“Kita satu jiwa dalam dua badan yang berbeda. Kita pernah berbagi remah-remah tawa dan mencerapi rinai air mata – bersama.

Meski hari ini kita tak sedang duduk bersisian. Kukirim kau selembar tulisan mengenang kawan. Sekadar pengingat bahwa kau tak pernah sendirian. Secarik penyemangat karena kau tak akan kesepian.

Teruntuk kamu yang menemani manis getir perjalanan hidupku. Terima kasih, kuucap tulus dari lubuk hatiku.”

Hei kamu, yang lebih sering kupanggil “Ndut” dan “Nyet”

kamu yang sebagian jiwanya berdiam dalam diriku

kamu yang sebagian jiwanya berdiam dalam diriku via arianarandlephotography.com

“Apa kabarmu, Sahabatku?”

Advertisement

Rasanya canggung sekali menyebutmu “sahabat” mengingat kita biasa bertukar sapaan kasar. Aku yang nyaman menyapamu dengan “Nyet”. Dan kau pun lebih suka memanggilku dengan “Ndut”. Hehehe. Nama-nama yang sekenanya memang justru menjadikan kita terikat erat, ‘kan?

Sahabat, detik ini Sang waktu memang tak sedang berbaik hati menawarkan pertemuan. Meski dari kejauhan, ingin rasanya kutepuk pundakmu. Ingin kunikmati air mukamu yang berubah riang ketika mata kita saling bertemu. Ingin kutagih semua penjelasan karena kau masih berhutang cerita perihal kehidupanmu yang sekarang.

“Apa pekerjaanmu cukup menyenangkan? Ataukah rutinitas justru membuatmu bosan? Mungkinkah kau masih bergelut dengan segala remeh-temeh dunia perkuliahan?”

Advertisement

Inginku, apapun yang sedang kau kerjakan bisa berjalan lancar. Aku bayangkan kau tengah bahagia menikmati mimpi demi mimpi yang berhasil dieksekusi. Kau mungkin akan kewalahan bercerita tentang segudang prestasi yang belakangan ini kau akrabi.

Kelak saat akhirnya kita bisa bertemu, ingin kubagi pula perihal pencapaian-pencapainku. Bahwa sekarang hidupku sudah cukup mapan – punya pekerjaan tetap dan gaji bulanan. Aku tak lagi sering-sering menyantap mie instan. Dan jangan khawatir karena aku tak akan minta ditraktir makan, seperti dulu saat kita masih jadi anak kuliahan.

Walau tidak setiap hari berduaan, kamulah orang pertama yang ingin kuhubungi tiap momen penting hidup berdatangan

bersamaku mengarungi tanjakan an turunan kehidupan

bersamaku mengarungi tanjakan an turunan kehidupan via arianarandlephotography.com

Kita adalah sepasang kawan meski tak saban hari terlihat berduaan. Kau sibuk dengan tugas-tugasmu, pun aku yang berjuang menuntaskan kewajibanku. Masing-masing dari kita punya kehidupan sendiri. Toh tak semua yang kita miliki harus selalu dibagi.

Tapi, bukankah namamu yang nyatanya kuingat paling pertama saat momen bahagia? Bukankah nomor teleponmu yang biasanya segera kuhubungi ketika sedih atau kecewa melanda? Ya, karena kaulah yang selalu siap menyambutku dengan tangan terbuka. Kamu yang dengan ikhlas menyumbangkan senyum puas melihatku diwisuda. Kamu pula yang merelakan bahumu untukku bersandar kala dihantam derita putus cinta.

Aku pun mengingatmu yang tak bosan-bosan mendengarku bercerita; soal rekan kerja, gebetan baru, hingga perkara keluarga. Kamu yang tak keberatan merelakan waktu demi menemaniku bicara tentang apa saja. Maka sahabatku, kali ini aku ingin sejenak menikmati rinduku pada “kita”.

“Jika hidup ibarat bersepeda, kita kompak mengayuh bersama. Jalan terjal, tanjakan, turunan, hingga kubangan tak seberapa berat terasa. Kita sedang mengayuh sambil tertawa, pun menikmati pemandangan. Karena kitalah yang sama-sama tengah merayakan kehidupan.”

Padamu, kubagikan cerita kelam di masa lalu hingga mimpi-mimpi paling gilaku

berbagi masa lalu dan impian gilaku

berbagi masa lalu dan impian gilaku via arianarandlephotography.com

Aku dan kamu sama-sama tak terlahir sebagai manusia sempurna. Persahabatan kita pun bukannya tanpa cacat yang kentara. Kita pernah berselisih paham, atau sering punya pendapat yang berseberangan. Tapi, nyatanya tak satu pun alasan yang lantas membuat kita saling meninggalkan.

Kau mungkin pernah kesal lantaran sifatku yang keras kepala. Kau bisa jadi uring-uringan menanggapi sikapku yang suka merajuk manja. Namun, meski sudah baik-baik mengenalku luar dalam, tak kulihat niatmu untuk mengabaikan. Kau yang paling tahu sebrengsek apa aku dulu. Dan bagaimana aku masih berjuang meninggalkan diriku yang itu. Ah, aku tahu kamu hanya akan merangkul pundakku sambil sibuk menjelaskan;

“Bahwa setiap manusia berhak dapat kesempatan kedua. Setelah puas berkubang dalam dosa, ada saatnya bangkit, bertaubat, dan jadi pribadi yang berbeda.”

Denganmu, aku tak canggung-canggung berbagi mimpi dan rencana-rencana gila. Tentang anganku melanjutkan kuliah ke luar negeri, membangun bisnisku sendiri, hingga inginku mengirim orang tua naik haji.

Iya, memang sudah selayaknya aku bekerja dalam diam. Tanpa angan yang perlu diumbar dan cukup fokus saja mewujudkan harapan jadi kenyataan. Tapi kawan, aku butuh kamu yang tak bosan-bosan memberiku dukungan. Meski caramu memberi motivasi adalah menyebutku sebagai pecundang. Ya, aku masih terus lekat-lekat mengingat kamu yang pernah berujar;

“Hidup hanyalah sekadar merawat mimpi, sedangkan masa depan adalah milik mereka yang menyiapkan hari ini.”

Maka jika ditanya; siapa yang paling kupercaya? Aku bisa mantap menjawab kamulah orangnya. Cerita-ceritaku yang dijamin “aman” dibagi denganmu, karena memang kamu yang akan baik-baik menjaga lisan atas segala yang kulabeli sebagai rahasia hidupku.

Terima kasih. Untuk selalu hadir dan ada lewat berbagai cara. Meski jarang bertukar kata cinta, ketahuilah namamu tak pernah luput kubawa dalam doa

terima kasih karena berkenan ambil bagian dalam hidupku

terima kasih karena berkenan ambil bagian dalam hidupku via arianarandlephotography.com

Sekadar tulisan ini bisa jadi bukti seberapa penting kehadiranmu, seberapa hebat aku mengidolakanmu, dan betapa aku bersyukur memilikimu. Meski kata-kataku terkesan sederhana, atau kalimat-kalimat yang kususun tak tampak luar biasa, aku mengetiknya dengan haru dan penuh rasa tulus cinta.

Lewat tulisan ini, aku hanya ingin mengirim ucapan terima kasih. Kau tahu kalau lisanku tak lihai berkata-kata. Kau paham aku akan canggung dan bicara terbata-bata. Jadi jika surat ini benar-benar kamu baca, jangan sekali-kali tertawa hingga terkencing-kencing di celana. Aku demikian berusaha agar kau bisa berbangga setelah membacanya.

Sahabat, sampai hari ini aku belum diberi amanat jadi orang kaya raya. Belum punya rumah, mobil pribadi, atau tabungan milyaran yang bisa kubagi-bagi. Meski aku sudah punya semuanya, toh persahabatan kita tak layak dihargai materi. Aku hanya bisa sekadar menyebut namamu dalam perbincanganku dengan Tuhan. Saban lima kali sehari, menjelang penghujung malam, atau saat akhir pekan.

“Kutitipkan salam dan keinginanku pada Tuhan, agar hidupmu baik-baik dan tak kekurangan. Semoga hari-harimu bahagia dan kau diberi kesehatan. Harapanku, agar doa-doa yang biasa kau rapal segera dapat jawaban. Semoga Dia berkenan mewujudkan mimpi-mimpimu jadi kenyataan.”

Berjanjilah. Tak peduli tangan dan tubuh makin jarang bisa lekat, kita akan tetap punya ikatan kuat

tanpa tangan yang berjabat, kita punya ikatan erat

tanpa tangan yang berjabat, kita punya ikatan erat via arianarandlephotography.com

Sekali lagi, tak ada yang berbeda meski kita terpisah jarak, ruang, maupun waktu. Aku disini sedang lekat-lekat mengingat tentangmu. Kau pun pasti tak begitu saja melupakan aku sebagai kawan terbaikmu.

Jika saat ini kau tengah bergelut dengan kejamnya hari-hari, kau tahu siapa yang bisa segera ditemui. Semisal kau tak sanggup menanggung bebanmu sendiri, kau paham siapa yang layak diajak berbagi. Berjanjilah. Jangan pernah merasa sendiri. Meski tak langsung bisa mendampingi, kau perlu tahu bahwa dukunganku selalu bisa kaudapat bahkan hanya lewat satu jentikan jari.

Tapi Sahabatku, jika ternyata kau sudah cukup bersuka cita. Mencerapi jalan hidup yang sudah lama kau damba. Menggeluti pekerjaan yang kau sebut juga sebagai renjana. Menemukan pasangan jiwa yang kau nanti sekian lama. Kau tahu pasti – aku disini sedang mengenangmu sambil turut tersenyum bahagia.

Dari aku,

Seorang sahabat yang tak sabar ingin segera merengkuh pundakmu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya