#CatatanAkhirTahun – 10 Langkah Versiku Agar Life Goals Tidak Sekadar Jadi Resolusi

Berkaca dari tahun lalu, ternyata life goals perlu dicapai dengan perencanaan yang matang

Luar biasa. Perjalananku sepanjang tahun 2021 sangat bermakna. Pada bulan Februari, aku mendapatkan pekerjaan pertamaku sebagai admin di perusahaan percetakan. Untuk pertama kalinya, aku merantau ke Jakarta dan belajar banyak tentang kerja keras, hidup mandiri, menghargai waktu, membangun kehidupan sosial, mengelola keuangan, dan masih banyak lagi.

Kisah asmaraku yang dimulai pada bulan Mei nggak kalah menarik untuk dijadikan momen kilas balik. Kala itu, crush yang kutunggu sejak lama akhirnya bersikap manis. Namun, di sisi lain sahabat terbaikku menyatakan perasaannya kepadaku. Berbagai konflik cinta segitiga harus terjadi. Momen-momen tak terlupakan pun terbungkus rapi hingga akhir tahun. Kisah tersebut membuatku paham, apa yang disebut dengan cinta, kasih sayang, perasaan, penerimaan, kepedulian, keikhlasan, dan sebuah pilihan.

Menuju akhir tahun, tepatnya pada bulan September, aku memutuskan resign dari perusahaan demi kembali fokus membangun karier menulis. Sebab semenjak kerja, perlahan otak dan tanganku terasa beku. Keputusan tersebut cukup berisiko, tapi bagiku bersusah payah dalam passion sendiri rasanya setimpal dan sangat memuaskan.

Siapa sangka hasilnya luar biasa. Aku berhasil mencapai artikel ke-300 yang terbit di beberapa media online pada awal November. Lalu setelahnya, Desember menjadi bulan terproduktif, di mana aku menulis 44 artikel soccer, yang diantaranya 40 artikel berhasil terbit dan 4 artikel ditolak karena topiknya sudah lebih dulu ditulis oleh penulis lain.

Keberhasilanku tidak lain dan tidak bukan karena keyakinan, ketekunan, kesabaran, serta perjuangan merealisasikan rencana dalam mencapai sebuah tujuan. Namun, di balik keberhasilan tersebut ada fisik dan psikis yang hampir terkuras habis. Usai istirahat selama seminggu di momen tahun baru, kini aku kembali berjuang demi life goals-ku untuk tahun 2022.

Nah, mumpung masih awal tahun, aku ingin berbagi bagaimana caraku mewujudkan resolusi. Nggak cuma omong kosong, kok! Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tapi sejauh ini aku mengalami kemajuan yang signifikan. Langsung saja, simak ulasan lengkap sepuluh langkah versiku supaya life goals tidak sekadar jadi resolusi.

Advertisement

1. Nikmati tahun baru demi kesiapan diri sebelum kembali bertempur

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.unsplash.com

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Tahun baru menjadi salah satu momen liburan paling seru. Alih-alih pusing memikirkan daftar resolusi, justru tahun baru harus dinikmati demi kesenangan batin usai berjuang habis-habisan di tahun sebelumnya. Dan itulah yang aku lakukan!

Aku melupakan semua bebanku dari tanggal 30 Desember sampai dengan seminggu setelah tahun baru. Waktuku selama itu hanya dihabiskan untuk bersenang-senang. Barulah setelahnya, aku mulai membayangkan hal-hal yang ingin dicapai tahun ini. Memasuki minggu kedua, pelan-pelan catatanku terisi. Setelah kesiapan diri dirasa cukup mantap, satu per satu rencana yang kubuat pun dijalankan.

Advertisement

2. Pentingnya menentukan tujuan dengan tepat

Photo by Alexa Williams from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Alexa Williams from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Kalau sudah siap, sekarang pikirkan apa yang ingin kamu capai tahun ini. Sebelum menyelam, buatlah daftar sementara. Tulis saja dulu! Akan tetapi, dari daftar panjang tersebut apakah semunya benar-benar kamu inginkan? Apa cukup realistis untuk dicapai? Apa bisa dilakukan semunya sekaligus dalam satu tahun?

Aku mencatat daftar resolusi yang jumlahnya tidak sedikit. Sebut saja ingin membeli dan membaca lebih banyak buku, menyelesaikan naskah buku dan menerbitkannya, menulis lebih banyak artikel, meningkatkan penghasilan, membiasakan bacaan Al-Qur'an setiap hari, aktif dalam berbagai lomba menulis, kursus bahasa Inggris, menerapkan gaya hidup sehat, dan masih banyak lagi.

Advertisement

Resolusi mana yang sangat kuinginkan, mana yang lebih penting, dan mana yang harus didahulukan atau justru lebih baik ditunda saja. Setelah memangkas banyak resolusi, yang tersisa hanya tiga tujuan. Aku menetapkan, tahun ini naskah bukuku berjudul The Killer of Mind Squad harus selesai, membeli dan membaca satu buku setiap bulan, dan mengamalkan sembilan surat dalam Al-Qur'an.

Jika tiga tujuan itu sudah tercapai sebelum akhir tahun, aku pun bisa membuat tujuan baru. Intinya, jangan membuat kepala pening hanya karena terlalu ambisius mengejar semua resolusi sekaligus. Tetapkanlah tujuan paling tepat!

3. Aku menulis daftar tujuan dan rencana menggunakan notes di ponsel

Photo by Magnet.me from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Magnet.me from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Menulis catatan merupakan langkah paling penting menurutku. Sebab, catatanlah yang akan menuntunku melangkah. Berkaca dari tahun lalu, catatanku ditulis seadanya, alhalsil semuanya kacau dang gagal untuk seorang pemalas sepertiku.

Sebaliknya, catatan harus dibuat lebih efektif dan efisien, tidak harus detail tapi lebih spesifik, mendasar tapi terstruktur, serta bertujuan untuk memudahkan. Kalian bisa menulis di buku, kertas tempel, ponsel, laptop, komputer ataupun media lainnya. Kebetulan aku memakai notes di ponsel, karena terasa lebih praktis dan mudah bagiku.

Rincian tujuan dan rencanaku dibuat dalam sebuah folder yang diberi nama My Life Goals. Isinya ada dua notes, yakni sederet tujuan dan rencana untuk mencapainya. Dalam notes pertama, aku menulis poin-poin yang ingin kuangkat dalam naskah buku, beberapa judul buku yang ingin kubeli, serta menulis secara jelas sembilan surat Al-Qur'an yang ingin kuamalkan.

Dalam notes kedua, aku menulis rencana-rencana yang harus dilakukan untuk mewujudkan ketiga tujuan tersebut. Contohnya meriset data dari berbagai sumber, menulis naskah setidaknya tiga kali dalam seminggu, menyisihkan uang khusus untuk membeli buku, meluangkan waktu untuk membaca buku, dan bangun pagi agar bisa membaca Al-Qur'an.

4. Cara pintar menulis jadwal harian dan mingguan versiku

Photo by bruce mars from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by bruce mars from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Saatnya menyusun jadwal suapya kamu lebih teratur dalam mengerjakan setiap rencana. Aku sendiri membuat datanya secara spesifik supaya tidak ambigu. Hampir sama dengan langkah nomor dua, aku membuat folder berjudul My Schedule. Di dalam folder tersebut, nantinya akan ada deretan jadwal mingguan.

Karena aku menghitung jadwal dari Senin-Minggu sejak tanggal 10 Januari, maka aku menulis notes dengan judul Januari Minggu ke-2 berisi kegiatan dari tanggal 10-16, Januari Minggu ke-3 berisi kegiatan dari tanggal 17-23, dan sekarang aku sedang menjalani notes Januari Minggu ke-4 berisi kegiatan dari tanggal 24-30. Untuk tanggal 31 yang tersisa, akan aku masukan ke dalam notes Februari Minggu ke-1.

Isi notes mingguan ditulis tidak terlalu detail, tapi tetap spesifik seperti sehabis salat membaca Al-Qur'an yang setiap waktu suratnya telah ditentukan, menulis artikel hanya dari Senin-Rabu di pagi hari, libur di hari Jumat kugunakan untuk bersih-bersih rumah dan membaca buku selama satu jam (setiap pukul 14:00-15:00), hari sabtu dan minggu untuk menulis naskah buku.

Supaya nggak bikin pusing, buat setiap notes mingguan ketika akan dikerjakan saja. Jadi setiap minggu kamu harus menambah satu notes. Datanya bisa dikopi dari notes minggu sebelumnya. Kalau perlu ada perubahan, ubahlah notes yang baru dan lihat hasilnya nanti di tahap evaluasi. Wah, di akhir tahun folder jadwal pasti akan penuh, ya!

5. Jangan lupa membuat catatan keuangan untuk mendukung tujuan

Photo by Brooke Cagle from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Brooke Cagle from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Berkeinginan punya mobil, punya bisnis baru, punya rumah sendiri, ingin ini dan itu sudah jelas butuh modal. Termasuk aku yang ingin membeli buku setiap bulan dan ingin menyelesaikan naskah, yang artinya harus membeli pulsa supaya bisa searching ketika sedang melakukan riset dari banyak sumber. Aku punya folder khusus untuk catatan keuangan. Isinya ada empat notes, yang diberi judul Pemasukan, Pengeluaran, Daftar Keinginan, serta Hasil Pengeluaran.

Yang pertama ditulis secara lengkap, dari mana saja aku bisa mendapatkan uang dan jumlah pastinya ditulis per bulan. Notes Pengeluaran tidak diisi dengan daftar barang yang telah dibeli, melainkan daftar barang yang direncanakan akan dibeli. Aku akan mengurangi beberapa barang jika budget tidak cukup. Di sana juga ditulis berapa yang harus kusisihkan untuk orangtua, sedekah, tabungan, dana darurat, beli buku, beli pulsa, bayar hutang, dan untuk daftar keinginan.

Notes Daftar Keinginan berisi barang apa saja yang ingin kubeli seperti skincare, outfit, aksesoris, alat-alat rumah, dan masih banyak lagi. Notes ini sangat berguna untuk menyortir barang yang penting dan tidak terlalu penting, nantinya akan disesuaikan dengan pemasukan dan ditulis dalam notes Pengeluaran. Barulah semua barang yang telah dibeli dan sisa uangnya dicatat di notes Hasil Pengeluaran untuk bahan evaluasi nanti.

6. Aku memulai semuanya dari aksi sederhana

Photo by Kinga Cichewicz from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Kinga Cichewicz from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Langkah catat-mencatat sudah selesai. Selanjutnya, mari lakukan aksi atau mulai mengerjakan tugas dari jadwal yang telah dibuat. Alih-alih ingin mencapai mimpi dan tujuan yang tinggi, kita harus memulainya dengan aksi paling sederhana seperti bangun pagi dan tidur tepat waktu. Jangan memaksa diri terlalu keras. Sebaliknya, aku mementingkan aksi-aksi paling sederhana secara rutin agar menjadi kebiasaan.

Temukan koneksi dari aksi sederhana dengan daftar tujuan. Misalnya, tugas yang berat seperti membaca Al-Qur'an, menulis naskah dan artikel tergantung dari seberapa pagi dan seberapa siang aku bangun, serta seberapa larut aku tidur. Ketika aku bangun jam 5 pagi, ada banyak waktu untuk membaca Al-Quran. Akan tetapi, jika semalam aku tidur lebih dari jam 11, mataku tidak akan sanggup membaca Al-Quran lebih lama.

Dari deretan tugas harian di dalam jadwal, aku menandai yang berhasil dikerjakan. Contohnya, kemarin aku berhasil bangun pagi, maka aku mencontreng bagian jadwal tersebut. Hari ini aku telat bangun setengah jam, maka aku membiarkannya untuk bahan evaluasi.

7. Percaya pada peroses, maka lakukan step by step

Photo by Ruffa Jane Reyes from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Ruffa Jane Reyes from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Kuharap kamu paham bahwa angka ini tidak sekadar daftar, tapi harus dilakukan secara bertahap. Artinya, jangan menentukan tujuan sebelum diri kamu siap. Jangan membuat jadwal sebelum menulis daftar tujuan. Jangan memulai aksi sebelum ada jadwal. Terakhir kali aku melakukannya malah kacau.

Daftar ini dibuat bertujuan agar langkah menjadi lebih terstruktur dan konsisten. Langkah ketujuh ini jadi pengingat bahwa semua hal memang butuh proses.

Sama halnya ketika kita memasak. Langkah-langkah dalam memasak tidak boleh sembarangan karena nanti hasilnya tidak enak. Bikin bolu kukus harus mengocok telur dan gula dulu, tambahkan terigu bersama bahan-bahan lain dan jadilah adonan, baru bisa dikasih pewarna, lalu dikukus, dan langkah terakhir disajikan. Jika langkahnya tidak dilakukan secara berurutan, bolu tidak akan jadi. Nah, lakukan step by step supaya bolunya enak, supaya resolusi dan tujuan kamu dapat dicapai.

8. Ingat motivasi yang bisa memacu langkah diri

Photo by Radu Florin from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Radu Florin from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Aku percaya, fokus dan konsisten itu nggak gampang. Apalagi aku orangnya pemalas. Makanya semua dilakukan pelan-pelan dan selangkah demi selangkah. Bahkan meskipun sudah demikian, tetap saja susah. Lalu bagaimana cara mengusir rasa malas di tengah-tengah proses tersebut?

Kita sudah menyelam ke dalam proses yang direncanakan secara matang. Tapi kadang ada ha-hal yang terjadi di luar rencana, membuat langkah terasa tersendat. Suasana hati juga kadang jadi pemicunya. Akan tetapi, motivasi bisa datang dari mana saja. Boleh mengeluh, istirahat sejenak, tapi ayo bangkit lagi, karena banyak resolusi yang menunggu untuk direalisasikan.

Motivasi paling mujarab ialah dari diri sendiri. Ingat, sejak awal aku berniat menetapkan tujuan yang paling tepat, paling penting, dan paling ingin kucapai. Aku ingin menyelesaikan tiga tujuanku kerena sebuah alasan besar, yakni mengubah hidup jadi lebih baik, terutama dalam membangun karier menulisku.

Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Keburu nikah, keburu punya anak, nanti nggak punya waktu sebanyak sekarang. Kalau capek, biasanya aku mengingat alasan tersebut supaya bisa memacu langkah diri. Nah, kalau motivasi versi kamu apa? 

9. Mengevaluasi hasil tugas yang telah dikerjakan

Photo by Victoria Heath from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Victoria Heath from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Mari melihat hasil yang telah aku kerjakan. Aku membuat folder lagi di notes ponsel yang berjudul Evaluation Result, berisi hasil evaluasi dari semua tugas yang telah dikerjakan. Di dalamnya ada empat notes, yakni The Killer of Mind Squad, My Book, 9 Surat Al-Qur'an, dan Pengelolaan Keuangan.

Minggu lalu harusnya aku mengerjakan BAB III dari naskah buku, tapi aku malah kalah oleh rasa malas. Bulan Januari ini aku berhasil menyisihkan uang untuk membeli satu buku berjudul Insecurity is My Middle Name, tapi belum selesai dibaca. Setiap surat dari sembilan surat Al-Qur'an masing-masing harus dibaca dua kali dalam seminggu, tapi minggu kemarin hasilnya tidak sesuai. Maka semua itu akan ditulis sebagai target yang harus ditingkatkan.

Evaluasi jadwal dilakukan setiap hari minggu setelah semua tugas selesai dilakukan. Minggu pertamaku hasilnya masih buruk. Banyak tugas yang tidak dikerjakan. Pada minggu kedua, ada peningkatan kira-kira sampai 30%. Sekarang aku sedang berusaha meningkatkannya lagi di minggu ketiga.

Kalau bagian keuangan biasanya dievaluasi setiap bulan setelah semua pendapatanku terkumpul dan digunakan. Tahun ini evaluasi keuanganku baru akan dilakukan nanti di awal Maret. Sebab, sehabis libur pendapatanku bulan ini tidak utuh dan baru stabil di bulan Februari nanti.

10. Caraku memberikan reward kepada diri sendiri

Photo by Victor Hughes from Unsplash via https://www.unsplash.com

Photo by Victor Hughes from Unsplash via https://www.unsplash.com via https://unsplash.com

Langkah terakhir, berikan reward atau penghargaan untuk diri sendiri yang telah berjuang keras demi terwujudnya life goals. Itu sebabnya aku membuat daftar keinginan. Jadi, setiap bulan aku menyisihkan uang agar bisa membeli barang yang kuinginkan sebagai reward.

Namun, tetap pada jalur positif di mana kamu harus mengontrol hal tersebut. Artinya, tetapkan berapa jumlah uang yang akan disisihkan. Jangan sampai kamu menghabiskan banyak uang hanya dengan alasan demi reward kepada diri sendiri.

Caraku merayakan keberhasilan tidak sekadar memenuhi hasrat dalam membeli barang atau makan-makan. Aku juga membuat jadwal tidur yang cukup di hari libur, yang di mana tidak kudapatkan di hari lain. Misalnya tidur siang selama dua jam pada hari Jumat. Lebih lanjut, aku meninggalkan draft naskah demi menonton film atau mengobrol panjang lebar dengan orang-orang tersayang di sisa waktu libur.

Bagiku, 2021 merupakan jendela pertama menuju kehidupan yang sesungguhnya. Sebab, lika-liku kehidupan yang sebelumnya tak pernah kurasakan justru terjadi di tahun tersebut.

Namun, berkat semua pengalaman dan pelajaran itu, kini aku lebih siap menghadapi kejutan manis serta pahit di tahun 2022. Oh ya, sepuluh langkah versiku di atas sejuh ini berhasil diterapkan. Semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi supaya tujuan kamu ikut tercapai. Good luck!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sometimes to stay alive, you gotta kill your mind (Tyler Joseph)

CLOSE