Beruntung, Mira Lesmana memilih Ernest yang notabene sutradara spesialis drama komedi. Ernest berhasil memanfaatkan dua tokoh utama yang komikal di AADC menjadi sebuah kisah cinta yang realistis sekaligus mengena. Kalau film AADC 1 & 2 tentang romantisme Cinta dan Rangga, Milly & Mamet bercerita tentang eksistensi dalam kehidupan berumah tangga.

7/10
RATING

Nggak bisa dimungkiri, semakin ke sini kisah kasih Cinta dan Rangga telah luntur karena teralihkan oleh kisah cinta Dilan dan Milea yang lebih fresh dan dekat dengan generasi muda saat ini. Inilah yang mungkin mendasari kelahiran film Milly & Mamet, spin off  film Ada Apa Dengan Cinta.

“… beliau (Mira Lesmana) dateng ke gue dengan konsep bikin spin off untuk AADC Universe dengan menampilkan Milly dan Mamet, tentu saja gue nggak nolak.” – Ernest Prakasa

Advertisement

Bukan Riri Riza, bukan juga Rudi Soedjarwo, kali ini Ernest Prakasa yang memegang tongkat estafet AADC. Dibanding film-film sebelumnya, beban film ini cukup berat. Selain karena idenya dari orang lain, ini merupakan film spin off –susah untuk mencegah penonton untuk tidak membandingkan dengan dua film sebelumnya (AADC & AADC2), meski pada poster jelas tertera “Ini bukan Cinta dan Rangga”.

Lantas seberapa sukseskah Ernest Prakasa lepas dari bayangan dua film sebelumnya? Bagaimanakah hubungan Milly dan Mamet? Apakah seromantis Cinta dan Rangga? Apa pun itu, yang jelas film Milly & Mamet telah menghibur saya. Begini ulasannya.

[SPOILER ALERT]

Problema hidup rumah tangga Milly & Mamet sukses mengalihkan atensi penonton yang sudah terlanjur baper dengan lika-liku hubungan Cinta & Rangga

Milly dan Mamet via id.bookmyshow.com

Sulit untuk melepaskan ingatan penonton tentang romantisme film AADC. Sialnya, kali ini Ernest mesti membuat romantisme dua tokoh yang secara watak bertolak belakang dari Rangga dan Cinta. Mamet (Dennis Adhiswara) yang cupu dan beloon tentu nggak semenarik Rangga yang cuek tapi romantis. Milly (Sissy Priscillia) yang sengklek dan telmi juga bakal kalah jika dibandingkan Cinta yang notabene cantik dan pintar.

Advertisement

Setelah berkeluarga dan punya anak, Mamet ingin membuktikan diri bahwa dia bisa lebih berguna sebagai koki ketimbang jadi bos konveksi yang selalu diremehkan pemilik perusahaan sekaligus mertuanya sendiri. Pun halnya dengan Milly yang ingin membuktikan diri bahwa dia bisa lebih berguna dibanding hanya memberesi rumah dan mengurus anak.

Permasalahan eksistensi juga dialami oleh rekan kerja Mamet, Alex (Julie Estelle). Dia berada dalam misi yang serupa, ingin melakukan pembuktian kepada calon mertuanya bahwa dia bisa sukses juga dengan restorannya. Ernest terbilang cerdik, alih-alih mengisahkan romansa cinta anak muda yang utopis, film Milly & Mamet dituturkan dalam balutan drama suami istri yang realistis.

Plot cerita yang rapi dan konflik yang berlapis-lapis membuat penonton nggak ngantuk terbawa hingga akhir cerita

konflik berlapis-lapis via www.pikiran-rakyat.com

Sebagai seorang yang belum menikah, hemat saya, kekuatan lain film ini terletak pada ceritanya yang penuh konflik. Konflik pertama terletak pada hubungan Mamet dengan mertuanya, Pak Sony (Roy Marten). Lalu munculah konflik kedua, Milly bosan sekaligus cemburu kepada suaminya karena dia hanya di rumah saja, dia ingin lebih berguna!

Kemudian muncul lagi konflik terakhir ketika Milly tahu restoran Mamet bermasalah dan keduanya berdebat hingga menimbulkan jarak. Alur cerita yang begitu rapat dan rapi ini membuat penonton terbawa hingga nggak terasa sudah di akhir cerita.

Sayangnya narasi bertemunya Milly & Mamet hingga menikah terlalu cepat. Ketemu, menikah, dan punya anak hanya dinarasikan dengan pertemuan di bar, mobil mogok, dan montase foto. Kehadiran Geng Cinta porsinya juga terlalu minim, padahal ini bisa jadi penguat hubungan film ini dengan dua film sebelumnya.

Film ini kian manis dengan lelucon panggung stand up comedy yang dibawa. Jelas, berulang kali membuat penonton tertawa

Terselip hiburan ala stand up comedy via lifestyle.sindonews.com

Beberapa lelucon khas panggung stand up comedy diselipkan dengan ciamik sehingga bikin penonton terpingkal-pingkal. Berulang kali, para tokoh seperti Sari (Arafah Rianti) dengan kepolosannya, Rika (Isyana Sarasvati) dengan keanehannya, dan Somat (Bintang Emon) dengan banyolan khas betawinya membuat penonton tegelak.

Sayangnya, dalam beberapa kesempatan Ernest terlihat ambisius. Sedikitnya ada dua sampai tiga lelucon yang nggak ngena, barangkali karena adanya repetisi pola jokes yang bikin saya bosan atau memang karena penempatanya nggak tepat. Yang paling mengganggu tentu adegan Mamet meminta maaf kepada Milly di hadapan James (Yoshi Sudarso). Momen haru sekaligus romantis itu rusak gara-gara tangisan Mamet yang komikal.  Mestinya biarkan saja adegan itu serius. Padahal bagian itu hampir kena pada saya yang kadang gengsi berbuat serupa kepada pacar sendiri.

Tapi Ernest terbilang sukses mengalihkan romansa Rangga dan Cinta dengan drama Milly dan Mamet. Isu yang jelas dekat dengan penggemar AADC yang (harusnya) sudah banyak menikah dan punya momongan. Nggak heran kalau banyak penonton yang puas dengan film Milly & Mamet meski nggak ada drama bandara atau romantisme cinta lama bersemi kembali ala Cinta dan Rangga. 🙂

Ya, benar saja sih soalnya Cinta dan Rangga sudah kelewat tua untuk milenial.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya