1. Ayah, aku menemukan ketulusan dari dia sama sepertimu.

Begitu sederhana caranya meluluhkan hatiku, Ayah

Begitu sederhana caranya meluluhkan hatiku, Ayah via https://www.google.com

Ayah, aku menemukan pria yang sama denganmu. Dia selalu memperlakukan aku seperti anak kecil. Apa ayah tahu? Dia selalu menemaniku hingga aku tertidur, selalu bernyanyi untukku di sepanjang tidurku, dia juga tidak lupa berdoa denganku sebelum tidur. Aku yakin Ayah akan menyukainya. Ayah pasti senang bila aku menghabiskan sisa umurku dengannya, tanpa ada rasa khawatir di hatimu.

Apa ayah tahu? Dia mampu menghiburku saat malam datang, di mana aku selalu merindukanmu? Begitu mulia Tuhan itu menghadirkan dia dalam hidupku. Tuhan tahu pria seperti inilah yang mampu membuatku berani menghadapi hidup ini.

Ayah, aku berjanji akan mengenalkannya padamu bulan natal nanti. Pria yang mampu menyamakan posisimu.

2. Sederhananya cara dia mencintaiku.

Jarak bukan alasan untuk mendua

Jarak bukan alasan untuk mendua via https://www.google.com

Pria ini luar biasa merubah pola pikirku. Bodohnya, aku menjadi ketergantungan dengannya. Aku tidak akan bisa memutuskan suatu permasalahan yang dihadapkan kepadaku, tanpa aku meminta pendapatnya. Malah, aku tidak akan bisa tidur terlelap jika dia tidak menemaniku di saat tidurku. Hahaha... Ini hal koyol yang pernah terjadi di hidupku! Sebelumnya aku tidak pernah bergantung hidup dengan orang lain.

Ketulusan dan hal-hal sederhana yang ia miliki, membuatku jatuh cinta. Kehadiran jarak di antara kami bukanah penghalang. Setiap berkomunikasi, kami selalu berusaha menghindari pertengkaran. Bahkan setahun menjalin kasih, kami tak pernah bertengkar sampai sehari. Selalu saja ada yang mengalah. Itu yang menjadi alasan, mengapa aku begitu meyakininya dan beranggapan bahwa dia pria yang dihadirkan Tuhan dalam hidupku sebagai pelengkap kekuranganku.

Jujur, aku adalah wanita yang matre. Karena aku mengenal pribadiku, aku bukan tipe wanita pekerja keras. Lagi-lagi, darinya aku menemukan kelebihannya yang menjadi kekuranganku. Dia adalah pria pekerja keras dan tidak mau mengandalkan orang tua. Hal ini semakin membuatku memantapkan hati karena ada keyakinan bahwa aku dan anak-anakku bakal mempunyai jaminan kehidupan.

Pria yang aku cintai ini adalah temanku semasa kuliah. Dari jaman kuliah, aku tidak pernah terpikir dalam benakku kalau dialah pria yang mampu membuatku jatuh cinta. Aku menjalin kasih dengannya setelah lulus wisuda. Itu pun setahun setelah ketamatanku. Tanpa sengaja dan berawal dari komunikasi BBM. Saat itu, mustahil bagiku jatuh cinta kepadanya. Kuliah saja dia belum kelar, bagaimana mungkin aku mengatakan pada dunia bahwa aku jatuh cinta?

Tapi kesederhanaan dan ketulusannya membuatku lupa akan kekonsistenanku selama ini. Dia mampu mengalihkan pandanganku dari pria lain. Bukan hal mudah bagiku saat itu menjalin hubungan dengannya. Sahabat-sahabatku pun tidak ada yang tahu. Masih ada perasaan malu tersendiri. Saat itu pun, aku berjanji dalam hatiku. Aku mengarahkannya jadi pria yang lebih baik dan layak dibanggakan oleh dunia.

Mengarahkan pria yang suka dunia luar, bukanlah hal mudah. Dibutuh perjuangan dan ketulusan. Aku mulai menata kehidupannya dan memantaunya sebisaku. Jika pulang larut malam, aku selalu bertanya "Di mana? Di luar, Beb. Entar pulang jam 10."

Jam 10 berlalu,
"Udah di mana? Udah di rumahkah?"
"Masih di luar. Lagi asik sama teman."
"Sudah malam. Besok kan bisa dilanjutin lagi?"

Hal ini bisa terjadi sampai jam 1 malam. Saat itu, aku hanya ingin menjadikannya lebih baik. Namun, aku juga pernah kecolongan. Sudah skripsi, sampai-sampai aku mastiin ke kampus bener atau tidak. Saat itu, aku tahu dia berbohong. Tapi aku yakin, dia punya alasan dengan sabar dan terkadang menyinggung sudah sampai bab berapa? Akhirnya dia pun mengatakan sejujurnya. Akhirnya dia pindah kampus supaya studinya cepat kelar dan bisa berkerja. Ada rasa bahagia dalam hatiku karena tidak ada yang sia-sia selama ini.
 

Sebelum mencintainya, aku memberanikan diri berpuasa. Apakah dia pria yang tepat atau tidak? Aku takut, aku salah pilih dan hanya sebagai kebahagiaan sesaat. Tapi saat itu, aku meyakininya bahwa kehadirannya adalah kado teridah yang sudah TUHAN persiapkan padaku.

3. Begitu sederhana cara menyakiti orang yang mencintaimu dengan tulus.

Bagai kehilangan kompas dalam kehidupan

Bagai kehilangan kompas dalam kehidupan via https://www.google.com

Semuanya terlalu indah. Aku begitu menikmati kado istimewa itu. Aku lupa bahwa kado yang diberi bisa saja diambil dan dipindah tangankan. Lagi-lagi aku pikir dia milikku mutlak, terlepas dari penciptanya dan keluarganya. Haruskah aku menyesali dan meratapinya dari sekian perjalannan yang sudah dijalani? Aku begitu mencintainya sampai saat ini dari kekurangannya sekalipun. Tapi bagaimana dengannya? Masihkah dia mencintaiku?

Tuhan di mana dia saat ini? Haruskah di setiap malamku terbiasa tertidur tanpa dia? Jika dia hanya dititipkan padaku, mengapa aku begitu mengasihinya? Kenapa aku tidak bisa berajak pergi? Saat ini, dia lebih mencintai kesibukannya dan menempatkanku pada posisi kesekian. Di saat aku ingin tahu bagaimana keadaannya, hal paling sederhana tapi tidak akan pernah aku temukan jawabnya di hari itu.

"Ke mana aja selama ini?"

"Kerja, gak kemana-mana."
"Masak gak ada waktu kasih kabar?"
"Iya, lagi banyak ngerjain proyek."
"O iya. Aku mau bilang sesuatu ke kamu."
"Apa?"
"Tahun depan kita tidak mungkin menikah. Kamu tahu sendiri penghasilanku berapa. Jadi, belum cukup untuk memenuhi kehidupan kita nantinya. Aku sudah memikirkanya matang-matang sesuai dengan rincian gajiku. Mungkiin 10 tahun lagi. Aku tidak memintamu untuk bertahan. Jika kamu ingin pergi kapan saja, silahkan. Jika bertahan, aku juga tidak melarangmu."
"Apa ini alasan atau kamu mau mengakhiri semuanya?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin memposisikanmu pada posisi yang tidak enak. Aku tahu kamu tidak akan bertahan. Karena 10 tahun adalah waktu yang cukup lama. Aku juga harus mengejar impianku."
"Tapi mengapa harus aku yang dikorbankan? Apakah selama ini aku melarangmu untuk bekerja? Aku meyakinkan hidupku padamu karena aku tahu kamu pekerja keras."
"Aku tidak ingin sifat manjamu kelak akan membujukku untuk menikah. Atau kamu merasa sudah cukup tapi aku belum. Aku tidak ingin kelak kita bertemu, kamu menganggapku seperti angin lalu. Setidaknya masih terjalin pertemanan di antara kita."
"Jangan terlalu keras kepadaku. Jika kamu menyayangiku, aku pun akan bertahan. Aku percaya pada kekuatan cinta dan keajaiban Tuhan. Sebab hanya Dia yang tahu kapan aku dipantaskan untuk menikah. Tapi, apakah kamu masih menyayangiku?
"Iya, aku menyayangimu."

Kemarin itu bukan penyelesaiaannya. Sia semakin sibuk dan yang membuatku gerah dan bingung, dia mampu up date sosial media dan bercanda-canda dengan teman-temannya. Tapi untuk balas chat-ku saja, itu teramat sulit. Kali ini, aku pun bertanya mengapa demikian?


"Aku hanya online sebentar saja."
"Pikirkan sedikit perasaanku. Jangan keraskan hatinya."

"Ini baru awal dan aku sudah bilang, jika bertahan, bertahanlah! Jika tidak pergi, untuk saat ini aku hanya bisa seperti ini.
Jika kamu letih dan sakit, buat apa?"
"Aku hanya takut kamu lebih memerhatikan wanita lain daripada aku. Apalagi akhir-akhir ini, kamu tidak pernah mencari aku. Jika kamu mencintai aku, mengapa kamu tidak pernah tanya kabar aku?"
"Tidak ada wanita lain. Jika aku mengatakan aku menyayangimu, apa kamu percaya? Pasti kamu alaskan mengapa aku tidak mencarimu. Lebih baik aku jawab, aku tidak menyayangimu dan terbukti aku tidak mencarimu selama ini."
"Kamu yakin apa yang kamu katakan?"
"Apa kamu tahu, kamu menyakiti aku, jangan dikeraskan hatinya?"
"Aku malas bahas itu. Sia-sia saja. Semua terserah kamu. Jika tidak ada kepercayaan lagi, buat apa dijalani?"

Lagi-lagi, aku mengalah. Apa karena aku terlalu mencintainya? Entahlah! Hal ini terjadi selama dua bulan. Aku tetap bingung, antara masikah dia mecintaiku atau ada kehadiran wanita lain? Sampai saat ini, belum ada keinginanku untuk menggantikanmu dengan yang lain. Meskipun aku marah atau kesal, aku tetap memperhatikanmu dan menyayangimu. Meskipun aku tidak tahu, sampai kapan kamu bertahan denganku dan apakah cinta ini sedang diuji?

Sampai saat ini, aku hanya ingin menjalaninya dengan tulus. Jika ketulusanku tidak dihiraukan, aku yakin hatikulah yang akan berbicara dan menentukan langkahnya. Semakin aku paksa dia berlari, dia akan tersakiti. Aku percaya Tuhan melihat kedasar hatiku saat ini. Dia tahu kerinduanku tidak ada yang terlepas dari rencana indah-Nya. Jika bertahanku menjadi alasan sebagian orang menghinaku, itu juga bagian yang sudah direncanakan dalam hidupku.

Cepat atau lambat, semua akan berlalu. Tidak semua kisah cinta berakhir dengan bahagia dan menyakitkan. Aku pasrah pada apa yang pernah dititipkan dan tetap berjuang sebisaku. Sampai aku lelah dan ingin beristirahat dari kisah ini.

Air laut pun tidak akan selamanya berombak. Akan ada surut.

4. Apapun yang terjadi, tetaplah setia.

Ketulusaan itu hanya dimiliki orang-orang yang setia

Ketulusaan itu hanya dimiliki orang-orang yang setia via http://assets.rollingstone.com

Setelah semuanya terjadi, aku tetap memilih setia. Meskipun banyak alasan untuk pergi, tapi tidak semudah apa yang mereka katakan. Aku hidup dengan pola pikirku dan aku percaya jika keputusanku salah, ada rasa puas dalam hatiku kelak. Kini semua bukan membaik, malah menurutku lebih buruk. Sekali untuk berkomunikasi saja terasa sulit, dia lakukan malah balas message, dia mampu hanya menjawab dengan kata paling simpel 3 huruf.

Entah kenapa denganku? Aku tetap ingin bertahan dengan situasi seperti ini. Aku nyaman ketika dia menyakitiku. Ini hal bodoh yang pernah aku lakukan selama kuhidup. Begitu sulit rasanya untuk bertahan, apalagi kini ada pria lain yang mencoba menggoyahkan hatiku. Untuk memulai saja, aku tidak punya keinginan dan keberanian. Aku menikmati setiap luka yang kamu berikan dan memilih setia menikmati kebahagiaan itu.

Aku percaya, hatiku punya batas waktu untuk bertahan.

5. Inginku, saat ini bertemu denganmu. Akan kupastikan kesetiaanku dan kesetiaanmu.

Kupastikan kau bahagia

Kupastikan kau bahagia via https://www.google.com

Kali ini, kupastikan kau bahagia dengan semuanya. Keadaan ini cukup membuatku tersiksa, terlalu lama menyita waktuku, sampai aku mengorbankan pekerjaannku dan balik ke kota itu. Meskipun dia tidak memintanya, sudah waktunya aku dan dia berbicara berdua. Aku sampai mengorbankan pekerjaanku meskipun menurut sebagian orang, ini adalah sia-sia. Aku hanya ingin memastikan segalanya dan sekarang aku siap denga segala resikonya.

Tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya