Aku Tak Punya Resolusi 2021. Bukan Pesimis, tapi 2020 Mengajarkanku untuk Bertindak Spontan

tidak punya resolusi tahun baru

Beberapa hari belakangan, aku sering membaca artikel yang mengulas tentang resolusi tahun baru. Topik artikel semacam ini memang banyak diterbitkan bukan hanya karena momennya yang pas, melainkan juga karena sepertinya menulis resolusi sudah menjadi 'budaya' sebagian besar manusia setiap menginjak awal tahun.

Aku senang membaca artikel-artikel semacam itu. Penuh dengan optimisme. Namun, di sisi lain, artikel itu membuatku merenung. Aku merenungkan diri sendiri yang tidak menyusun resolusi seperti kebanyakan orang. Bukan, bukan karena aku tidak punya tujuan hidup. Tentu saja aku punya. Tapi mungkin, caraku berbeda untuk menyikapi awal tahun 2021 ini.

Advertisement

1. Bagiku, menyusun impian hidup tidak perlu menunggu momen pergantian tahun. Setiap hari adalah saat yang tepat untuk menata impian-impianku

setiap hari adalah awal yang baru

setiap hari adalah awal yang baru via https://unsplash.com

Aku paham mengapa awal tahun selalu dijadikan momen yang tepat untuk menyusun resolusi. Kita melihat awal tahun selayaknya awal kehidupan yang baru. Makanya, banyak orang yang menyambutnya dengan menuliskan sederet target atau impiannya selama tahun itu akan berlangsung. Berbeda denganku, dalam hidupku aku cenderung tidak memerlukan momen tertentu untuk melakukan sesuatu.

Tidak perlu menunggu pergantian tahun karena setiap pergantian hari adalah awal yang baru bagiku. Setiap pergantian hari pula aku melihat kembali, apa yang sudah kukerjakan, apa yang hendak kulakukan selanjutnya, dan apa yang harus kuperbaiki.

Advertisement

2. Bukannya aku memandang hidup ini terlalu santai, aku tetap punya tujuan dan prioritas hidup kok

aku punya target dan impian

aku punya target dan impian via https://unsplash.com

Menjadi seseorang yang hampir tidak pernah mengisi pergantian tahun dengan menulis resolusi, aku sering dinilai tidak memiliki tujuan dan prioritas hidup. Padahal menurutku, punya atau tidak punya tujuan hidup bukan ditentukan dari apakah orang itu menyusun resolusi awal tahun. Memiliki tujuan hidup adalah sesederhana memperjuangkan tujuan itu setiap hari.

Aku cenderung melihat orang-orang sudah melupakan resolusi yang mereka tulis di awal tahun ketika sudah menginjak pertengahan tahun. Inilah mengapa aku percaya bahwa kita memang tidak memerlukan satu momen khusus untuk memperjuangkan impian atau target hidup kita.

3. Tahun 2020 mengajarkanku untuk bertindak spontan. Harus adaptasi tingkat tinggi kalau tidak mau mati ditelan keadaan

Advertisement
beradaptasi dengan realita

beradaptasi dengan realita via https://unsplash.com

2020 belum lama usai. Tahun 2020 terlalu tragis untuk begitu cepat dilupakan. Banyak hal-hal yang tidak diprediksi telah terjadi tahun lalu. Aku memiliki beberapa rencana yang seharusnya kulakukan atau kuwujudkan di tahun 2020. Tapi, realita menamparku.

Pandemi itu datang tanpa mempedulikan seluruh resolusi umat manusia di tahun 2020. Apabila aku tetap memaksakan apa yang sudah kucanangkan dari awal, tentu aku tidak akan bertahan hingga saat ini. Kalau saja aku begitu polosnya menunggu pandemi ini selesai, bukannya hidupku aman dan maju, aku akan jauh tertinggal dari apa yang sudah kurencanakan.

4. Aku terbiasa merencanakan sesuatu mulai dari hal-hal terkecil. Ini membantuku untuk terlepas dari angan-angan semu yang kurang realistis

lebih merinci target menjadi langkah-langkah konkret

lebih merinci target menjadi langkah-langkah konkret via https://unsplash.com

Optimis itu baik. Harapan itu hal yang positif. Tapi, dari segala dinamika hidup yang telah terjadi, aku lebih setuju kalau ke depannya akan memandang kehidupanku dengan realistis. Aku sadar betul bahwa diriku yang belum seberapa ini akan susah apabila dihadapkan dengan target-target besar.

Tentu saja aku ingin sukses atau kaya. Tapi, apabila yang di depan mataku adalah target yang terlalu besar, aku memilih menguraikannya menjadi langkah-langkah kecil yang lebih realistis untuk kulakukan. Makanya, aku tidak merasa terbebani sepanjang mewujudkan target besar itu karena setiap harinya sudah disisipkan kepingan-kepingan kecil untuk menuju ke sana.

5. Sekarang jujur padaku. Daftar resolusi yang kamu tulis itu betul-betul tulus dari dalam hatimu atau sekadar ritual setiap pergantian tahun?

jangan cuma ritual belaka ya~

jangan cuma ritual belaka ya~ via https://unsplash.com

Pertanyaan di atas hanya kamu sendiri yang tau jawabannya. Aku tidak akan menghakimi. Jangan salah paham. Menulis resolusi itu bukanlah hal yang buruk. Malah itu bisa menjadi bahan bakarmu untuk terus semangat memperjuangkan target-target dalam hidupmu. Resolusi juga bisa menjadi pengingat ketika jiwa dan ragamu mulai lelah. Tapi, berapa banyak manusia sih yang tetap mengingat apa yang dia tulis di awal tahun?

Menulis resolusi akan menjadi hal buruk dan sia-sia apabila kamu hanya menjadikannya ritual semata. Itu akan menjadi tidak berguna apabila sehabis menyantap kue tahun baru kamu tidak segera mengeksekusinya. Satu hal yang tidak kalah penting, kenali dirimu dan bagaimana caramu merealisasikan hal-hal di dunia ini. Tanyakan pada dirimu apakah kamu betul-betul butuh menulis resolusi? Jika ya, maka lakukan. Jika tidak, maka cari cara lain untuk mewujudkan targetmu.

Sekarang, kita sama saja kan? Sama-sama manusia yang punya target dan impian dalam hidup. Sama-sama manusia yang ingin hidup sejahtera. Hanya saja cara kita menjalaninya berbeda dan itu sama sekali bukan masalah. Untukmu, selamat menjalani tahun 2021, semoga kita bisa survive di tahun ini~

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

penyuka bawang

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE