Labirin 8 – #3 Labirin Kedua

Labirin 8 Eva Sri Rahayu

Setelah pulih dari rasa terkejut, delapan orang yang terjebak di dalam ruang rahasia mulai menyusun rencana. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyusuri ruangan ittu dan mencari jalan keluar. Namun, berhasilkan mereka menemukannya? Atau justru nyawa mereka yang jadi taruhannya?
***

Bunyi batuan besar ambruk memekakan telinga Meta. Kemudian terdengar denging panjang. Meta merasakan gendang telinganya sakit. Belum sempat reda keterkejutannya, pemandangan di hadapannya lebih mencengangkan. Muncul dinding batu dari kiri dan kanan pintu tempat dia masuk, hingga pintu itu tertutup sempurna. Kemudian pintu itu bergeser, bersamaan dengan mencuatnya dinding-dinding lain. Meta melihat Mbah Rakai terdorong salah satu dinding, sehingga secara spontan dia berjalan ke tengah ruang. Pintu itu terus bergerak menjauh. Awalnya terhalang sebagian dinding kiri, lalu hanya terlihat segaris tipis setelah kemunculan dinding lain di kanannya, sampai akhirnya hilang dari pandangan sama sekali.

Senyap.

Meta menemukan dirinya menahan napas begitu lama hingga dadanya sesak. Setelah lebih tenang, bola matanya hilir mudik mengamati tempat itu. Bayangan seolah menari-nari di dinding, bercampur pahatan relief, sehingga tampak mengerikan di mata Meta. Kebisuan yang pekat membuat suasana makin menekan. Gempa susulan sudah lewat beberapa saat lalu, tetapi tubuhnya masih terasa lemas. Dia bergeming, seakan seluruh tulang dan sendi dicerabut dari dirinya.

Tak ada seorang pun yang bergerak. Mereka terlihat masih terpukul, sepertinya gempa itu justru mengguncang jiwa lebih dari segala hal material. Mereka sedang menunggu jawaban atas pertanyaan: “Apakah segala hal ganjil ini sudah selesai?”

Pertanyaan lain mulai melayang-layang di benak Meta, menjadikan kepalanya pusat orbit. Kenapa dia bisa berada di sini? Tempat dan waktu yang salah! Tidak! Dia tidak semestinya berada di sini, menjadi bagian dari bencana. Dia seharusnya ada di sebuah ruang studio, sibuk membicarakan gosip artis terkini, atau membahas sesuatu yang sedang viral. Bukan terjebak di situs kuno bersama orang asing. Semua ini gara-gara Anggara, si kamerawan tak berguna itu. Napasnya mulai memanas oleh ledakan kemarahan. Hal itu justru membuat tubuhnya mulai pulih.

Bunyi ponsel tanda baterai sekarat mengagetkan Meta. Mengembalikan seluruh kesadarannya.

Asu! Jantungku bisa copot!” cecar Mbah Rakai.

Meta melihat si pria koboi menepuk-nepuk ponselnya dengan kesal. Seakan tindakan itu bisa menghantarkan listrik pada baterai gawainya. Tolol, makinya dalam hati.

Bayangan seseorang beringsut mengalihkan perhatian Meta. Dilihatnya Anggara sedang berusaha menghubungi entah siapa dari ponselnya. Ujung matanya menangkap si pria pendek cekatan tengah melakukan hal yang sama. Insting Meta membuat tubuhnya bertindak spontan. Dia bangkit, berjalan menuju anak buahnya, kemudian merebut ponsel itu.

Benar, dia harus menghubungi seseorang yang dapat menolongnya. Benaknya langsung menyortir nama-nama. Pacar? Sahabat? Bulan lalu dia baru dikhianati keduanya. Hatinya berdenyut nyeri membayangkan keduanya mungkin bersorak melihat keadaannya yang sedang berada di titik nadir seperti ini. Saat ini, hanya tim SAR dan para relawan yang bisa diandalkan. Namun, ketika dia menekan angka-angka darurat, ponsel itu tak menghubungkannya ke mana pun. Lantas ia berjalan hilir mudik sambil mengangkat tangan setinggi yang dia mampu, tapi gawai itu tetap tak menerima sinyal. Benda itu kehilangan fungsi utamanya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Eva Sri Rahayu aktif menulis sejak tahun 2006. Karya-karyanya lebih banyak mengangkat tema kehidupan remaja dengan tujuan memberi edukasi kepada generasi muda lewat literasi. Kini tengah terlibat produksi serial animasi mengenai kearifan lokal sebagai penulis skenario.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi