Saat itu pukul 23.00 WIB, waktu yang terlampau larut untuk menikmati suguhan Stand Up Hutan 2018 yang telah dibuka sejak siang hari. Benar saja, saya sampai venue saat para komika telah turun panggung. Memang sih, saya masih kebagian meriahnya penampilan NDX A.K.A, band hip hop asal Jogja tapi tetap saja saya menyesal melewatkan banyak komika yang tampil sebelumnya.

“Tapi tak apalah. Toh esok masih banyak penampil lainnya,” pikir saya.

Advertisement

Mengingat ini bukan piknik melainkan tugas kantor, saya dan Mas Panggah (videografer Hipwee) bergegas mencari Ernest Prakasa. Ketemu. Berkaus oblong, bercelana pendek, dan sarung bergelung di badannya. Saya yang terbiasa melihat Ernest di TV, heran, ini Ernest habis tampil atau jaga ronda, ya? Ternyata, sutradara film Susah Sinyal itu sedang menanti kedatangan mi instan dan es teh sembari bersenda gurau bersama komika lainnya di warung dekat venue. Syahdan, kami membuat janji untuk mewawancarainya esok pagi.

Esok paginya, kami menyelinap ke perkemahan khusus para penampil dan menghampiri tenda tempat Ernest Prakasa beristirahat. Kami disambut hangat. Segera kami ngobrol santai dengan Ernest. Dari stand up comedy, panggung hiburan, sampai dunia perfilman, beginilah perbincangan kami dengan komika sekaligus sutradara kondang Indonesia terkini.

Bagaimana perkembangan stand up comedy Indonesia saat ini?

Stand up comedy muncul, langsung booming waktu itu 2011-2013, sekarang mulai kerasa melambat. Melambat karena memang komikanya udah banyak sekali, banyak yang tidak mendapat ruang. Industrinya tidak bertumbuh secepat komikanya. Televisi bikin acara stand up komedi hanya sekedar kepentingan tayangan.

Advertisement

Di luar panggung, kita nggak punya comedy club yang proper, kita nggak punya sirkuit dan ekosistem yang proper untuk menampung komika sebanyak ini. Tantangannya beberapa tahun ke depan, komika yang sebanyak ini bisa melewati seleksi alam untuk bisa mengembangkan karier mereka masing-masing.

Sepenting apa sih stand up comedy bagi dunia hiburan tanah air?

Hari kedua Standup Hutan 2018 via www.hipwee.com

Penting sekali. Karena ini adalah satu dari sedikit sekali cabang kesenian hiburan yang bisa dijadikan sarana memperjuangkan sesuatu, untuk menyuarakan. Bukan untuk menyuarakan kebenaran, ya, emang belom tentu benar. Tapi at least menyuarakan kejujuran. Menyuarakan apa yang menurut masing-masing komika ini bener. Tidak banyak kesenian yang seperti itu dan dan komedi membuat pesan-pesan yang kita sampaikan jadi lebih mudah dicerna orang.

Apa tantangan terbesar Koh Ernest, yang notabene berasal dari etnis minoritas, dalam berkarya?

Kalau konteksnya berkarya, etnis minoritas ini bukan menjadi tantangan, menjadi keuntungan menurut gue. Ketika gue kecil, remaja, itu menjadi tantangan. Tapi ketika berkarya, itu malah menjadi keunggulan, karena, pertama, gue punya pengalaman unik dan bisa dibikin jadi menarik—yang nggak banyak orang punya.

Yang kedua, karena gue minoritas yang punya masa kecil dan remaja yang lumayan berat, secara nggak langsung itu menempa gue buat punya kegigihan yang cukup untuk bisa menembus semua ini di industri dan dalam berkarya ini. Karena berkarya nggak cuma butuh bakat tapi juga butuh kegigihan.

Tanggapan terkait kasus Coki-Muslim yang kemarin rame?

Kalau ditanya bener atau salah, karena ini hubungannya dengan agama Islam dan gue bukan Islam, mungkin teman-teman yang Islam yang lebih tahu.

Tapi secara umum gue melihatnya (sebagai seorang komika) apa yang mereka lakukan kurang tepat. Maksudnya kita, kan, tahu situasinya saat ini seperti apa, jadi ibaratnya saat ini tuh kita nggak perlu nabrak, cuma nyerempet dikit aja udah nyala apinya. Nggak perlu disulut pakai obor, cuma dipercik dikit apinya, udah nyala. Menurut gue sih terlalu berisiko. Kita bisa kok pake cara lain untuk menghibur, untuk melucu tanpa menyerempet agama.

Pernah ada jokes-nya yang dipermasalahkan nggak?

Hipwee ngobrol seru bareng Ernest Prakasa via www.hipwee.com

Sepanjang karire gue selalu pasti ada aja. Dulu tuh mikirnya kalo gue udah riset dan gue tau ini nggak salah, ya gue nggak takut. Nah kalo sekarang, makin ke sini politisasinya jadi makin berat. Ada beberapa hal yang mendingan jangan disentuh sama sekali, mau udah riset, mau yakin bener, jangan disentuh. Agama contohnya.

Gue kristen dan gue ngomongin Islam, apa pun yang gue omongin gitu bisa jadi rame. Mending sama sekali nggak gue serempet daripada apinya nyala, karena gue bisa cari cara lain untuk membawakan pesan, karena situasinya masalahnya.

Apa harapan Koh Ernest untuk dunia stand up comedy Indonesia?

Komika jangan takut karena kasus-kasus persekusi dan segala macem. Kalau kita bener, kita nggak perlu takut, karena sebanyak-banyaknya orang jahat, orang baik juga banyak gitu, kita punya mekanisme hukum. Kita punya dua hal yang bisa melindungi kita kalo emang kita tidak salah.

Tapi harus bijak juga melihat situasi dan kondisi indonesia yang sekarang. Harus inget seperti apa iklim sosial politik yang sedang terjadi … jadi lebih peka menyikapinya.

Selanjutnya Koh Ernest membicarakan seputar dunia perfilman dan film terbarunya yang akan tayang 20 Desember nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya