Lucu atau Nggak Lucu, Inilah Sebabnya Kenapa Banyak yang Udah Mulai Bosan Sama Raditya Dika

Dulu suka sih, tapi sekarang udah banyak yang lebih lucu. Jadinya terasa biasa aja.

– Trapiwi 24 tahun-

Makin ke sini makin bosan ah sama bahasannya. Atau karena udah bukan levelnya lagi ya usia kita.

– Gaga 21 tahun –

Dewasa ini siapa yang berani mengaku anak muda tapi tidak mengenal Raditya Dika? Cowok kelahiran 28 Desember 1984 ini tak perlu lagi diragukan sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di jagat hiburan kawula muda dalam setidaknya satu dasawarsa terakhir, utamanya di bidang komedi. Apa yang belum ia ciptakan? Ia mempelopori tren buku jenaka bergaya diary, membangkitkan lagi stand up comedy di Indonesia, merajai vlog komedi, dan masih banyak sebagainya. Hebatnya, hampir semuanya laris manis bak kacang goreng.  Yang terbaru, film Koala Kumal sudah menembus satu juta penonton.

Advertisement

Akan tetapi, di antara kejayaannya, tak dipungkiri juga sebagian dari kita perlahan merasakan kejenuhan dan kehilangan antusiasme terhadap karya-karyanya. Bisa jadi ini proses kebosanan yang natural (seniman atau artis hebat pun kerap akan mengalami siklus turun dan naiknya), atau memang ada stagnansi dan masalah dengan proses berkarya Bang Dika? Mari didiskusikan yuk.

Awal kemunculannya sih dahsyat, kisah kocak dari blog lalu diangkat menjadi buku

Raditya dika kambing jantan

Raditya dika kambing jantan via www.facebook.com

Raditya Dika menulis kisah kocak riwayatnya melalui blog. Bang Dika mengisahkan kehidupan pribadinya dengan perspektif komedi yang segar dan khas. Boleh dibilang tulisan-tulisannya keluar dari arus utama (mainstream) kala itu. Seiring dengan kesuksesan selangit dari buku perdananya, Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh, tiba-tiba berbondong-bondong terbit buku-buku sejenis. Gaya komedi diary-nya yang gemar mengolok-olok diri sendiri ditiru oleh banyak penulis. Ia menghasilkan gelombang tren gaya kepenulisan komedi yang baru di Tanah Air. Namun, rasanya tak ada satu pun penulis lain yang berhasil mendekati popularitas Bang Dika. Hormat!

Setiap bukunya diadaptasi menjadi film, tetap laris!

Bang Radit di Adelaide

Bang Radit di Adelaide via www.facebook.com

Film pertama Raditya Dika adalah Kambing Jantan, Sebuah Film Pelajar Bodoh. Film ini diangkat dari buku perdananya yang berjudul sama. Sutradara film ini pun tak main-main, Rudi Soedjarwo. Akting Bang Dika pun tak bisa diremehkan dalam film ini mengingat ia tak punya latar belakang seni peran. Yah, walau apresiasi terhadap filmnya jelas tak sebanding dengan bukunya, tapi oke sih. Kita masih menikmatinya kok Bang.

Advertisement

Kemudian Raditya Dika kembali terus menulis buku, dan selalu (masih) soal galaunya cinta khas anak muda. Hmm, perlahan-lahan udah mulai ada yang bosen nih~

Cinta lagi, bang?

Cinta lagi, bang? via www.facebook.com

Sampai saat ini, Raditya Dika sudah menelurkan 7 buah buku. Semuanya tetap berkutat dalam tema kegalauan cinta khas anak muda.  Hmm, nggak tahu kenapa, Raditya Dika sulit sekali beranjak dari zona nyamannya. Kita tahu sih, fans-fans-nya Raditya Dika kebanyakan anak-anak remaja SMP-SMA, bahkan SD. Tapi apa salahnya Bang Radit mencoba beralih sejenak membuat tulisan yang sedikit lebih dewasa? Sesekalilah Bang.

Tiba-tiba, Raditya Dika dengan mengagumkan sukses mempopulerkan kembali Stand Up Comedy Indonesia. Akhirnya kita punya banyak stok pelawak-pelawak tunggal yang kocak abis, tapi materi Raditya Dika sendiri kok…

Openmic

Openmic via 3.bp.blogspot.com

Tahun 2011, merupakan tahun meledaknya Stand Up Comedy Indonesia. Harus kita akui jasa besar Raditya Dika di sana. Dari kreativitas dan dedikasinya lah kita bisa mengenal nama-nama Ernest Prakasa, Ge Pamungkas, Dodit Mulyanto, dan lain-lain. Mereka punya materi dan gaya lawak yang bisa meraup penggemar masing-masing. Terimakasih Bang Dika! Sayangnya, materi Bang Dika ketika tampil sebagai komika sendiri tetap saja tak berkembang dari sekedar area romansa anak muda.

Beberapa waktu lalu Hipwee bikin voting komika paling lucu versi pembaca Hipwee lho, dan ternyata Bang Radit kalah jauh dari beberapa komika lain seperti Ge Pamungkas dan Dodit Mulyanto.

Polling komika hipwee

Polling komika hipwee via suc.metrotvnews.com

Hasil pol komika yang paling lucu versi pembaca hipwee seenggaknya bisa merepresentasikan apresiasi audiens pada Raditya Dika dari segi performa Stand Up Comedy. Ternyata ia tidak terlalu superior, mungkin karena lewat materi yang serupa dengan yang tertulis di karya-karya Bang Dika lainnya, cara menyampaikan komedinya kalah lucu dibanding komika lain.

Malam Minggu Miko pun (masih) soal cinta-cintaan, hm.

