Perkembangan zaman memang identik dengan kemajuan dan perubahan. Teknologi dan kemajuan pola pikir adalah sebagian bentuk dan hasil nyata dari perkembangan zaman.

Hal ini menjadi langkah positif bagi generasi – generasi muda yang ingin berkembang, dimana kemajuan teknologi ikut berperan dalam mempermudah berbagai kalangan dalam memperluas wawasan di masa sekarang ini. Banyak yang mulai bergerak untuk melemaskan kakunya pola pikir mereka terhadap perubahan, meskipun di lain sisi masih tersisa sebagian yang keukeuh untuk membatasi diri dengan perubahan. Soal dampak dari kedua cara pandang yang berbeda terhadap perkembangan zaman ini juga tidak selalu benar dan tidak selalu salah. Dalam artian suatu cara pandang yang berbeda pun bisa memiliki sisi kelebihan dan kekurangannya, tergantung dari bagaimana cara pribadi masing – masing dalam memilahnya.

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, etika adalah sebuah norma yang diberlakukan. Dan terkadang dari etika, kadang seseorang bisa menilai sekelumit sisi kepribadian dari orang lain. Bahkan orang lain pun bisa tidak menyadari bahwa seseorang sedang menilai bagaimana sikap yang ia tampakkan dalam suatu interaksi sosial. Seperti sekarang ini, pengaruh budaya barat sepertinya sudah semakin menggerus norma kesopanan dalam berperilaku di kehidupan bermasyarakat.

Dan umumnya pergeseran ini dianggap sebagai hal yang biasa saja, padahal bisa melemahkan nilai – nilai luhur yang sudah sekian tahun lamanya tak hanya menjadi sebuah norma yang layak untuk dijadikan panutan namun juga mempunyai sisi nilai budaya yang perlu dilestarikan. Dan etika sendiri tidak selalu kental dengan adat istiadat suku Jawa saja, bermacam suku di Indonesia pun pasti paham cara menjaga etika mereka ketika berada di lingkungan sosial masyarakat. Sayangnya semakin kesini etika atau norma kesopanan sendiri semakin luntur secara perlahan di tengah kehidupan masyarakat, seperti beberapa fakta berikut ini.

1. Memudarnya sikap etis ketika lewat di depan orang yang lebih tua atau sebaliknya

membungkukkan badan

membungkukkan badan via https://www.google.com.ua

Sebagai yang berusia lebih muda, sangat elok rasanya jika selalu mempunyai rasa sungkan kepada mereka yang lebih tua. Karena memang seharusnya seperti itu, semasa kecil pasti seseorang juga mempunyai rasa patuh kepada kedua orang tuanya. Lain halnya di zaman now, anak – anak muda semakin tidak mempunyai rasa sungkan ketika lewat di depan orang yang lebih tua.

Advertisement

Rasanya bukan adat Jawa saja yang mengajarkan seseorang untuk sedikit membungkukkkan diri ketika lewat di depan orang yang lebih tua apalagi jika ketika mereka pada posisi duduk yang lebih rendah dari yang muda. Lebih etis lagi jika sambil mengucapkan “permisi” sesuai bahasa masing – masing daerah ataupun bahasa Indonesia . Pasti kebudayaan suku lain di Indonesia juga menerapkan nilai – nilai yang sama untuk menghormati yang lebih tua, hanya saja dengan cara yang tidak sama. Tak hanya kepada yang lebih tua saja, akan lebih pas rasanya jika rasa saling menghormati antara yang muda dan yang tua sama – sama diusahakan. Mirisnya fakta di kehidupan sosial bermasyarakat sekarang ini, dengan berdehem ataupun pura – pura batuk dirasa lebih etis ketimbang mengucapkan permisi. “Ehem” dan “Uhuk” seolah mengisyaratkan bahwa “Saya mau lewat nih" atau "cepetan dong".

Padahal, hal ini sangat tidak etis dan menimbulkan kesan seseorang yang mempunyai sifat arogan dan congkak. Interaksi sosial, seharusnya juga perlu adanya sebuah komunikasi antar kedua individu. Karena, kemampuan lidah dan pita suara manusia untuk menyampaikan pesan yang ada di dalam otak menjadi sebuah bahasa percakapan yang mampu menghubungkan satu individu dengan individu lain adalah salah satu anugerah dariNya yang patut disyukuri.

2. Berbicara dengan nada tinggi pada mereka yang lebih tua

berbicara dengan nada keras

berbicara dengan nada keras via https://www.google.com.ua

Padahal sebelum tahun 2000an ke atas, anak – anak muda masih sangat sungkan kepada mereka yang lebih tua apalagi jika sampai berbicara dengan nada yang lebih tinggi. Terlebih jika sampai menggunakan bahasa – bahasa yang seolah sedang berbicara dengan sesama teman sebayanya. “Zaman now” seperti sekarang ini sudah sangat memprihatinkan, ketika banyak anak muda yang berani dan berperilaku sangat tidak sopan kepada orang yang lebih tua terlebih kepada orang tuanya sendiri. Padahal orang yang lebih tua atau kedua orang tua mereka tidak memberi perlakuan yang kasar ataupun tidak etis kepada mereka. Tapi rasanya sikap berani kepada orang tua atau orang lain yang lebih tua dianggap sebagai sesuatu yang keren dan anti cupu.

3. Cium tangan hanya sebatas pipi

cium tangan orang tua

cium tangan orang tua via https://www.google.com.ua

Advertisement

Semakin kesini seolah adab cium tangan saat bertemu dengan orang yang lebih tua semisal sedang bertamu ke rumah orang lain atau di suatu lingkungan seakan sudah bergeser, baik secara tata caranya maupun secara nilai. Umumnya, anak – anak muda sekarang ketika bersalaman dengan orang tua dengan cium tangan, mereka hanya akan menyentuhkan bagian pelipis atau pipinya ke bagian luar telapak tangan orang yang lebih tua. Padahal maksud dari cium tangan sendiri bukan secara langsung mencium tangan seseorang dengan menggunakan bibir, tapi cukup dengan menyentuhkan hidung ke bagian luar telapak tangan orang tua.

Mirisnya, di sekolah – sekolah sekarang ini pun tidak diajarkan dengan serius soal tata cara bersalaman yang disertai cium tangan untuk menghormati para guru yang lebih tua dari muridnya. Jika hal ini terus dianggap sebagai hal yang sepele, lama – lama generasi muda yang akan datang akan semakin menyepelekan keelokan tata krama atau budi pekerti yang sudah diwariskan nenek moyang negeri ini sejak lama.

4. Menyela pembicaraan

menyela pembicaraan

menyela pembicaraan via https://www.google.com.ua

Komunikasi adalah hal yang lumrah dalam sebuah interaksi sosial antara dua individu atau lebih. Dan lewat komunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami, dari situlah seseorang akan memperoleh informasi atau pesan yang dimaksudkan oleh si lawan bicara. Dan bentuk dari komunikasi pun bebas, bisa secara lisan maupun non lisan. Saat komunikasi non lisan via berbalas surat lewat jasa pengiriman surat POS Indonesia, kala itu proses komunikasi rasanya terasa sangat bersahaja. Dimana komunikasi tidak tersela lebih dulu oleh salah satu individu yang ingin menyampaikan pesannya. Ketika surat sudah sampai di baca si penerima, barulah penerima surat membalas kiriman surat dari si pengirim.

Lain halnya dengan sekarang ini, dimana banyak anak muda yang menyela pembicaraan saat orang yang lebih tua menjadi lawan bicaranya belum selesai berbicara. Atau ketika sesama sebayanya sekalipun, antara sesama yang muda dan sesama yang berusia dewasa. Keetisan dalam komunikasi di zaman sekarang ini sudah mulai memudar. Menyela pembicaraan saat beradu argumen dirasa lebih hebat dan lebih menguasai pembicaraan. Padahal hal ini bukanlah suatu hal yang mengedepankan etika baik secara nilai dan moral. Apa susahnya mendengarkan dulu apa yang disampaikan orang lain, baru menjawab apa yang orang lain sampaikan. Selain tidak keluar banyak tenaga dan meminimkan konflik hanya gara – gara masalah sepele, seseorang pun akan lebih bisa memberi jawaban yang pas setelahnya daripada hanya berbicara menuruti emosi.

Masih ingat orasi Bung Tomo di depan arek – arek Surabaya yang sanggup membakar semangat mereka untuk tidak kenal takut melawan penjajah ? Sampainya maksud dan pesan Bung Tomo kepada arek – arek Surabaya meskipun dalam diri para pejuang Surabaya emosinya sedang berkecamuk, adalah bukti bahwa komunikasi yang terjadi berjalan dengan seimbang tanpa seorang pun menyela orasi yang dilontarkan salah satu tokoh pejuang paling berpengaruh bagi kemerdekaan Indonesia kala dijajah Belanda. Dan bisakah kita mencontohnya demi kemajuan pola pikir dan moral bangsa yang besar ini ?

5. Tidak memandang wajah seseorang ketika sedang berkomunikasi

Tidak menghargai lawan bicara

Tidak menghargai lawan bicara via https://www.google.com.ua

Gawai atau gadget yang menjadi hasil dari sebuah perkembangan dan kemajuan zaman saat ini adalah suatu hal yang layak mendapat apresiasi karena manfaatnya yang memudahkan banyak kalangan. Namun terlepas dari kemudahannya, gadget seperti smartphone turut menjadi faktor yang melunturkan etika dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Umumnya saat ini sering dijumpai lawan bicara yang lebih fokus ke smartphone dengan aktifitas komunikasi dunia mayanya dibanding menghargai si lawan bicara yang sedang menyampaikan sesuatu sebagaimana proses interaksi sosial dan komunikasi yang seharusnya dalam kehidupan nyata.

Lain ceritanya jika memang mereka sedang bertukar informasi via gadget, dan memang sama – sama menggunakan gadgetnya untuk suatu kepentingan. Tidak ada penggolongan usia tertentu soal sikap yang tidak etis semacam ini. Sesama anak muda, anak muda dengan orang tua, atau sesama usia dewasa seringkali melakukan sikap tak etis semacam ini, entah hal ini dilakukan secara sadar atau tidak namun inilah fenonema nyata lunturnya etika negeri ini.

6. Berkurangnya ucapan maaf, tolong, dan terimakasih

maaf, tolong, dan terimakasih.

maaf, tolong, dan terimakasih. via https://www.google.com.ua

Pada saat kita tidak sengaja membuat kesalahan yang merugikan orang lain dalam hal kecil ataupun besar, sudah sewajarnya kalau kita meminta maaf atas kesahalan yang kita buat. Di jaman sekarang meminta maaf sepertinya hanya layak dilakukan kepada seorang kekasih sepenuh hati. Namun ketika membuat kesalahan kepada orang lain sebagian banyak orang hanya meringis ataupun malah balik memaki untuk menutupi kesalahannya. Ironisnya, ini juga dilakukan anak muda kepada orang tuanya atau orang lain yang lebih tua darinya.

Ada baiknya juga jika meminta bantuan pada orang lain, sebisa mungkin ucapkanlah kata tolong untuk saling menghargai. Karena ringannya keperluan atau pekerjaanmu juga memerlukan tenaga dari orang lain yang kamu mintai bantuan. Di jaman sekarang ini, meskipun dalam pekerjaan sekalipun sudah sangat jarang orang yang mementingkan kata tolong untuk meminta bantuan kepada orang lain dan lebih mengutamakan siapa saya dan siapa dia. Mungkin bagi seorang bos ini hal yang lumrah, tapi suatu yang elegan dan terhormat bagi seorang pemimpin.

Begitu juga dengan ucapan terimakasih, sudah seharusnya juga ketika seorang mendapat bantuan walau sekecil apapun ucapan terimakasih rasanya akan sangat melegakan. Meskipun banyak orang yang tidak mengharapkan kata itu terucap, namun sudah menjadi sebuah etika yang elegan dan elok ketika seorang mengucapkannnya tanpa rasa keberatan. Selain itu keramahan dan kerukunan pasti akan terjalin antara kedua belah pihak. Tidak begitu berat kan mengucapkannya, wahai generasi milennial ?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya