#BeraniWujudkanMimpi-Dari Free Writing Sampai Membuat Buku Traveling.

Teknik free writing sebagai awal membuat buku traveling

Apa yang paling diimpikan oleh seorang penulis? Kalau saya, dari pertama kali mulai suka dengan bidang kepenulisan, saya ingin mempunyai buku hasil dari tulisan saya sendiri. Menurut saya, seseorang akan terlihat berbeda dari karya yang dihasilkannya. Jadi, mempunyai buku adalah sebuah pencapaian yang cukup membanggakan bagi seorang penulis.

Menulis dan menghasikan sebuah buku memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena, semuanya membutuhkan proses dan tahapan. Tapi, apapun rintangannya, semuanya bisa dilalui jika kita #BeraniWujudkanMimpi.

Pengalaman saya, dari pertama kali mulai menulis, saya memulainya dengan menggunakan teknik free writing dan berlatih membuat sebuah paragraf. Setelah terbiasa, kemudian menjadikannya sebuah tulisan yang saling berkaitan antara satu paragraf dengan paragraf lainnya, atau istilahnya konherensi.

Advertisement

1. Dimulai dengan teknik menulis free writing

free writing @texpertin

free writing @texpertin via http://www.instagram.com

Bagi orang yang mulai menulis, mungkin akan mengalami kesulitan dalam membuat satu atau dua kalimat. Apalagi jika harus meyusun satu paragraf, sepertinya akan menjadi sebuah tantangan besar. Mendapatkan ide-ide menarik, tidak semudah menuangkannya menjadi sebuah tulisan.

Hal ini juga pernah saya alami di awal-awal saya mulai menulis. Untungnya saya mendapatkan buku yang berjudul free writing karya Hernowo Hasim. Dari judulnya, sudah terlihat bahwa teknik menulis ini memberikan kebebasan dalam menulis. Tetapi, bukan itu saja.

Advertisement

Teknik menulis ini lebih menekankan kita untuk menulis tanpa aturan tertentu. Ya, menulis saja, tanpa ada beban untuk memikirkan topik tulisan terlebih dahulu dan tanpa memikirkan apakah kalimat satu dengan kalimat lainnya saling berkaitan atau tidak. Pokoknya langsung menulis apa yang ada di pikiran kita saat itu.  

Dalam teknik menulis free writing tidak menganjurkan kita untuk meng-edit atau membaca ulang saat sedang proses menulis. Baru setelah selesai, kita bisa mengubahnya, itupun hanya untuk mengecek typo-nya saja tanpa harus meghapus dan menambahkan kalimat.

Pengalaman saya, dengan menggunakan teknik menulis ini, memberikan saya banyak kemudahan dalam menuangkan ide-ide apa saja yang ada di pikiran saya tanpa harus merasa takut apakah kalimatnya konherensi atau tidak. Yang penting saya berlatih dulu untuk menuangkan ide sebanyak mungkin.

Advertisement

2. Membuat kalimat topik dan kalimat pendukung

Kalimat topik dan kalimat pendukung

Kalimat topik dan kalimat pendukung via http://www.slideserve.com

Setelah terbiasa menuangkan ide pikiran dengan teknik menulis free writing, saya kemudian mencoba berlatih untuk menentukan topik tulisan, dan membuat kalimat topik sebagai awal paragraf. Aturan mudah dalam menulis sebuah paragraf ini saya baca dari bukunya Beatrice S Mikulecky dan Linda Jeffries yang berjudul ‘More Reading Power.’

Tulisan-tulisan yang saya buat dengan teknik free wriritng sebelumnya, saya baca kembali satu demi satu. Kemudian, saya mengubahnya lagi kira-kira topik mana yang sesuai dengan tulisan tersebut. Setelah itu, dirapikan dengan sebuah topik kalimat dan dijelaskan lebih jauh dengan kalimat-kalimat pendukung.

Setelah terlatih membuat sebuah paragraf pendek yang berisi kalimat topik dan kalimat-kalimat pendukungnya, kemudian saya membuat paragraf baru. Tahapan penulisannya diulang sama seperti paragraf pertama. Jadi, dalam sebuah topik tulisan, saya bisa membuat satu sampai tiga paragraf.

