Pada abad ini, stereotip bahwa seorang sarjana harus segera mencari pekerjaan adalah hal yang lumrah. Namun, hal yang umum belum tentulah yang terbaik. Bahkan, kenyataannya seseorang yang kritis akan menganggap bahwa mencari pekerjaan merupakan hal terbodoh untuk membiayai hidup. Ada cara yang lebih manusiawi daripada menjual waktu anda kepada orang lain.

Inilah 8 alasan untuk tidak mencari pekerjaan.

 

1. Gaji itu payah

Tentu saja mendaptkan uang itu harus bekerja. Jangan harap bisa mendapat uang mudah tanpa susah! Ini benar sekali, namun bila anda mengharapkan uang itu datang dari gaji bersiaplah bersusah payah seumur hidup anda. Masalah dari mencari pekerjaan adalah anda dibayar untuk bekerja. Lihat betapa buang waktunya itu? Anda menginvestasikan seluruh waktu anda untuk naik gaji atau yang sama payahnya, naik pangkat. Bukankah anda dapat menginvestasikan waktu ke hal yang lebih baik? Bagaimana kalau membuat mesin uang anda sendiri, mungkinkah? Tentu tidak, pemerintah akan melakukan segala cara untuk mencegah anda membangkrutkan negara. Alternatifnya adalah membangun sistem yang sama seperti mesin uang, dimana anda bekerja untuk membangun sistem, yang akan menghasilkan uang. Mari kita ambil konsep dari revolusi industri, dimana saat itu kemajuan teknologi menjadikan para petani sebagai aset para pengusaha. Para CEO mengedukasi masyarakat agar mau bekerja di pabrik yang nantinya menghasilkan uang untuk mereka. Kalau anda diberi pilihan, manakah yang lebih baik? Tentu mereka yang membangun aset. Tapi bukannya itu butuh modal? Memang, kalau anda se-generasi dengan Max Webber. Ini abad 21. Kemajuan teknologi tidak membutuhkan modal anda lagi, yang dibutuhkan adalah niat dan kreativitas. Anda bisa membangun aset melalui website, mlm, produk, atau hal lainnya yang belum terpikirkan. Ketika anda di sekolah mengatakan cita-cita anda adalah menjadi blogger, semua guru akan menertawakan dan menyuruh anda memikirkan cita-cita lebih besar. Justru sekarang hal-hal yang diremehkanlah yang paling berpeluang, apalagi bila hal kecil itu berpotensi menjadi sebuah sistem. Seperti kata  Shiv Khera, orang besar tidak melakukan hal besar, tapi melakukan hal kecil secara besar.

2. Terkunci dalam kandang

Bekerja untuk orang lain seperti masuk kandang dan mengunci diri anda sendiri. Apa yang anda harapkan, kebebasan? Jangan harap. Kebebasan itu mahal. Naik gaji? Itu urusan mereka. Jadi apa yang anda dapatkan? Tentu saja kerja keras dengan harapan belas kasihan. Apakah saya mempunyai kesempatan melakukan hobi saya? Ya, kapan-kapan. Bagaimana dengan waktu bersama keluarga? Lain kali, anda harus lembur. Bagaimana bila saya jenuh? Tenang, kami akan memberikan libur 1 hari setiap bulannya.

3. Terlalu banyak pembagian jatah

Tahu yang lebih menyebalkan dari membayar pajak? Yaitu membayar pajak orang lain. Siapa yang menentukan gaji anda, perusahaan bukan? Sebagian pajak adalah yang anda bayar langsung, namun sebagian lagi anda terima dalam bentuk cek gaji. Dari sudut pandang pekerja, mereka tidak akan keberatan membayar pajak dengan gajinya yang telah menyubsidi para pemilik perusahaan dan investor, bahkan termasuk pajak bangunan dari ruangan yang mereka gunakan. Tentu tidak keberatan, selama info tersebut tidak dilampirkan dalam amplop. Mungkin gaji anda harusnya tiga kali lipat, siapa yang tau? Terus kalau tau mau apa? Perusahaan bukan anda pemiliknya, ya ikuti saja peraturan yang berlaku. Melakukan demo yang tidak berguna mungkin?

4. Lebih beresiko

Cuma para kaum apatis yang bilang bekerja untuk orang lain itu aman. Apa yang terjadi saat inflasi dan perusahaan mengalami kerugian? Akan banyak pekerja mengantri di ruangan manager untuk mendapatkan motivasi hidup. Mungkin berikutnya sang manager-lah yang mendapatkan motivasi. Bagaimana anda bisa bilang aman kalau anda tidak mempunyai bola kaca untuk meramal masa depan perekonomian? Ketika krisis perekonomian, anda tinggal menunggu barisan domino berjatuhan. Apa yang dapat dikatakan dari statistik PHK 2 bulan ini yang telah mencapai 53.000? Mungkin seharusnya karyawan mendapat titel professional gambler.

5. Mempunyai atasan menyebalkan

Ketika anda menjadi entrepreneur, anda akan memegang kemudi dan menjadi atasan bagi proyek anda sendiri. Sedangkan ketika anda lolos wawancara kerja, mendapatkan bos yang menyebalkan akan menambah beban hidup anda. Bila anda tidak suka diperintah, kenapa memilih mempunyai bos? Jadilah pemimpin bagi diri anda sendiri daripada menghabiskan waktu mencemaskan mood si bos.

6. Sumber keuangan yang dibatasi

Anda seorang karyawan dan ingin liburan namun tidak punya cukup uang. Tentu solusinya menabung. Anda mempunyai bisnis dan tidak punya cukup uang? Seribu cara bisa anda lakukan. Sebagai karyawan kita hanya bisa bekerja maksimal sembari mengharapkan perhatian kaum atas, yang pandangannya pun relatif terhadap banyak faktor dan kondisi. Lain bila anda seorang entrepreneur. Membaca peluang adalah kemampuan yang bisa dilatih untuk meningkatkan penghasilan anda, dan caranya tidak terbatas jumlahnya.

7. Pengalaman kerja?

interior

interior via https://pixabay.com

Pengalaman kerja memang sangat dibutuhkan, namun tergantung pengalaman seperti apa yang dicari. Banyak orang mencari magang agar dapat mudah menyesuaikan diri di pekerjaan, dan itu sama saja membuang waktu. Ilmu terbaik yang dapat diambil dari magang adalah, mempelajari sistem perusahaan tersebut. Bagaimana caranya survive, hubungan koneksi, strategi manajemen, dan segala hal yang berhubungan dengan keberjalanan perusahaan tersebut, bukannya fokus mempelajari pekerjaan bidang tertentu. Kenapa? Karena pada akhirnya membangun sesuatu yang besar akan lebih menghasilkan daripada mengerjakan sesuatu secara besar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya