Usiaku hampir menyentuh seperempat abad. Usia krusial kata mereka, apalagi karena aku wanita. Bagiku yang masih terjebak dalam kehidupan masyarakat desa, usia sepertiku harusnya sudah menggendong anak. Tapi aku, jangankan menggendong anak, dinikahi saja tak tahu kapan. Padahal ratusan kali aku meminta langsung pada priaku agar segera menikahiku. Tapi nyatanya urusan pernikahan tak pernah segampang membalikkan telapak tangan.

Dulu sekali pikiranku masih dangkal, pikirku jika dua orang sudah saling cinta ya tinggal menikah. Tapi kini di usiaku yang tak lagi muda, aku dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang cukup pahit. Menikah bukan hanya menyatukan sejoli yang sedang dimabuk cinta, tapi juga menyatukan kedua keluarga. Dan seperti itulah dilema kisah ini bermula, sebuah kisah cinta segitiga dengan keluargamu sebagai pemeran antagonisnya.

1. Ijinkan aku mengenang kebahagiaan kita dulu, sebelum kisah ini melaju dengan segala kisahnya yang sendu

Pernah Bahagia via http://www.pexels.com

Sebelum negara api menyerang, kisah kami hanya dipenuhi beragam tualang yang membuat hati senang. Sekalipun jika ada pertengkaran, paling-paling hanya karena urusan sepele. Bersamamu, sungguh aku merasa bahagia dan dicinta. Meski kadang sikapku menyebalkan. tapi tak sekalipun kamu berniat untuk meninggalkan. Dan sungguh aku tersanjung dengan kesungguhanmu untuk setia bersamaku.

Aku ingat sekali bagaimana kita dipertemukan. Berada satu lokasi saat sedang KKN akhirnya membuat benih-benih cinta itu tumbuh begitu saja. Sekalipun orang lain berkata cinta kita hanya cinta lokasi yang sesaat, kala itu dengan sungguh-sungguh kamu berkata bahwa aku adalah akhir dari pencarianmu.

Dengan segala perasaan debar yang tersisa, aku menerima perasaan cintamu. Benar saja, dulu kami teramat bahagia, pulang kuliah kamu rutin menjemputku, menghabiskan waktu hanya dengan berputar-putar di jalan juga sudah jadi bahagia untukku di kala itu. Ah benar memang, bagi sejoli yang dimabuk cinta, segala hal sederhana memang akan mendatangkan bahagia.

Advertisement

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga usia kebersamaan kita akhirnya mencapai tahunan.

2. Tak kuduga, jika usiamu yang lebih muda ternyata bisa jadi bom waktu bagi kisah cinta kita

Bom Waktu via http://www.pexels.com

Setelah segala keyakinanku padamu terkumpul sempurna, akupun memberanikan diri mengajakmu bertemu bapak ibuku. Menunjukkan padamu bagaimana kehidupanku yang sebenarnya. Dan beruntungnya aku karena kamu tak merasa jengah walau aku hanya hidup di sebuah rumah sederhana. Bapak ibuku juga sepertinya tidak menunjukkan penolakan serius padamu, walau beliau belum mengiyakan sepenuhnya. Tapi kamu meyakinkanku jika nanti kamu juga bisa mencuri hati mereka. Dan begitulah aku merasa lega.

Hubungan kita tak lagi sembunyi-sembunyi seperti dulu. Karena kini kamu akan menjemput dan mengantarku langsung dari depan rumah dan meminta ijin langsung dari orang tuaku. Aku bersyukur kamu berubah menjadi lebih baik saat memperlakukanku. Hingga suatu hari intensitas pertemuan kita sepertinya mengganggu mata tetanggaku. Mereka mulai berbisik dengan kejelasan status kita. Padahal mereka hanya tetangga tapi mengapa suka sekali mencampuri urusan kita?

Dan begitulah akhirnya ibuku mulai menginginkan tahap yang lebih serius di antara kita. Apalagi umurku juga tak lagi muda, orang tuaku ingin kita segera menikah. Sekali lagi aku beruntung karena kamu tak menolak keinginan itu, kamu bahkan sangat antusias ingin mengenalkanku pada orangtuamu.

Tibalah hari itu, kamu membawaku ke tanah kelahiranmu untuk bertemu orang tuamu. Dari awal sebenarnya aku yakin perjalanan ini takkan mudah. Aku tahu statusmu sebagai anak pertama pasti mengundang ekspektasi tinggi. Apalagi kamu juga baru saja bekerja, aku yakin meminta restu orang tuamu takkan mudah. "Toh aku nggak minta buat dinikahi besok, jadi tenang aja", begitu caraku menenangkan diri.

Sesampainya di rumahmu, akhirnya aku bertemu calon mertuaku. Kamu setia duduk di sampingku, seolah mengerti jika aku tak ingin ditinggal sendirian. Basa basi aku memperkenalkan diri, menyebutkan usia dan pekerjaan saat ini. Mungkin aku bisa menangkap sedikit raut terkejut saat mengetahui fakta bahwa usiaku lebih tua daripada anaknya. Ditambah studiku yang sialnya tak kunjung usai seperti studi anaknya. Dan pertemuan hari itu berakhir begitu saja.

3. Salahkah aku jika hanya terlahir dari keluarga sederhana yang tidak bergelimang harta?

Apa Salahku via http://www.flickr.com

Sejak awal perkenalan kita harusnya kamu sadar bagaimana kondisi keluargaku. Aku tidak lahir dengan kekayaan berlimpah sepertimu. Aku hidup sederhana bersama orang tuaku. Tapi dulu sekali, kamu yang sedang dimabuk cinta nekat sekali memintaku untuk berpacaran denganmu. Dan aku yang masih belum sadar dengan perbedaan "kasta sosial" kita langsung mengiyakan ajakanmu.

Dulu sekali di awal berpacaran kami memang sangat bahagia. Layaknya sepasang kekasih baru lainnya, dan sialnya kami tak pernah menyadari bahwa segala bahagia ini pasti ada rintangannya. Dan siapa yang menyangka jika rintangan terbesar datang dari keluargamu? Entah dari mana akhirnya bapak ibumu tahu bahwa keluargaku tak sekaya keluargamu. Dan segala alasan sengaja mulai diciptakan untuk menunda pernikahan yang tidak diinginkan mereka. Usia mudamu dijadikan alasan padahal usia kita tak terpaut banyak. Pekerjaanmu yang belum mapan juga dijadikan alasan, padahal mereka tahu betul bahwa sekalipun aku belum lulus kuliah, aku juga bisa menghasilkan uang lewat karyaku. Dan alasan-alasan lainnya yang terasa mengada-ada. Bahkan untuk datang bersilaturahmi ke rumahku saja, bapak ibumu keberatan. Jujur saja itu melukai harga diri orangtuaku.

4. Orang tuamu boleh saja menghinaku, tapi maaf aku tidak akan tinggal diam jika mereka menghina orang tuaku

Jangan Orang Tuaku via http://www.flickr.com

Di masa kini, isi percakapan kita mungkin hanya berkutat tentang pernikahan. Kamu yang sudah paham dengan rintangan besar ini meyakinkanku untuk tetap tinggal. Kamu berulang kali berkata siap kawin lari asal bisa hidup denganku. Dan tampaknya itu jadi bumerang tersendiri bagiku. Karena orang tuamu merasa sangat khawatir akan kondisi anak lelakinya yang sepertinya sudah dibutakan cinta. Bahkan mereka sampai memberikan minuman doa-doa karena yakin anaknya sedang diguna-guna olehku, wanita yang tidak punya apa-apa.

Padahal sejak aku tahu jalan terjal ini, berulang kali ibuku memintaku untuk meninggalkanmu. Dan aku juga sudah menyampaikan keinginan berpisah itu sejak lama, tapi kamu yang merengek meminta agar tidak ditinggalkan. Kamu bahkan siap menikahiku meski tidak mendapatkan ijin orang tuamu. Akhirnya aku luluh dan bersedia menanti hingga restu orang tuamu diberikan. Lalu tibalah hari itu, hari di mana akhirnya orang tuaku merasa berat untuk merelakanku hidup bersamamu.

Suatu hari setelah melakukan segala upaya, akhirnya orang tuamu bersedia datang ke rumah hanya sekedar silaturahmi semata. Ya, mereka datang dan semakin terkejut dengan fakta besarnya rumahku tak sampai besarnya setengah rumah mereka. Segala raut kecewa itu tergambar di wajah bapak ibumu, dan aku sadar dengan hal itu. Apalagi bapakku hanya kerja sebagai tukang, sementara bapakmu tinggal duduk saja uangnya sudah datang.

Lambatnya percakapan di antara kita semakin meyakinkanku bahwa mereka tak mengharapkan menantu sepertiku. Hingga sebuar kalimat muncul dari bibir orang tuamu.


Anak kita tidak perlu dinikahkan cepat-cepat bukan? Kan nggak selak kesusu, nggak selak tuek (artinya tidak terburu-buru, apalagi keburu tua).


Kamu tahu, bagaimana pedihnya kedua orang tuaku dengan ucapan rendah itu? Berulang kali ku katakan padamu, aku bisa bertoleransi jika aku yang dhina, tapi tidak jika orang tuaku yang terluka. Maaf-maaf saja karena kini aku tak lagi bisa menaruh hormat pada keluargamu.

5. Entah bagaimana ujungnya, apakah takdir akan membawa kita bersama atau berpisah selamanya

Jika sudah seperti ini rasanya kita hanya perlu memperbanyak doa. Tak usah kamu ucapkan ribuan kata manis karena itu takkan mempan kepadaku. Aku hanya ingin luka orang tuaku sembuh, lalu urusan kita serahkan saja pada takdir. Karena aku sudah lelah, aku juga tak tahu harus mulai dari mana untuk berhadapan lagi dengan keangkuhan orang tuamu. Jika kamu bertanya apa aku sudah tidak cinta, dengan lantang aku akan menjawab aku butuh menikah bukan cuma cinta anak-anak. Orang tuaku ingin aku bahagia, begitupun aku ingin melihat mereka agar berbahagia. Dan sepertinya kamu bukan pilihan yang tepat untuk membuat orang tuaku bahagia.


Karena di tiitk ini, maju atau mundurpun aku tetap hancur.


Jika tetap berusaha maju, aku hancur melihat hati orang tuaku babak belur. Sementara jika mundur aku juga pasti hancur karena perasaanku untukmu sudah terlanjur membaur. Jadi daripada membahas soal cinta semata, mari sama-sama berdoa agar takdir bisa berpihak pada kisah kita berdua. Agar kelak orang tuamu tak lagi jumawa dan semena-mena, agar kelak orang tuaku bisa menerimamu dengan lapang, agar kelak kisah kita berujung bahagia.