3. Mempostingnya di blog dan aplikasi menulis

Ilustrasi Blog

Ilustrasi Blog via http://www.jumpseller.com

Setelah mampu menulis tiga sampai lima paragraf, saya mulai mem-posting-nya di blog sendiri. Dan, ada beberapa yang saya tulis di aplikasi kepenulisan yang tidak mensyaratkan jumlah kata. Menurut saya, media-media menulis seperti ini membantu para penulis pemula dapat melatih kemampuan menulisnya dan memberikan rasa percaya diri.  

Di blog dan aplikasi tersebut, rasa tanggung jawab saya mulai tumbuh. Saya tidak mau menulis asal-asalan atau tidak mau memilih topik tulisan yang mungkin tidak menarik orang untuk membacanya. Semua tulisan yang sudah selesai ditulis, kemudian dibaca dan di-edit secara berulang-ulang.

Walaupun begitu, semua masukan dan komentar dari pembaca saya terima agar tulisan saya bisa berkembang dan meminimalisir kesalahan dan koreksi.

4. Ditolak editor tanpa koreksi

Ilustrasi traveling website

Ilustrasi traveling website via http://www.grammarly.com

Setelah sering menulis di blog dan aplikasi menulis. Saya mulai memberanikan diri untuk mengirimkan tulisan saya ke beberapa website yang memberikan aturan dan persyaratan untuk mengirimkan sebuah tulisan.

Salah satunya, saya mencoba untuk mengirimkannya ke sebuah website yang sudah cukup ternama dan mempunyai banyak pembaca. Tulisannya adalah tentang traveling. Tulisan yang menurut saya sangat mudah karena sesuai dengan pengalaman pribadi, jadi tidak membutuhkan banyak sumber referensi dan gaya bahasanya pun santai.

Ternyata, tulisannya ditolak tanpa ada koreksi atau sebuah catatan dari editornya. Kecewa? Sudah pasti. Tapi, saya tahu diri, mungkin tulisan saya tidak sesuai dengan apa yang editor mau. Patah semangat? Jangan sampai. Saya selalu mencari letak kesalahan yang saya buat sebelum bertanya kembali kenapa tulisan saya bisa ditolak.

Ternyata benar, letak kesalahannya ada pada diri saya. Intinya, saya tidak membaca ketentuan dan syarat menulis dengan teliti. Saya juga tidak membaca gaya bahasa yang biasa traveling website itu gunakan. Akhirnya, saya membaca dan membaca lagi semua tulisan yang ada di website tersebut agar feel tulisan, gaya bahasa, dan topik tulisan saya bisa sesuai dengan apa yang dinginkan oleh editor.

5. Menerbitkan buku traveling di penerbit buku indie

Ilustrasi buku traveling

Ilustrasi buku traveling via http://www.tiket2.com

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa, mungkin salah satu impian seorang penulis adalah mempunyai buku. Saya juga seperti itu. Tujuannya adalah agar saya bisa membuktikan ke diri saya sendiri bahwa saya bisa menghasilkan sebuah karya. Buku ini mungkin bisa menjadi penyemangat saya untuk terus menulis dan menghasilkan karya lainnya.

Setelah banyak tulisan saya yang diterima oleh editor di beberapa website dan melatih terus untuk membuat tulisan yang lebih panjang. Saya kemudian mencari penerbit buku indie yang cukup kredibel. Jadi, walaupun bukan penerbit besar dan ternama, tapi kinerja dan aturannya cukup bagus dan jelas.

Akhirnya, setelah dua tahun berlatih menulis dan mengirimkan tulisannya ke traveling website, buku pertama saya terbit.  Sebuah buku traveling yang membahas semua perjalanan dan pengalaman saya di Yogyakarta. Kota gudeg ini adalah destinasi wisata yang saya suka karena menyajikan segala hal tentang seni, budaya, dan sejarah. Jadi, ada banyak hal yang bisa saya ceritakan di buku tersebut.

So, jangan putus asa untuk mencapai apa yang telah kita impikan. Harus terus berjuang, berusaha, dan #BeraniWujudkanMimpi!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE