Nggak tahu kenapa ada yang beda saja kalau dekat kamu. Mau nggak kamu jadi pacarku?

Nggak cuma cowok yang deg-degan saat nembak gebetan, cewek yang menerima momen itu juga merasakan hal yang sama. Bener nggak? Meski cuma tinggal bilang “mau” dan “maaf nggak bisa” aja jantungmu berdetak nggak beraturan, serasa mau copot. Bukan apa-apa, soalnya ini menyangkut hubungan yang melibatkan pasangan, jadi ya mesti hati-hati.

Advertisement

Urusan perasaan memang nggak bisa main-main sebab salah sedikit bisa menyakiti atau justru malah kamu disakiti. Maka sebisa mungkin kamu nggak gegabah dalam mengambil keputusan. Pertimbangkan matang-matang. Tanyakan pada dirimu dahulu sebelum menerima ajakannya untuk pacaran.

1. Apakah kamu benar-benar mencintainya? Atau kamu hanya butuh pelarian atau pelampiasan saja?

Pelarian via www.unsplash.com

Pertanyaan ini merujuk pada kelapangan dadamu atas cinta yang sebelumnya. Apakah kamu sudah bisa berdamai dengan masa lalumu? Kalau dasarnya belum, besar kemungkinannya kamu hanya mempermainkan dia saja dengan menjadikannya pelarian atau pelampiasan cinta.

2. Kalau memang benar cinta, apakah sudah siap memulai hubungan lagi?

Cinta kadang nggak cukup via www.pexels.com

Dalam menjalin sebuah hubungan kadang cinta saja belum cukup. Masa lalu jelas harus tuntas. Komitmen juga harus jelas. Buat apa pacaran kalau nggak berkomitmen. Buang waktu dan masa muda saja. Mending kejar cita-cita saja kalau begitu.

3. Apakah kamu pun sudah yakin kebaikan dia berasal dari hati bukannya cuma pencitraan saja?

Amati lagi calonnya via www.unsplash.com

Advertisement

Sosoknya yang baik memang mengagumkan dan bikin jatuh hati. Tapi jangan gegabah mencintai sebelum kamu tahu bagaimana dia aslinya. Nggak menutup kemungkinan kan sikap dia selama ini pencitraan. Bukannya su’uzan, tapi kan banyak cowok yang begitu saat PDKT. Mumpung belum jadian.

4. Apakah dia bisa menutupi kekuranganmu? Atau malah dia menambah masalah saja?

Melangkapimu via www.pexels.com

Cinta sejatinya mengapresiasi kelebihan dan menutupi kekurangan pasangan. Lihat lagi apakah sosoknya sudah memenuhi dua syarat sederhana itu. Kalau belum pertimbangkan lagi sebelum menerimanya. Namun kalau sudah, maka kamu layak berbahagia sebab bisa jadi dia adalah sosok yang tepat untukmu.

5. Jangan buang waktu dengan cinta yang bercanda. Yakinkah kamu memilikinya?

Jangan bercanda via www.unsplash.com

Urusan cinta nggak bisa bercanda. Nggak bisa kamu pura-pura menerimanya hanya untuk mendapatkan label “taken” saja. Sungguh perbuatan jahat. Bagaimana jika kamu yang berada dalam posisinya, pasti sakit bukan? Pastikan kamu benar-benar mencintainya. Jalin hubungan dengan penuh tanggung jawab.

6. Sebagaimana air laut, cinta juga ada pasang surutnya. Apakah kamu masih mau memperjuangkannya saat sedang surut-surutnya?

Perjuangan cinta via www.pexels.com

Saat kamu sudah menerima cintanya, itu berarti kamu mesti siap menanggung segala resiko dan tanggung jawab cinta. Nggak bisa kamu hanya mau menerima enak-enaknya lalu pergi di saat sedang susah. Kalau kamu menikmati kebahagiaan dari hubungan, maka kamu juga harus mau menerima kondisi terburuk dalam hubungan.

Kamu harus siap membantu dan menemani jikalau tiba-tiba dia kesulitan. Sebab itu sudah menjadi tugasmu sebagai pasangan. Tenang saja, kalau memang benar cinta, dia pasti akan melakukan hal yang sama kepadamu.

7. Kebosanan sering melanda hubungan. Bila nanti saatnya telah tiba, akankah kamu memilih bertahan daripada pergi meninggalkannya?

Di usiamu yang sekarang, memilih hubungan haruslah berorientasi masa depan. Ingatlah teman-temanmu sudah pada menikah. Maka dari itu banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Bayangkan kemungkinan terburuk, apakah kamu masih akan tetap bersamanya meski dalam keadaan yang nggak menentu.

Bosan contohnya. Bosan seringkali jadi momok yang menghantui mereka yang pacaran. Nah ketika kebosanan tiba, apakah kamu lebih memilih bertahan atau melepaskan?

8. Usiamu nggak lagi muda, sudikah menjalani hubungan yang serius dengannya?

Komitmen via www.unsplash.com

Sudah bukan waktunya kamu bermain-main dengan hubungan. Setiap keputusan mesti kamu pertimbangkan. Memilih pacar nggak sesederhana memilih cowok di Tinder yang asal ganteng dan keren saja enteng untuk menggeser ke kanan. Semua ada konsekuensi di belakang. Nggak main-main, ini menyangkut hati dan perasaan. Namun kalau kamu sudah benar-benar yakin, maka terimalah ajakannya berpacaran. Dan bersiap dengan lika-liku cinta yang kadang membahagiakan juga kadang menyakitkan.

Meski sekadar memilih pacar, tapi kamu mesti selektif. Jangan kayak yang sudah-sudah nanti malah dapat lagi cowok yang cuma bikin resah. Lagipula tujuannya pacaran kan menuju pelaminan, maka pilihlah dia yang kriterianya cocok untuk dijadikan teman hidup. Sebelum menerimanya, pikirkan dahulu matang-matang.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya