Bayan merupakan suatu daerah di Lombok Utara yang menyimpan berbagai macam pesona. Mulai dari wisata, budaya, hingga kerajinan tangannya.

1. Masjid Kuno Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Beleq via http://google.com

Masjid Kuno Bayan Beleq

Advertisement

Masjid Bayan Beleq adalah sebuah masjid Wetu Telu yang terletak di jalan Labuan lombok, desa Bayan, kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat atau sekitar 80 km dari ibukota provinsi NTB, yakni Mataram. Meski bentuknya sederhana, namun Masjid Bayan Beleq memiliki keistimewaan tersendiri, yakni telah menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Indonesia.

Masjid ini berdiri pada abad ke-17, yang berarti usianya telah lebih dari 300 tahun. Kecamatan Bayan memang salah satu gerbang masuknya Islam di Pulau Lombok. Di kecamatan inilah, Islam pertama kali diperkenalkan, dan Masjid Bayan Beleq merupakan masjid pertama yang berdiri di pulau ini.

Bangunan masjid memiliki ukuran 9 x 9 meter. Dinding-dindingnya rendah dan terbuat dari anyaman bambu, atapnya berbentuk tumpang yang disusun dari bilah-bilah bambu, sedangkan fondasi lantainya terbuat dari batu-batu kali. Sementara itu, lantai masjid terbuat dari tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh.

Advertisement

Di sudut-sudut ruang masjid terdapat empat tiang utama penopang masjid, yang terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder. Di dalam masjid tersebut, juga terdapat sebuah bedug dari kayu, yang digantung di tiang atap masjid. Di dalam masjid ini, terdapat beleq (makam besar) salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yakni Gaus Abdul Rozak. Selain itu, di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk ini, terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurusi masjid ini sedari awal.

2. Masjid Kuno Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Beleq via http://google.com

Masjid Kuno Bayan Beleq

Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat memang memesona bagi para pendaki gunung Indonesia maupun mancanegara. Keindahan Segara Anak, bukit-bukit sepanjang perjalanan, lautan awan di puncak gunung, serta predikat salah satu gunung tertinggi di Indonesia seakan magnet bagi para pendaki gunung untuk "mencicipi" Gunung Rinjani. Jalur Senaru yang terdapat di Bayan merupakan salah satu jalur yang bisa mengantarkan para petualang mencapai puncak Rinjani.

Kendaraan umum dari Mataram-Anyar Bayan-Senaru. Jalur pendakian Senaru merupakan pintu pendakian barat Gunung Rinjani. Jalur pendakian Senaru selain sebagai jalur wisata treking juga kerap dipergunakan sebagai jalur pendakian oleh masyarakat adat Sasak yang akan melakukan ritual adat atau masyarakat umat Hindu yang akan melakukan ritual keagamaan Mulam Pakelem di Puncak Gunung Rinjani atau Danau Segara Anak.

3. Masjid Kuno Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Beleq via http://google.com

Masjid Kuno Bayan Beleq

Kain tenun daerah Bayan memiliki keunikan yang menarik untuk kita ketahui, salah satunya adalah dalam proses pembuatannya. Masayarakat Bayan masih membuat kain tenun secara tradisional. Mengapa dibilang masih tradisional? Karena proses pembuatannya dilakukan secara manual dan hanya menggunakan sumber daya manusia yang dibantu oleh sebuah alat sederhana yang terbuat dari kayu, bukan menggunakan mesin.

Seperti kain tenun pada umumnya, kain tenun dari Desa Bayan mempunyai berbagai motif dan jenis yang unik dan khas. Seperti “Londong Abang” yang merupakan nama dari salah satu kain tenun khas Desa Bayan yang berupa sehelai kain yang memiliki motif garis atau kotak-kotak dengan dominasi warna merah, kain ini digunakan oleh para laki-laki sebagai penutup bawah atau sebagai sarung.

Setelah itu, ada juga kain “Kereng Poleng” dengan motif yang warna-warni, dan biasanya digunakan oleh seorang perempuan di Desa Bayan. Bayan juga memiliki kain tenun yang dipergunakan untuk ikat kepala, yaitu “Jong” dan “Sapuk”, kedua kain ini digunakan sebagai ikat kepala. Namun yang membedakan adalah Jong digunakan oleh kalangan perempuan, sedangkan Sapuk digunakan oleh kalangan laki-laki.

4. Watu Telu

Watu Telu

Watu Telu via http://google.com

Watu Telu

Wetu Telu (bahasa Indonesia:Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam pada masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap.

Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.

Lokasi yang terkenal dengan praktik Wetu Telu di Lombok adalah daerah Bayan, yang terletak di Kabupaten Lombok Utara. Pada lokasi ini masih dapat ditemukan masjid yang digunakan oleh para penganut Wetu Telu. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa.

Namanya "Kemaliq" yang artinya tabu,suci dan sakral.terletak di desa Lingsar, Kabupaten Lombok Barat yang setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama "Upacara Pujawali Dan Perang Topat" sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Tuhan YME pada umat manusia.

5. Minuman Berem Saat Acara Adat

Minuman Berem Saat Acara Adat

Minuman Berem Saat Acara Adat via http://google.com

Minuman Berem Saat Acara Adat

Brem adalah bahasa Sasak untuk menyebut sebuah nama minuman tradisional yang terbuat dari ketan putih atau hitam, yang difermentasi. Sejarah mencatat brem sudah dikenal manusia sejak berabad-abad lamanya. Masyarakat Bayan menunjukkan keramahan dan keakraban pada tamu salah satunya dengan cara mengundang siapa saja yang ingin duduk di berugaq rumahnya, berbincang sambil mencicipi hidangan yang disediakan.

Selain minuman berupa kopi, teh dan makanan kecil, lazimnya orang Bayan akan menghidangkan brem. Brem dihidangkan dalam teko plastik, ditaruh dalam nampan seng disertai makanan kecil seperti rengginang atau jaja tujak (keduanya seperti krupuk dari ketan). Namun apabila tamu menolak karena menganggap brem seperti minuman keras layaknya alkohol dan dilarang oleh agama, maka orang Bayan tidak memaksa dan tidak menghidangkan.

Memang dikalangan masyarakat umum, brem itu diharamkan karena dianggap memabukkan sama seperti minuman keras lainnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya