Millennial? Hm.

Jika kamu cukup rajin mengulik-ngulik literatur mengenai pengembangan diri, pastinya sudah tak asing lagi dengan pembahasan mengenai generasi millennial atau biasa disebut dengan Gen Y.

Ya, terminologi ini digunakan untuk menyebut kamu dan saya dalam konteks pengelompokan generasi (Traditionalists, Baby Boomers, Gen X, Millennials (Gen Y), dan Gen 2020 (Gen Z)Harvard Business Review, 2009).

Layaknya teori, sebenarnya tidak ada kesepakatan yang absolut mengenai pengelompokan generasi, termasuk ketetapan mutlak mengenai periode kapan dimulai dan berakhirnya tiap kelompok generasi. Untuk Gen Y sendiri pun demikian. Namun beberapa literatur menyebutkan hal yang sama, bahwa periode generasi ini berada dalam rentang tahun 1980-2000-an.

Kamu dan saya pasti setuju bahwa tiap generasi berhadapan dengan masa yang berbeda, yang dibangun atas rangkaian fenomena dan tantangan yang berbeda pula di setiap zamannya. Menjadi suatu hal yang wajar jika antara satu generasi dengan generasi yang lain memiliki pola karakterteristik yang tidak sama.

Mungkin tidak jarang jika kita pernah mengeluarkan selentingan yang bernada menghakimi karakter generasi yang berbeda dengan kita. Atau bahkan mungkin sebaliknya, tidak jarang kamu dan saya mendengar label tertentu (bisa positif maupun negatif) yang dilekatkan pada diri kita sebagai bentuk generalisasi atas persepsi mereka terhadap generasi kita. Meskipun pada dasarnya, apa yang dipersepsikan pihak eksternal sangat bergantung dengan apa yang kita lakukan sebagai individu, sebagai pribadi, bukan generalisasi atas sekelompok generasi tertentu.

“Anak muda zaman sekarang bener-bener ya semangatnya. Kalo udah pengen A, ya harus A”

 

“Duh, ni anak kalo udah pengen sesuatu, kekeh deh. Keras kepala. Maunya sendiri!”

 

Tidak ada yang salah dengan persepsi. Menjadi hal yang wajar ketika manusia membentuk persepsi atas informasi yang mereka terima. Jadi, sah-sah saja ketika diri kita dipersepsikan oleh mereka yang berbeda generasi, sesuai dengan latar belakang dan pengalaman yang mereka telah jalani. Terkadang pergesekan tak terhindarkan sebagai bagian dari adanya perbedaan. Tapi jika kita bisa memaknai dengan lebih positif, bukankah perbedaan ini membuat kita bisa saling melengkapi satu sama lain untuk mencapai sukses bersama? Bagi kita yang sudah mencicipi dunia kerja, kecakapan untuk berkolaborasi antar generasi menjadi hal mutlak untuk dimiliki. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari generasi lain, begitu pula sebaliknya.

Tidak jarang saya menemukan beberapa bahasan bernada sinis dalam mempersepsikan Gen Y. Tapi percayalah, maksudnya mungkin baik.  

Sah-sah saja jika kita memiliki persepsi atas diri kita sendiri. Namun, harus diakui bahwa penilaian objektif biasanya berasal dari luar diri. Setuju kan kalau  berani menerima masukan adalah bagian dari proses pendewasaan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

Beberapa hal ini adalah beberapa pesan dari mentor-mentor saya, sebagai bukti cinta generasi mereka (Gen X) pada generasi kita (Gen Y):

 

1. Menghargai dan Mencintai Proses

Hargai Proses untuk Mencapai Sukses

Hargai Proses untuk Mencapai Sukses via http://www.slideshare.net

Bersyukurlah kita dianugerahi segala kemudahan yang menunjang hidup di era ini. Mulai dari sekedar ingin bertegur sapa dengan sahabat lama, mencari jurnal-jurnal internasional sebagai bahan literatur skripsi, atau bahkan mengirim aplikasi untuk melamar ke perusahaan impian, semua tinggal klik. Bahkan untuk hal sesederhana seperti saat kelaparan di tengah malam, kita tinggal buka aplikasi di smartphone. Semuanya ada tersaji untuk kita. Jika boleh dikatakan, di era ini, satu-satunya tantangan yang harus kita lawan untuk mencapai impian adalah diri kita sendiri. Soal tekad, soal kerja keras, dan usaha.  

Segala kemudahan ini ternyata berimplikasi pada cara kita mempersepsikan hasil. Gen Y memiliki kecenderungan untuk melihat hasil pekerjaan berbuah seketika dan keinginan untuk mendapatkan pengembangan yang cepat. Melansir dari artikel di situs TIME, pada sebuah survei ditemukan bahwa 40% Gen Y merasa perlu mendapat promosi setelah 2 tahun bekerja. Gen Y biasanya ingin karir yang menjanjikan dan instan.

Bagaimana menurutmu?

“There is no elevator to success. You have to take the stairs” –Zig Ziglar

Kecanggihan teknologi mungkin telah membantu kita untuk dapat mengakses informasi dan pengetahuan apapun yang ingin kita pelajari. Namun, sukses bukan hanya soal seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki. Tapi juga akumulasi dari pengetahuan dan pelajaran yang kita peroleh dari pengalaman.  Nikmati prosesnya, petik tiap pelajaran di balik pengalaman, dan berdirilah dengan lebih mantap dengan bekal-bekal tersebut. Soft skills tertentu akan kita dapatkan seiring dengan perjalanan dan proses yang kita tempuh.

Bukan, bukan berarti kita tidak bisa cepat sukses. Tapi jika kita percaya bahwa sukses butuh proses niscaya kita tidak akan mudah menyerah ketika dihadapi dengan tantangan dalam bentuk apapun.

2. Melihat Masukan sebagai Bekal untuk Meraih Tujuan

Masukan dari Orang Lain Perlu Dilihat Sebagai Bekal Menuju Sukses

Masukan dari Orang Lain Perlu Dilihat Sebagai Bekal Menuju Sukses via http://esl.about.com

Di usia ini rasanya kita punya energi berlebih untuk mengerjakan semua hal yang kita mau dan menggapai apapun yang kita inginkan. Terlebih, kita bisa mengakses informasi apapun yang kita butuhkan. Hal ini kerap mempengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Harus diakui bahwa adakalanya kamu dan saya kerap merasa serba tahu (sok tahu, red). Jika mengutip apa yang dipaparkan oleh artikel yang dipublikasikan di situs TIME, kita terbiasa dididik dengan pendekatan yang “hangat”. Kita percaya bahwa setiap orang adalah istimewa, termasuk diri kita. Kita percaya bahwa kita layak mendapatkan apapun untuk setiap yang kita lakukan (bukan jika benar-benar memiliki implikasi besar). Kita ingin selalu terlibat dan dilibatkan dalam hal-hal yang memiliki dampak nyata. Ya, kita seakan-akan perlu pengakuan atas apapun yang kita lakukan. Bener nggak?

Wajar rasanya jika kritik terkadang terasa pedas untuk kita. Walaupun sebenarnya bersifat konstruktif untuk kemajuan diri kita sendiri.

“Millennials have not been given a lot of bad news about their performance on anything”, dikutip dari artikel yang dipublikasikan oleh Bloomberg Business yang berjudul Can Millenials Handle Crticism?

Realitanya, kritik adalah makanan bagi para juara. Tidak siap menerima kritik berarti tidak siap menjadi juara. Kita mungkin tidak sespesial yang pernah kita bayangkan. Dan kabar baiknya, jika merasa demikian, kita akan terus belajar untuk memperbaiki diri. Dan dalam kehidupan nyata, hanya pemenang yang mendapatkan piala. Jadi, jangan cengeng!

Jadikan kritik sebagai amunisi kita untuk lebih semangat memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

3. Pengalaman Tetap Guru Paling Berharga

Belajar dari Orang Yang Lebih Berpengalaman adalah Modal Lebih

Belajar dari Orang Yang Lebih Berpengalaman adalah Modal Lebih via http://www.gll-getalife.com

Informasi apa yang tidak bisa kita dapatkan di era internet ini? Kurang dari 1 menit, hanya dengan menjentikan jari di atas permukaan smartphone, kita bisa dapat informasi apapun yang kita mau. Ya, rasanya tidak mustahil untuk bisa belajar apapun sendiri. Hal ini yang mendukung kita untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Tetapi ternyata, untuk bisa menunjang kemajuan kita lebih baik lagi, belajar dari orang-orang yang sudah lebih berpengalaman dari kita bisa menjadi modal lebih. Pernah dengan istilah mentor? Mentor bisa memberi kita banyak ilmu mengenai pengalaman, yang mungkin tidak dapat kita pelajari sendiri dari media apapun. Ya, pengalaman pasti memiliki konteks yang beragam. Perkaya ilmu kita dengan belajar dari pengalaman orang lain. Bukan mustahil jika pengalaman yang sudah dilalui dapat menjadi kunci yang bisa diterapkan untuk meraih sukses. Atau mungkin juga, pengalaman kegagalan bisa menjadi pelajaran berharga untuk melalui perjalanan kita.

Tidak hanya bisa belajar dari pengalaman orang lain yang telah berpengalaman, mentor dapat membantu kita mengidentifikasi kekuatan diri dan memberi masukan konstruktif untuk area-area dalam diri yang perlu untuk dikembangkan. Kita pasti punya orang-orang yang kita kagumi, sudah sukses di bidang yang kita sukai dan sebagainya. Bisa jadi orang itu adalah atasan kita sendiri atau salah satu anggota direksi di tempat kita bekerja. Bersikaplah proaktif untuk mengkomunikasikan tujuan dan maksud kita. Dan jangan lupa untuk senantiasa menjaga komitmen pada hal-hal yang kita sepakati bersama mentor. Jaga kepercayaannya.

Jangan sungkan juga untuk menawarkan mentor kita bantuan apapun jika diperlukan untuk membangun hubungan yang suportif. Lakukan dengan tulus.

Bukan tidak mungkin jika mentoring ini juga bisa menjadi gerbang awal bagi kita untuk memperoleh kesempatan lebih banyak untuk berkembang di area yang ingin kita fokuskan.

4. Memiliki Perencanaan Finansial

Muda dan mendiri secara finansial. Kamu hebat! Berbagai kesempatan untuk menjadi mandiri dalam hal finansial telah kita manfaatkan dengan baik. Ada yang memilih bekerja sebagai praktisi di perusahaan, menjadi entrepreneur, dan sebagainya. Betapa menyenangkan rasanya jika kita ingat saat pertama kali kita sudah mulai dapat penghasilan sendiri dan mulai membiayai kebutuhan hidup kita sendiri atau bahkan mulai membantu keuangan orang tua.

Euforia memiliki penghasilan sendiri untuk pertama kalinya mungkin tak terlupakan. Untuk apa saja kita gunakan ya waktu itu?

"Hm, untuk apa aja ya biasanya dipake"

Menikmati hasil jerih payah sendiri sah-sah saja. Ngopi, makan di restoran fancy, nonton, beli baju baru atau sepatu keren di IG. Semuanya sah. Tapi bukankah lebih baik jika punya perencanaan di awal mengenai alokasi pengeluaran kita?

Setiap mendapatkan penghasilan tidak ada salahnya jika kita mulai mencoba untuk membuat alokasi-alokasi khusus untuk pengeluaran. Tentukan dana yang akan dialokasikan untuk tabungan (sebaiknya ini alokasi pertama yang ditetapkan), kemudian alokasi-alokasi lain yang sesuai dengan gaya hidup kita masing-masing. Mungkin ada yang harus mengeluarkan uang untuk cicilan mobil atau rumah tiap bulan, beramal untuk kegiatan sosial, bayar internet, nge-gym, atau sebagainya. Alokasikan uang untuk hiburan juga sah-sah saja. Jangan sampai lupa menikmati hasil jerih payah kita sendiri. Berikan reward atas kerja keras yang telah kita lakukan.

Tapi, pastikan kita menaruh komitmen pada alokasi yang telah dibuat. Kalau alokasi untuk belanja sudah habis, tahan dulu untuk tidak membeli sepatu keren yang wara-wiri di Instagram.

Soal kebiasaan menabung, membuat tabungan rencana juga tak ada salahnya dicoba untuk memudahkan kita mengalokasikan tabungan. Manfaatkan fasilitas tabungan rencana untuk mentransfer uang secara autodebet dari rekening kita tiap bulannya ke rekening tabungan. Jadi mau tidak mau kita akan menabung setiap bulannya.

Mencanangkan target yang spesifik juga bisa dicoba untuk memberikan motivasi yang lebih tinggi untuk menabung. Misalnya target kita untuk menyiapkan pernikahan 3-4 tahun lagi atau membiayai orang tua haji 2 tahun lagi. Semua pasti punya target hidup yang beda-beda.

Selain menabung, belajar  lebih dalam mengenai ilmu investasi akan sangat bermanfaat. Melek investasi di usia muda bisa memberikan kita peluang-peluang baru untuk mengelola finansial dengan lebih baik.

 

 

 

 

 

 

5. Membandingkan Diri dengan Orang Lain Bukan Ide Bagus

Social Media or Stressful Media?

Social Media or Stressful Media? via http://www.boldsky.com

Perkembangan teknologi membuat aksesibilitas informasi semakin baik. Tak jarang justru Informasi yang berlomba-lomba menghampiri kita sehingga kita yang dituntut untuk memilah-milah mana yang perlu dan tidak perlu. Aksesibilitas ini memudarkan sekat-sekat ruang. Informasi mengenai kehidupan pribadi siapapun bisa kita tengok jika kita berminat.

Social media, misalnya. Siapa yang tak pernah tergoda untuk  menengok kehidupan orang lain di social media (kepo, Red)? Hm. Dulu, kehidupan orang tuamu yang gemilang mungkin akan jadi selintingan di antara teman-temannya. Tapi mereka tak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tuamu. 

Namun sekarang, social media membuat semuanya lebih terbuka. Kamu bisa dengan bangga berbagi foto saat menerima penghargaan kejuaraan internasional atau mungkin sekedar berbagi foto liburan musim panas. Benar-benar tidak ada yang salah dengan ini.

Berita baiknya, inspirasi positif bisa lebih mudah tersebar dan menular kepada orang lain di ruang publik. Yang penting untuk diingat hanyalah, pada hakikatnya kita memiliki kecenderungan untuk hanya menyajikan berita-berita positif mengenai hidup kita. Soal kegemilangan, kebahagiaan, kehangatan. Percayalah, semua akan terlihat lebih hijau.

Mereka mungkin tak pernah tahu bahwa kita juga sama dengan mereka, pernah merasakan frustasi, kegalauan, jatuh, dan drama-drama lain dalam hidup yang tak terhindarkan.

Fokus saja dengan apa yang kita lakukan. Melakukan yang terbaik sesuai dengan target kita. Tidak ada yang salah dengan penggunaan social media. Cara kita bersikap (misalnya dengan tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain) adalah pilihan bijak yang bisa kita ambil saat menggunakan social media.

 

 

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya