Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

Mitologi

 Tari Perang Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

 

1. MARGA NIAS

1 AMAZIHÖNÖ 2 BAEHA 3 BAENE 4 BAGO 5 BALI 6 BATE’E 7 BAWAMENEWI 8 BIDAYA 9 BOHALIMA 10 BUAYA 11 BULUARO 12 BU’ULÖLÖ 13 DACHI 14 DAELI 15 DAO 16 DAWÖLÖ 17 DAYA 18 DOHARE 19 DOHÖNA 20 DUHA 21 FANAETU 22 FAU 23 GAHO 24 GARI 25 GAURIFA 26 GEA 27 GE’E 28 GIAWA 29 GÖRI 30 GOWASA 31 GULÖ 32 HALAWA 33 HALU 34 HAO 35 HAREFA 36 HARIA 37 HARITA 38 HAWA 39 HIA 40 HONDRÖ 41 HULU 42 HUMENDRU 43 HURA 44 LAFAU 45 LAHAGU 46 LAHÖMI 47 LAIA 48 LAOLI 49 LAOWÖ 50 LAROSA 51 LASE 52 LAWÖLÖ 53 LÖ’I 54 LÖMBU 55 LUAHA 56 MADUWU 57 MANAÖ 58 MARU LAFAU 59 MARUAO 60 MARUHAWA 61 MARUNDURI 62 MENDRÖFA 63 MOHO 64 NAKHE 65 NAZARA 66 NDRAHA 67 NDRURU 68 NEHE 69 SADAWA 70 SARUMAHA 71 SIHURA 72 SO’IAGÖ 73 TAFÖNA’Ö 74 TELAUMBANUA 75 WA’Ö 76 WAOMA 77 WARASI 78 WARUWU 79 WA’U 80 WAYA 81 ZAGÖTÖ 82 ZAI 83 ZALÖGÖ 84 ZALUKHU 85 ZAMASI 86 ZANDROTO 87 ZEBUA 88 ZEGA 89 ZENDRATÖ 90 ZIDÖMI 91 ZIHÖNÖ 92 ZILIWA 93 ZILIWU 94 ZIRALUO

2. MAKANAN DAN MINUMAN KHAS NIAS

Bae - Bae

Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)

Harinake (daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)

Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)

Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)

Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)

Ratigae (pisang goreng)

Tamböyö (ketupat)

löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)

Gae nibogö (pisang bakar)

Kazimone (terbuat dari sagu)

Wawayasö (nasi pulut)

Gulo-Gulo Farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa)

Bato (daging kepiting yang dipadatkan dalam bentuk bulat agar dapat bertahan lama; terdapat di Kepulauan Hinako)

Nami (telur kepiting dapat berupa nami segar atau yang telah diasinkan agar awet, dapat bertahan hingga berbulan-bulan tergantung kadar garam yang ditambahkan)

Minuman

Tuo nifarö (tuak) adalah minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe" dan pohon kelapa (dalam bahasa Nias "Pohon Kelapa" = "töla nohi") yang telah diolah dengan cara penyulingan. Umumnya Tuo nifarö mempunyai beberapa tingkatan (bisa sampai 3 (tiga) tingkatan kadar alkohol). Dimana Tuo nifarö No. 1 bisa mencapai kadar alkohol 43%.

Tuo mbanua / Sataha (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa atau pohon nira yang telah diberi 'laru' berupa akar-akar tumbuhan tertentu untuk memberikan kadar alkohol)

Peralatan Rumah Tangga di Nias

Bowoa tanö - periuk dari tanah liat, alat masak tradisional

Figa lae - daun pisang yang dipakai untuk menjadi alas makanan

Halu (alat menumbuk padi) - dfsf

Lösu - lesung

Gala - dari kayu seperti talam

Sole mbanio - tempat minum dari tempurung

Katidi - anyaman dari bambu

Niru (Alat untuk menapik beras untuk memisahkan dedak)

Haru - sendok nasi

Famofu - alat niup api untuk memasak

Fogao Banio (alat pemarut kelapa)

3. BUDAYA NIAS

Budaya Nias

 

Fahombo (Lompat Batu)

Fahombo  (Lompat Batu)

Fataele/Foluaya(Tari Perang)

Maena (Tari berkoelompok)

Tari Moyo (Tari Elang)

Tari Mogaele

Fangowai (Tari sekapur sirih/penyambutan tamu)

Fame Ono nihalõ (Pernikahan)

Omo Hada (Rumah Adat)

Fame'e Tõi Nono Nihalõ (Pemberian nama bagi perempuan yang sudah menikah)

Fasösö Lewuö (Menggunakan adu bambu untuk menguji kekuatan pemuda Nias)

Dalam budaya Ono Niha (Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.

4. PERNIKAHAN ADAT NIAS

Besarnya jumlah mahar perkawinan yang berlaku dalam adat perkawinan suku Nias menjadi salah satu pertimbangan bagi masyarakat Nias untuk melangsungkan sebuah pernikahan oleh karena itu melangsungkan perkawinan di daerah lain (di luar daerah Nias), khususnya di daerah perkotaan, menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat Nias untuk menghindari besarnya biaya mahar yang harus diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Mahar dalam adat Nias ini juga mengandung isu-isu ketidakadilan gender yaitu dengan adanya istilah “Böli Gana’a” yang bermakna bahwa perempuan itu adalah bagaikan barang belian. Konsekuensi dari istilah ini mengakibatkan kaum perempuan selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki. Bagi masyarakat Nias, perempuan harus memiliki kesanggupan untuk bekerja keras karena setelah berkeluarga pembayaran biaya mahar ketika melaksanakan upacara perkawinan cenderung merupakan tanggung jawab perempuan. Hal ini jugalah yang mendorong baik perempuan maupun laki-laki akhirnya lebih memilih melaksanakan pernikahannya di luar daerah Nias karena biasanya mahar perkawinan tergantung kesepakatan dan kemampuan pihak laki-laki yang datang melamar, dan untuk perempuan, tidak terikat tanggung jawab untuk membayar mahar yang besar. Berangkat dari latar belakang ini, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tata cara penetapan mahar bagi perempuan Nias, khususnya yang bekerja di sektor informal di Padang Bulan, Medan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan studi kasus.Penelitian ini berlokasi di daerah Padang Bulan Medan. Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah perempuan suku Nias yang bekerja di sektor informal di Padang Bulan Medan. Pengumpulan data digunakan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Interpretasi data dilakukan dengan menggunakan catatan dari hasil lapangan. Hasil dari data lapangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam tata cara penetapan mahar perkawinan yang berlaku bagi suku Nias di daerah Nias dengan yang berlaku di luar daerah Nias (perantauan). jumlah mahar yang berlaku di daerah Nias terdiri dari kefe (uang kertas), bawi (babi), böra (beras), firö (uang perak), dan ana’a (emas). Jumlah uang kurang lebih Rp. 30 juta, emas (cincin untuk mempelai perempuan dan ibu mempelai perempuan), babi 30 ekor, dan beras 20 karung. Tahap pendahuluan, masa pertunangan, pesta kawin dan penyelesaian harus dilalui seluruhnya sedangkan di Padang Bulan Medan tahap-tahap adat perkawinan yang lebih singkat, jumlah mahar yang lebih sedikit, berkisar antara Rp. 1 juta – Rp. 15 juta serta bisa di-uang-kan. Dari 10 orang informan, tidak ada yang pernah mendengar istilah gender dan hanya satu orang yang megerti konsep budaya patriarki, walaupun masing-masing informan menyadari bahwa terdapat sikap mendahulukan kepentingan anak laki-laki dalam keluarga. Dalam kehidupan rumah tangga, tidak jarang sang isteri manjadi penopang utama hidup keluarga ketika suami tidak mau tahu dengan keluarganya
 

5. WISATA NIAS

Museum Pusaka Nias

Museum yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso No. 134-A Gunungsitoli ini merupakan satu-satunya wahana penyimpan kemegahan budaya Nias, Sumatera Utara, museum dengan luas 2 hektar ini dapat dikatakan juga pusat rekreasinya masyarakat di Kota Gunungsitoli. Yang mencengangkan adalah saat hari libur pengunjungnya bisa mencapai 1500 orang.
Saat mengunjungi museum ini tidak hanya benda-benda pusaka yang akan Anda lihat, secara bersamaan Anda dapat juga bisa menyambangi obyek wisata tepi pantai yang tidak jauh dari museum. Dapat pula melihat koleksi binatang langka dan tanaman khas Nias, atau menginap di rumah adat Nias yang memang dapat disewa di tempat ini.

Koleksi dari Museum Pusaka Nias sekira 6.500 benda bersejarah yang berasal dari masyarakat Pulau Nias. Di sini Anda dapat melihat langsung beragam koleksi berharga budaya Nias, diantaranya adalah: alat rumah tangga, alat musik tradisional, perhiasan, dan patung-patung. Benda-benda koleksi yang dipamerkan tersebut dilengkapi keterangan (Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) untuk mengetahui sejarah, makna, dan fungsinya. Perawatan benda koleksi museum ini terbilang baik dan beberapa koleksi menggunakan obat pengawet khusus agar tidak lekas rusak.

Pantai Sorake

Pantai Sorake merupakan salah satu pantai terluar sumatera, pantai ini adalah tempat favoritnya para peselancar karena memiliki gelombang yang sangat bagus untuk berselancar, bahkan gelombangnya disebut-sebut terbaik ke-2 setelah Hawaii. Pantai ini berada di Desa Batohilitano Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Sumatera Utara. Sebagai pantai yang dikenal dengan gulungan ombaknya. Pantai sorake banyak dikunjungi pada bulan Juni dan july dimana pada bulan ini, pantai sorake memiliki gelombang laut yang besar dan di bulan inilah kejuaraan selancar sering diadakan. Tentunya, hal ini menjadi kesempatan emas untuk anda baik para peselancar maupun yang suka mengabadikan gambar ataupun hanya traveler biasa. Dan dibulan-bulan lainnya, rata-rata di hari sabtu dan minggu pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal. Untuk menuju pantai Sorake bisa menggunakan jalur laut atau udara.

Pantai Lagundri

 

Sama halnya dengan Pantai Sorake, Pantai Lagundri juga memiliki ombak yang sangat bagus untuk berselancar karena masih segaris dengan pantai Sorake. Pantai Lagundri dan Sorake merupakan dua dari ratusan pantai di Indonesia yang sangat cocok bagi wisatawan yang hobi selancar air atau surfing. Pantai Lagundri berada di sebuah laguna yang bersebelahan dengan Pantai Sorake, yang berjarak 13 kilometer arah selatan Kota Teluk Dalam, ibukota Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Jarak antara pantai Lagundri dan Sorake hanya 2 kilometer saja.

Lompat batu Nias

Ada sebuah tradisi yang sangat unik di Pulau Nias, yaitu Lompat batu, tradisi ini pernah dicetak di pecahan mata uang 1000 Rupiah. Hanya dengan melihatnya rasanya tidak mungkin untuk melompati benteng batu setinggi 2 meter ini, tapi bagi pemuda Nias itu bukan hal sulit. Kemampuan melompati batu tersebut tidak didapat serta merta, karena dari umur 7 tahun anak lelaki di Pulau Nias sudah mulai berlatih dengan melompati tali yang terus meninggi takarannya seiring usia mereka yang bertambah. Dan bila saatnya sudah tiba maka mereka akan melompati tumpukan batu berbentuk seperti prisma terpotong setinggi 2 meter. Ini juga sekaligus menjadi penakar keberanian dan kedewasaan mereka sebagai keturunan pejuang Nias. Jika Anda ingin melihat Tradisi ini secara langsung, berkunjunglah ke pulau Nias.

Fakta : Batu yang harus dilompati tingginya sekira 2 meter, berlebar 90 cm, dan panjangnya 60 cm. Dengan ancang-ancang lari yang tidak jauh, seorang pemuda Nias akan dengan tangkas melaju kencang lalu menginjak sebongkah batu untuk kemudian melenting ke udara melewati sebuah batu besar setinggi 2 meteran menyerupai benteng. Puncak bantu tidak boleh tersentuh dan sebuah pendaratan yang sempurna harus dituntaskan karena apabila tidak maka resikonya adalah cedera otot atau bahkan patah tulang.

Pantai Lawomaru

Pantai Lawomaru merupakan salah satu pantai yang populer di Pulau Nias, karena keindahan panorama dan mungkin karena legendanya.

Pantai Charlita

Pulau Nias banyak sekali objek wisata pantainya, karena pulau nias merupakan kabupaten kepulauan jadi mencari obyek wisata pantai di Kota Gunungsitoli tidaklah susah. Di Gunungsitoli Utara selain pantai Lawomaru, Lagundri dan dan pantai Sorake ada juga pantai Charlita, sebuah kawasan wisata yang selalu ramai dikunjungi masyarakat setempat untuk melepas kepenatan atau sekadar memandang laut lepas dari bilik pondok yang berjejer menghadap samudra. Pantai ini berada di Desa Afia, Kecamatan Gunungsitoli Utara, sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Gunungsitoli, menjadikan obyek wisata ini mudah dijangkau. Menuju lokasi, kendaraan roda dua dan empat melewati jalan setapak yang berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya.

Pantai Foa

Objek wisata Nusa Lima ini terletak di Pantai Indah Foa kurang lebih 17 Km dari kota Gunungsitoli. Di objek wisata ini kita menikmati keindahan alam laut yang sangat indah dan memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung karena dapat menikmati panorama pantai yang alami sambil ditemani nikmatnya hidangan laut.

6. ALAT TRANSPORTASI NIAS

Udara

Jarak tempuh menuju Kepulauan Nias berkisar 45 menit dari Bandar Udara Internasional Kualanamu (Medan) - Bandar Udara Binaka (Nias) dengan harga tiket antara Rp 400.000 s/d Rp 700.000.

Darat

Dari Kota Medan menuju Kota Sibolga berkisar 10 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000

Dari Kota Medan menuju Kota Pelabuhan Aceh Singkil berkisar 8 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000

Laut

Sesampainya di Pelabuhan Sibolga, perjalanan laut menuju Pelabuhan Gunungsitoli dapat memakan waktu 10 jam dengan menggunakan Kapal Penyeberangan dengan harga tiket sekitar Rp 80.000 s/d Rp 130.00. Kapal ini beroperasi setiap hari dengan jadwal keberangkatan Malam dan sampai di Gunungsitoli pagi hari.

Dari Pelabuhan Aceh Singkil dapat menyeberang dengan menggunakan kapal penumpang yang beroperasi 2 kali seminggu yaitu hari Selasa dan Kamis.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya