ITS, kependekan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya bukan Institut Teknologi Surabaya seperti yang seringkali salah dikatakan orang, apalagi Institut Teknologi Swasta -_-". ITS memang salah satu perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia. Untuk itulah jangan ragukan lagi kualitasnya. Memang kebanyakan dari lulusan ITS terlihat low profile dan cenderung kurang eksis dibandingkan lulusan kampus-kampus di barat. Memang kultur budaya ketimuran barangkali melekat di para mahasiswa dan mereka yang sudah lulus dari ITS. Tapi justru karena perbedaan itulah yang menjadikan alumni ITS ini layak kamu jadikan jodoh. Penasaran kan kenapa ? 

Sekilas Alumni ITS memang terlihat low profile. Tapi di situlah kelebihan mereka. Tenang tapi menghanyutkan. 

1. Alumni ITS Terkenal Loyal. Tentu kamu butuh kan calon suami atau istri yang loyal sama kamu

Mahasiswa ITS via http://www.facebook.com

Kebanyakan alumni ITS ketika sudah bekerja dikenal dengan loyalnya. Iya, memang yang lucu para recruiter yang beberapa kali memberi seminar ke mahasiswa ITS sering bercerita, bahwa pertanyaan dalam tes kerja yang biasanya susah dijawab alumni ITS itu adalah ketika di tanya "Berapa Gaji yang Diinginkan?". Kebanyakan ada yang malu-malu, ada yang menyebutkan sesuai standar, atau pun jika mematok tidak terlalu tinggi. Namun secara kinerja mereka etos kerjanya baik dan loyal. Bahkan jika teman-teman sekarang mengamati, mengapa kok cenderung petinggi BUMN BUMN banyak yang dari alumni ITS, misal Dirut PT Garuda yang dulunya Diriut PT Citilink, Pak Arief Wibowo, kemudian Dirut Pertamina yang dulunya Dirut PT Semen Indonesia Pak Dwi Soetjipto, dan beberapa perusahaan nasional lainnya. Ketika saya bekerja praktek di PT GMF AeroAsia, kebanyakan General Manager dan petinggi-petingginya alumni ITS. Advisor saya berkata bahwa alumni ITS memang dikenal loyal ketika sudah di perusahaan. Mereka tidak mengejar uang yang banyak, tapi kebahagiaan dan kenyamanan dalam bekerja. Umumnya alumni-alumni universitas lain malah sudah keluar ada yang pindah ke dubai, ke eropa, dan ke perusahaan lainnya, sehingga ketika di GMF dulu cuman dijadikan "batu loncatan" untuk mencari karir yang lebih tinggi dan gaji yang lebih besar.

Mereka tidak mengejar uang yang banyak, tapi mencari kebahagiaan dan kenyamanan dalam bekerja.

Saat kelak jodohmu loyal pada pekerjaannya, dan perusahaan tempatnya bekerja, apalagi sama pasangannya? Ditambah karena loyalnya pada perusahaan hidupmu berkeluarga tentu tidak berpindah-pindah atau nomaden dari kota satu ke kota yang lain untuk mengejar gaji yang lebih tinggi semata. Nah, kalau pindah-pindah yang paling kasihan kan anak-anakmu nanti bukan? Dia harus berpindah-pindah sekolah dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

2. Tentu Kamu Butuh Strong Man dan Strong Woman. ITS Terkenal dengan Kaderisasinya yang Luar Biasa.

Advertisement

Pengaderan di Teknik Elektro via http://mediacenter.ikaelits.or.id

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pengaderan di ITS terkenal dengan kerasnya, walaupun sekarang sudah cenderung melembek sih, tapi nilai yang ditekankan tidak jauh beda. Yaitu membangun solidnya angkatan. Bayangkan dalam satu bulan kurang biasanya kita sudah di suruh menghafal satu angkatan penuh yang jumlahnya sih kalau di jurusan saya bisa sampai 150-200 orang. Kadang tidak hanya menghafal nama saja, namun juga asal kota, bahkan NRP (semacam Nomor Induk Mahasiswa, istilah NRP untuk ITS). Setelah proses menghafal apakah cukup di situ saja? Tentu tidak. Solidnya angkatan di ITS juga dikenal dengan susah satu susah semua. Seringkali kita ada panggilan malam, kemudian ada yang diculik warga, bahkan ada yang semisal pulang ke kos ketahuan jalan kaki, lantas satu angkatan dimarahi karena dianggap nggak peduli. Hal itu berlangsung berbulan-bulan di mana solid angkatan di tanamkan mulai dari diberinya penugasan, di marahin bareng-bareng, pun juga kadang ada kakak yang bertugas malah mendampingi dan senang-senang bareng-bareng. Akhirnya output dari kaderisasinya ketika kita di angkat menjadi warga adalah kita lahir sebagai sebuah keluarga yang diakselerasi kekeluargaanya.

Membangun Angkatan yang Segitu Banyaknya saja bisa solid. Apalagi nanti membangun keluarga yang jumlahnya ga banyak. Solidnya dunia akhirat Insya Allah

Nah, kebayang kan, anak ITS aja sudah dididik untuk membangun keluarga dengan ratusan orang se-angkatannya. Mereka juga mampu membuktikan menjadi solid. Apalagi nanti ketika membangun rumah tangga yang jumlah-nya tentu nggak sebanyak angkatannya. Kebayang kan solidnya kayak apa.

3. Pola hidup sederhana ala Arek Suroboyo + ITS Kampus Kerakyatan. Anak ITS siap diajak hidup susah.

Warung Kopi, Menjamur di Sekitar ITS. Betapa Sederhananya Gaya Hidupnya via http://suaraindonesia-news.com

Kalau kamu tanya anak ITS kebanyakan nih, (walaupun nggak semua, terutama cowok) milih cangkruk di cafe atau di warkop? Jawabannya pasti kebanyakan warkop. Kalau di tanya lagi milih makan di KFC atau di Warteg ? Jawabannya pasti kebanyakan di Warteg. Tentu saja kita sudah tahu bahwa harga makanan di Surabaya itu murah, pun demikian dengan biaya hidupnya. Satu porsi nasi, sayur, ayam, tempe/tahu, plus minum air putih saja harganya bahkan ada yang hanya sekitar 6000 sampai 7000 rupiah. Kalau mau lebih sederhana lagi, nasi, sayur, ditambah tempe tahu, plus minum air putih, harganya cuman 4.500 rupiah saja.

Prinsip hidup sederhana itulah yang dianut anak ITS. Mereka sudah biasa melewatkan hari-hari hanya dengan makan sederhana, namun jangan tanya tetap saja otaknya tokcer luar biasa. Nah, apalagi kan di jaman yang serba modern ini susahnya cari calon pasangan hidup yang siap diajak susah? Anak ITS adalah jawabannya, mereka siap diajak susah bareng, dan mereka siap diajak nikah muda sebelum mapan. Kebayang ga sih romantisnya menikah dalam perjuangan menuju kemapanan bersama.

4. Cowok ITS Berjiwa Melindungi. Buktinya Saat Kaderisasi dan Pasca Kaderisasi

Makan Bareng di Sekitar Graha ITS via https://hattatactics.files.wordpress.com

Nah, balik lagi nih ke kaderisasi. Tentu saja salah hantu di kaderisasi ITS adalah ketika ada angkatan kita yang diculik sama warga. Makannya pas sesi warga atau pendampingan sehari-hari seringkali mata kita siaga dan awas terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Bahkan pernah sampai adu fisik demi melindungi teman-teman satu angkatannya diciderai angkatan lain. Memang itu hal yang kurang baik sih, tapi positifnya adalah mereka memiliki kecintaan yang luar biasa dengan angkatan, bahkan berani mempertaruhkan jiwa dan raganya. Nah, begitulah salah satu ciri cowok ITS, mereka udah dididik untuk melindungi. Bahkan saat baris berbaris pun posisi perempuan harus di tengah, dan dipagari oleh para cowok-cowok ITS. Tuh kan kebayang gimana berjiwa ksatrianya anak ITS.

Selama kaderisasi, senior selalu menekankan tentang cewek yang didahulukan, baris yang memposisikan cewek di tengah, mengantarkan pulang kalau kemalaman, dan hal-hal lainnya yang fitrahnya memang dilakukan oleh cowok.

5. ITS adalah Kampus Pahlawan. Pahlawan yang Dulunya Memperjuangkan Rakyat. Semangat kepahlawanan itu Membuat Anak ITS tak Ragu untuk Mengabdi

Departemen Sosial Masyarakat HMTI ITS via https://scontent-sin.xx.fbcdn.net

Tentu karena letak geografis ITS di Surabaya yang dikenal dengan sejarah pertempuran Sepuluh Nopember itulah maka anak ITS sudah ditanamkan nilai-nilai kepahlawanan sejak mahasiswa baru. Maka dari itulah aktivitas kemahasiswaan dan keorganisasian di ITS jangan ditanya lagi. Tentu para aktivisnya selain loyal mereka tak ragu untuk turun tangan menunjukkan pengabdiannya di bidang masing-masing.

Ditempa di Kampus Pahlawan, tentu kamu tidak ragu jika suatu saat suami atau istrimu menjadi pahlawan dengan kebermanfaatan untuk masyarakat sekitarnya.

Tentu selepas menikah nanti, kamu bisa memilih. Ingin menjadi keluarga yang biasa-biasa saja, atau menjadi keluarga yang bermanfaat bagi sekitarnya. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa ITS aja dia masih sempat memikirkan sekitarnya, apalagi nanti ketika berkeluarga, pasti dia akan mengajakmu untuk mengabdi bersama-sama untuk masyarakat sekitarnya.