Malam minggu miko

Malam minggu miko via i.ytimg.com

Tahun 2013, Raditya Dika mulai melirik Youtube sebagai medium lain untuk menyalurkan karyanya secara visual. Melalui sebuah serial yang berjudul Malam Minggu Miko, doi kembali mencoba menghibur masyarakat Indonesia. Pendekatan dan gaya tuturnya tentu berbeda karena mediumnya lain, tapi wilayah topik materinya tetap sama: galau, jomblo, dan pacaran.

Seiring dengan rasa jenuh yang beranjak melanda, banyak yang berharap Bang Dika mulai merambah wilayah konten yang lain. Atau mungkin karena memang kita aja yang bertambah usia dan nggak lagi merasa relevan dengan komedi Bang Dika?

Serius dikit dong, bang

Serius dikit dong bang materinya via cdn.klimg.com

Bisa jadi problemanya bukan di karya Raditya Dika, melainkan dari khalayak sendiri yang terus bertambah usianya, sehingga merasa kisah-kisah Bang Dika tak lagi menarik. Mereka menemukan idola-idola baru. Ini namanya regenerasi dan sejatinya wajar terjadi sih di dunia kesenimanan atau kepenulisan. Namun, beberapa artis legendaris (musisi, penulis, sastrawan, filmaker) yang hebat melahirkan karya yang sanggup menjaga penggemarnya untuk terus terkoneksi dan menggandrunginya tanpa terbatasi usia. Mungkin seharusnya dengan sejumlah perubahan, Bang Dika bisa mencapai level itu juga.

Oke, bukan bermaksud menjatuhkan atau mengabaikan kualitas seorang Raditya Dika. Bagaimanapun harus diakui peran dan sepak terjangnya tidak main-main. Tanpa karya-karyanya, jagat komedi Indonesia akan jauh berbeda hari ini. Hipwee hanya sekedar mencoba mewakili opini dari mereka yang sudah move on dari Bang Dika. Tabik!

Baca info tentang selebriti lainnya di @migmeseleb!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Follow aja dulu, mana tahu kita cocok.

138 Comments

  1. Ayusti Wigianti berkata:

    Bener banget… dari jaman kuliah udah koleksi semua buku bang dika… tp skrg udah aneh aja bang dikanya… udah ga kaya dulu

  2. Harii Putro berkata:

    gini tong .. seseorang itu punya keahliannya punya kapasitasnya sendiri dan yang sadar akan kapasitas dan keahliannya terus bisa buat karya -karya yang keren begini dan terus konsisten itu engga banyak .. pasarnya bang dika emang remaja, kalau yang dewasa masih suka itu nilai + kalo yang tua juga suka itu bonus .. yang dikerjakan bang dika dan teman teman komedia,penulis atau pun aktor itu adalah seni, dan seni menurut gw sama kaya musik cukup dinikmati tanpa harus di buat pembahasan apapun .

  3. Ardian Fabrianto berkata:

    aneh itu menurut lo semua orang punya kesan dan kenangan tersendiri terhadap seseorang.

  4. Bram berkata:

    voting hipwee bukan jadi landasan mengatakan Radit itu tidak lebih lucu. setiap komedia punya fasilitas dan gaya sendiri. menurutku gaya yang dibawakan radit itu adalah dia, tidak meniru orang dan memang itulah ciri khasnya, dan buat yang bosan itukan tergantung orangnya, mungkin karna ada komedian lain yg baru yg bisa memikat hati kan bisa saja, Sama seperti lagu lawas, terkadang juga bosan dan ada kalanya lagu lawas itu kepengen di dengar lagi dan lagi. tergantung penilaian dong. kita menuntuk radit untuk membuat Materi yang lebih lucu dari sebelumnya saya rasa itu tugas yang sulit, trend hari ke hari berganti, butuh pengalaman lebih lagi untuk mencapai itu

  5. Sherly Mulyawan berkata:

    Gue lebih suka novel satu setengah jiwa nya endang rukmana

  6. Faqih Al-Gifari berkata:

    Kalau gua sih nilainya itu sebagai ciri dari bang dika. Emang kelebihan dia ngomongin keresahan tentang kisah cinta dia.
    Toh sah sah aja kan kalau dia masih berputar disitu, komedinya akan tetap dikenang kok tiap generasi

  7. elshadez berkata:

    kalo gw sebagai penikmat diseluruh bukunya dia, emang betul sih bang dika kisah yang ada dibukunya emang gitu2 aja, tapi ya itu emang ciri khasnya dia, jika ditanya apa sih yang dikenal dari dika? pasti orag2 jawabnya : jones, putus, malam minggu miko, dan penulis. jika memang dia mau membanting stir ke genre yang berbda ya mungkin aja, hanya saja ya itu sulit sekali jika kita berada di zona nyaman lalu ketempat yang gak kita kenal sebelumnya, btw kuala kumal yang dia jadikan film itu sudah berada dalam zona yang “dewasa”, mungkin perlahan2 raditya dika bakal membuat film yang lebih serius, mungkin baru proses

  8. Sonny Andreas berkata:

    Kalau gua sih, memang tidak terlalu lucu tapi ekspresinya itu yg terkadang lucu… Dan juga dari hampir semua filmnya walopun lebih banyak ttg percintaan remaja, banyak juga dimuat tentang nilai” kehidupan yg mungkin jarang di film” lain, jadi walopun mungkin tidak terlalu lucu lagi (selera lucu tiap orang berbeda), tetep ada nilai moral yg bisa diambil…

  9. Rina Savitri berkata:

    Iya gw juga merasakan hal yg sama, thor :V

  10. Adlan Ilmi berkata:

    kalo di liat dia tu jenius lho… kok hipwe membuat artikel menjudge kaya gini yah…

CLOSE