Setiap orang memiliki impian, cita-cita dan harapan tentang akan jadi apa nantinya. Kepuasan dan keberhasilan tak bisa dinilai hanya dari satu variabel. Bahkan setiap individu memiliki variabel dan standar kesuksesannya sendiri-sendiri. Jadi aku berusaha sekuat tenaga tidak berputus asa dan memberanikan diri mengambil jalan lain yang membuatku tertarik serta bahagia meski itu artinya aku harus memulainya dari titik nol.

Meski artinya aku baru mulai menaiki tangga pertama saat teman dan sahabatku telah mencapai pertengahan puncak.

1. Aku Kuliah Pertama Kali di Lembaga Pendidikan Profesi Milik Pemerintah. Artinya Aku Akan Memiliki Kompetensi yang Hanya Dibutuhkan Instansi Tersebut

Awalnya aku tidak mengenal sekolah apa yang akan aku masuki ini. Istilahnya asing dan saat itu aku sama sekali tidak tertarik. Hanya saja orang tua mengarahkan untuk mencoba tes di sana, hingga pada akhirnya aku diterima.

Advertisement

Motivasi orang tua saat itu adalah kuliahnya singkat, dan setelah lulus bisa langsung bekerja. Kebetulan aku anak pertama dan aku punya tanggung jawab lebih sebagai contoh bagi adek-adek.

Program studi di balai pendidikan pemerintah yang aku masuki itu adalah program studi khusus yang tujuannya memang mencetak aparatur yang nantinya setelah lulus memiliki kompetensi dalam keahlian tertentu. Itu artinya risikonya adalah aku hanya dibutuhkan dan hanya bisa diterima di instansi tersebut.

Dan kebetulan saat tahun penerimaan angkatan aku hingga tahun kelulusanku sekolah tersebut sudah tidak lagi ikatan dinas.

2. Perjuangan Keras Untuk Bisa Melalui Hari Demi Hari Hingga Hari Kelulusan Tiba

Advertisement

Tidak mudah menjalani sesuatu yang pada awalnya dipaksakan untukku. Bukan kemauanku tapi ilham dan arahan orang tuaku. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya, mungkin keyakinan itu dahulu yang membuatku bertahan. Bagi sebagian orang, misalnya aku, tidak mudah melalui pendidikan ketarunaan.

Banyak sekali aturannya. Ibaratnya mulai dari membuka mata hingga menutup mata ada PUDD-nya alias Peraturan Urusan Dinas Dalam. Banyak sekali kegiatannya, mulai dari apel, latihan fisik, Drum Band dan juga belajar di kelas. Senioritas tanpa batas pun menjadi bumbu tersendiri dari keseruan hari-hari seorang taruna/i.

Kedisiplinan, kerapian, kelihaian membagi waktu dalam jadwal kegiatan yang super duper padat, hingga bisa tidur dalam kondisi berdiri dan baris berbaris. Menyenangkan sekali, sungguh pengalaman yang ingin aku tularkan pada anak-anakku nanti.

3. Bukan Hanya Mengejar Nilai Mata Kuliah Sebagaimana Kuliah Umum, Nilai Konduite Menjadi Momok yang Tak Kalah Menyeramkan

Buat bisa dapetin PDUB alias pakaian dinas untuk hari besar ini tak hanya nilai mata kuliah yang penting, tetapi nilai konduite alias sikap-sikap kita saat menjalani pendidikan juga ternilai dan tercatat rapi untuk penentuan kelulusan.

Pokoknya perjuangan yang tak terlupakan deh. Saat itu biaya kuliahnya masih relatif murah karena masih mendapatkan subsidi dari pemerintah, dan hoki nya dulu dapat beasiswa, jadinya nggak terlalu memberatkan orang tua.

4. Pas Lulus Ditempatkan di Berbagai Daerah, Tetapi Statusnya Magang, Tidak Bisa Langsung PNS karena tidak lagi Ikatan Dinas

Saat lulus masing-masing dari kami mendapatkan surat pengantar ke berbagai daerah di Indonesia untuk magang. Meskipun ini adalah pendidikan profesi yang tujuannya mencetak aparatur dengan kompetensi tertentu, tetapi tidak otomatis langsung PNS karena sudah tidak ikatan dinas lagi.

Kami harus menunggu formasi penerimaan CPNS dan ikut tes formasi umum. 

5. Berkali-Kali Ikut Tes CPNS tetapi Gagal

tes cpns

tes cpns via http://www.google.com

Kuliah di sekolah milik pemerintah, yang dari awal sudah dididik sebagai aparatur negara dan mengenakan seragam kebanggaan, sudah pasti impiannya adalah bisa jadi pegawai negeri sipil. Beberapa kali aku nyobain peruntungan ikut tes tapi belum berhasil.

Meskipun lulus tes kompetensi dasar tetapi tidak lulus di tes kompetensi bidang, atau bahkan pernah ngalamin yang ga lulus di karakteristik pribadi. Di situ aku berpikir mungkin aku memang tidak ditakdirkan jadi abdi negara meskipun dari awal sudah sekolah di pemerintah, sekolah dibiayai oleh pemerintah, dan juga sudah mengabdi beberapa tahun di instansi pemerintah. Kecewa? Pasti. Putus Asa? Iya sempat. Menyerah? Hampir. Nangis? Udah pasti, hehehe

6. Aku Memberanikan Diri Mencoba Hal Lain, Kuliah di Fakultas Hukum

Memasuki tahun kedua magangku di suatu instansi pemerintah, aku mutusin buat daftar kuliah S1 Hukum. Saat itu aku sedikit ragu karena harus mengulang dari awal dengan memakai ijazah SMA.

Tapi aku nekat memberanikan diri daftar, hingga akhirnya aku menikmati dan bisa lulus sebagai Sarjana Hukum di salah satu Perguruan Tinggi Swasta.

7. Aku Ingin Memiliki Profesi dan Ingin Memiliki Kantor Sendiri

magister kenotariatan

magister kenotariatan via http://instagram.com

Mungkin terlihat engga nyambung dan terlampau nekat. Tapi aku berusaha mengikuti kata hati dan terus berjuang melawan kegundahan hati. Setelah Lulus Sarjana Hukum aku memutuskan keluar dari instansi yang selama ini aku sayangi, instansi yang sebenarnya hatiku masih ada di sana, instansi yang mengajarkan aku banyak hal dan memberikan berbagai pengalaman hidup berharga yang membuatku berkembang.

Aku memutuskan untuk keluar dari zona nyamanku, aku memutuskan merintis dan menekuni bidang baru ini hingga tercapai cita-citaku. Meski harus dari titik nol, meski di saat teman-teman dan sahabatku telah berada di pertengahan jalan menuju puncak kesuksesannya. 

Di saat aku gagal dan hampir berputus asa, aku menggunakan semua tenagaku, semua harapanku dan semua keyakinanku untuk bangkit lagi. Meski artinya aku harus keluar dari zona nyamanku.

Meski artinya harus merajut ulang mimpiku. Aku merasa profesiku sebelumnya bertepuk sebelah tangan dan sudah saatnya untuk move on

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya