proses panjang itu, ada banyak teman-teman saya yang terlibat dan saya sangat berterima kasih kepada mereka.

Gumam Sepertiga Malam lahir dari rutinitas Umar dan teman-temannya saat tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan

Album perdana Umar lahir dari lingkungan pergaulan Umar ketika ia tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama teman-temannya, yang mana rumah tersebut selalu ramai sampai pukul sebelas hingga dua belas.

Gumam Sepertiga Malam lahir dari lingkungan saya dan teman-teman, saat-saat ketika kontrakan ramai akan obrolan-obrolan dan kenakalan-kenakalan, yang kemudian keramaian itu akan berangsur sepi setelah pukul dua belas. Menyepinya waktu setelah teman-temanku tidur atau kembali ke aktivitas masing-masing, itu adalah momen-momen pembuatan Gumam Sepertiga Malam.

Dari sembilan lagu di album Gumam Sepertiga Malam, lagu apa ya yang paling berkesan bagi Umar sendiri?

Umar bercerita bahwa lagu yang berkesan, terutama kesan paling sedih adalah “Kisah Tentang Baju“. Lagu ini bercerita dari pengalaman Umar sendiri ketika menjalin hubungan pacaran. Umar menuturkan bahwa ia dan mantan kekasihnya sering saling meminjamkan baju karena ukuran baju mereka berdua hampir sama. Hingga suatu hari saat hubungan mereka sudah kandas, Umar menemukan bajunya yang ada di dalam kotak yang aromanya pun masih tercium wangi sang mantan.

Seharian mood-ku rusak gara-gara itu. Akhirnya pas malam hari, aku buatkan lagu “Kisah Tentang Baju” dan ternyata banyak juga yang cerita mengalami hal yang sama, ketika ‘bau’ dari seseorang, apalagi mantan, mengingatkan kita banyak kisah tentangnya.

Ngomong-ngomong soal lagu, menurut Umar lagu apa yang cocok untuk pembaca Hipwee?

Hmm, mungkin pembaca Hipwee bisa dengerin lagu “Kisah Tentang Baju”, atau “Tentang Generasi Kita”lagu yang kutuliskan tentang milenial, dan tentunya lagu “Di Jogja Kita Belajar” karena dari lagu tersebut kalian bisa mengamati  dan mempelajari kelakuan anak-anak yang merantau atau kuliah di Jogja, kan pembaca Hipwee pasti juga ada bahkan banyak yang perantau.

Setelah merilis album, Umar pun nggak langsung berpuas diri. Ke depannya Umar berencana mengadakan tour dan membuatkan ‘adik’ untuk anak pertama Umar. Tapi, Umar masih merahasiakan bagaimana rencana ke depannya akan berjalan. Kita doakan saja ya, semoga Umar bisa terus melahirkan karya-karyanya yang apik dan berkesan!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya