Artikel merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tak tahu dari mana datangnya, kesenangan bepergian sendirian atau solo traveling itu tiba-tiba muncul begitu saja. Mungkin karena kebiasaan orang tua yang juga senang melancong atau karena kegemaran membaca majalah National Geographic. Perjalanan pertama waktu itu ke Bandung, ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, dari Jogja naik kereta api Lodaya dan menginap di hostel murah meriah di daerah Dago, yang beruntungnya khusus disediakan untuk pelancong perempuan.

Saya ingat betul betapa senangnya ketika itu, menemukan hal-hal baru dengan usaha sendiri dan mengenal lingkungan baru tanpa bisa bersikap mbok-mbokan, kalau istilah orang Jawa bilang, manja. Tahun-tahun berikutnya selalu dihabiskan dengan melancong ke kota yang belum pernah dikunjungi, hingga kesenangan ber-solo traveling itu bagai pucuk dicinta ulam pun tiba ketika di tahun 2016 saya pindah ke Prancis untuk melanjutkan kuliah sarjana.

Excited? Sangat! Eropa! Banyak yang sering mengkhawatirkan keamanan atau kenyamanan dalam melancong sendirian. Namun saya percaya, dua hal tersebut bisa menjadi sebuah hal positif atau negatif tergantung dari pemikiran maupun attitude kita sendiri, dan tentu saja sebetulnya tidak memandang jenis kelamin. Alam memperlakukan kita semua sama. Jika ditanya lebih banyak suka atau dukanya, tentu semua bisa menjawab dong ya? Kalau tidak, bagaimana bisa ketagihan coba, hehehe. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab rasa nagih itu, berikut saya urutkan berdasarkan studi banding juga dengan web sebelah. Jangan lanjut baca kalau jiwa petualangmu tak siap untuk bergejolak, ya! 🙂

Mungkin pengalaman masing-masing perempuan akan berbeda, tapi gimana kamu mau tahu kalau kamu belum coba? 🙂

5. Bikin kita belajar hal baru!

You learn from it!

You learn from it! via http://www.instagram.com

Belajar hari gini bukan cuma di dalam ruang kelas aja, belajar bisa dilakukan di mana pun. Literally. Ketika melancong sendirian, kamu akan ketemu dengan bahasa baru, kultur baru, hingga nilai-nilai kehidupan yang nggak pernah kamu ketahui sebelumnya!

6. Ada rasa percaya yang timbul: kebaikan tuh masih ada!

Kebaikan itu masih ada!

Kebaikan itu masih ada! via http://www.instagram.com

Advertisement

Ya, nggak bisa dipungkiri, dunia di mata media seringkali digambarkan kejam: perang dimana-mana, kejahatan kemanusiaan, kecelakaan… Namun sebetulnya hal-hal seperti itu hanyalah sebagian dari keseluruhan. Saya banyak sekali dibantu orang asing selama melancong, bahkan oleh mereka yang dari tampangnya nggak terlihat baik-baik, katakanlah bertato, terlihat lusuh, dan sebagainya. Percayalah, sekali kamu ‘keluar rumah’, kamu akan paham apa yang saya maksud. Your faith in humanity will be restored!

7. Menemukan diri sendiri!

That's yourself!

That's yourself! via http://www.instagram.com

Pernah nggak kita bertanya-tanya dalam keseharian, “Aku sebenarnya ngapain, sih?” “Aku tuh maunya apa?” dan sejenisnya? Tenang, you’re not the only one. Mempertanyakan jati diri dan keseharian sehari-hari itu lumrah, dan dengan melancong sendirian, jujur saya jadi bisa makin menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Entah dari pertemuan-pertemuan dengan masyarakat di daerah lain, entah dari tempat-tempat yang kita kunjungi, atau dari perjalanan-perjalanan yang kita lewati, asal kita merasakan dengan peka, akan tercipta energi-energi positif yang membuat kita makin memahami diri sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya