Dilan dan Milea, Rangga dan Cinta, Jokowi dan Prabowo dan berbagai cerita romantic lainnya tak pernah padam. Bagaimanapun juga kisah kisah yang menceritakan kasih sayang antar pasangan memang selalu menjadi idola dari setiap orang. Setiap orang yang mengingkan hal yang sama atau berharap memilikinya.

           

Namun tak semanis itu, alkisah juga ada orang orang yang tidak terlalu suka genre romantic pada bacaannya. Bahkan tak hanya masalah literasi, dalam media lainnya seperti film pun juga kadang mereka merasa enggan untuk menontonya. Apalagi jika disuguhkan drama korea yang didominasi oleh cerita long live happily together pada setiap endingnya. Mereka sungguh tak menyukai hal itu.

           

Alasannya bukan karena mereka tak ingin berbahagia seperti yang diilustrasikan. Melainkan terkadang ada hal hal yang membuat pandangan mereka terhadap romantisme menjadi sedikit agak buyar dari sifat aslinya (indah misalnya).

1. Terlalu Berpikir Logis

Logika dan perasaan adalah hal yang sangat sangat sangat bertolak belakang. Orang orang yang berpikir secara logis dan rasional tak akan begitu mudah untuk terbawa perasaan.

Advertisement

 

Apalagi bila hanya melihat anak kecil gombal gombalan di status fb. Hati kecil mereka tak akan tersentuh sedikitpun. Seperti kisah romantic dalam setiap novel, mereka menganggap hal ini hanyalah pemanis saja.

 

Advertisement

Jangankan membeli atau membaca genre romantic, orang koleksinya saja genre genre misteri, buku pelajaran biologi atau forum adu argumen. 

 

Orang yang sangat berpikir logis akan mengira berbagai hal romantic akan membuat perkembangan mereka terhambat, contohnya hubungan emosional yang tak jelas.

 

Meskipun suatu saat mereka juga perlu, tetapi bukan pada sebuah pembelajaran pada media baca. Karena sangat tidak rasional, mempelajari hubungan keintimanan pada sebuah lembaran kertas.

2. Trauma Terhadap Hal-Hal Berbau Romantisme

Saat disuguhkan kisah pertemuan seorang pangeran tampan nan rupawan berkuda yang menemukan seorang putri cantik jelita indah gemulai dan akhirnya bersama dalam kebahagiaan, mereka akan mengerutkan dahi dan bilang “tidak semudah itu Ferguso”.

 

Memang tak semudah itu. Kisah kisah yang seolah mengatakan bahwa semua itu indah dan mudah tak mempan (lagi) pada mereka. Khususnya umat patah hati yang menderita jiwa dan raga.

 

Bagaimana tidak, kisah hidup mereka begitu menyakitkan untuk diceritakan dan bukan suatu fase indah jika dimuat dalam chapter novel.

 

Sangat bertolak belakang dengan segala keindahan yang ditawarkan oleh novel novel romantic. Semua itu membuat mereka tak menyukainya. Semua menipu.

3. Menganggap Diri Sudah Dewasa

Cinta hanya untuk anak kecil. Mungkin itulah yang terpatri dalam benak mereka. Mereka yang kalau ke toko buku hanya melewati tumpukkan novel bertema romantic dan jika ada orang yang beli akan berpikir bahwa itu semua sangat kekanak kanakan.

 

Dapat dimaklumi, kisah romantisme yang disajikan dalam sebuah novel apalagi yang kekinian selalu berpusat pada hubungan anak muda dan remaja. Karena itu mereka tidak akan kuat membacanya, biar dilewati saja.

 

Orang yang merasa dan memang sudah dewasa menganggap novel romantis hanya untuk mereka yang dimabuk asmara. Lebih baik mencari buku buku pengembangan diri atau yang religi.

 

Tentu saja bukan berarti membenci segala literasi romantisme, tetapi hal seperti itu bukan menjadi tujuan utama apalagi hobi utama mereka.

4. Malu Tapi Penasaran

mau juga sih

mau juga sih via http://pexels.com

Sebenarnya sih pengen. Pengen baca juga novel seperti Dilan, Perahu Kertas atau novel cinta cintaan lainnya. Tetapi terkadang ada rasa malu tersendiri.

 

Anggapan bahwa pencinta novel seperti itu hanyalah orang orang yang lemah dan bucin kadang juga menjadi halangan. Padahal status status medsosnya terkadang puitis bak pujangga yang sedang dimabuk cinta.

 

Namun apa daya, daripada dianggap lemah dan tak bisa berdiri tanpa cinta, bacaan novel romantic ditinggalkan. Lebih baik cari pengalaman romantic sendiri, tetapi kadang juga malu mulainya darimana.

 

5. Secara Harfiah Memang Tidak Suka

Tumpukan buku buku dirumah yang isinya novel Dan Brown, JK Rowling, Sherlock Holmes dan berbagai genre yang tidak ada unsur utama romantisnya. Memang sangat menunjukkan ketertarikan pada hal yang lain.

Unsur romantic yang hanya sedikit dan bagai kemangi lalapan itulah yang dipilih novelnya. Bukan tidak suka dan benci, tetapi mau bagaimana lagi klopnya memang pada genre lain.

Bahkan meski tak membaca novel dan kisah romantic, terkadang kehidupan mereka sangatlah romantic. Jadi buat apa lagi membayangkanya dalam sebuah buku bacaan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya