Suatu ketika waktu gue sakit dan butuh ke dokter.

Dokter: "Jangan stress."

Dan di kesempatan lainnya dengan sakit yang berbeda.

Dokter: "Kamu nggak boleh stress ya, usahakan jangan banyak pikiran."

Kemudian temen:

"Lu stress apaan sih? Bingung gue. Lo keliatannya selalu ceria aja deh perasaan."

1. People often forget, everyone has a chapter they don't read out loud.

Seseorang yang sehari-hari kelihatan happy, belum tentu tidak punya masalah atau beban untuk dipikirkan.

Gue sendiri, ketika mendapat respon seperti itu dari si teman, gue jadi in doubt with myself.

"Oh, mungkin gue overreact."

Advertisement

"Okay, gue mungkin nggak apa-apa."

2. But deep down in your heart, and more often than not, in fact, you know you are in the verge of mental breakdown. You need help.

Gue juga punya temen yang mengambil jurusan seputar dunia medis, ketika gue cerita kecenderungan gue mengalami gejala depresi, tanggapan dia adalah:

"Apaan sih lo, ini bukan bahan becandaan. Itu bukan depresi lah, tenang aja."


But, I wasn't joking. What if i really need help?


Kemudian, ketika lo nggak punya temen buat berbagi soal monster bernama depresi ini, karena lo mendapatkan respon yang begitu negatif ketika lo mulai open up and reaching out for help, that's when things get worse.

Beberapa tahun berlalu sampai akhirnya gue bertemu kembali sama temen gue yg merupakan calon tenaga medis ini. Hari itu gue kurang tidur, ditambah hormon yang unstable karena mau bulanan. Waktu ada acara ngumpul dengan beberapa teman lainnya, I just sat there being silent. I didn't even bother to respond on anything my friends do or say. I just sat there and freeze.

Sampai akhirnya, ketika pulang dia bilang ke gue, "Mood swing lo parah banget, sampe silent treatment gitu. Are you okay?"


Too late