Dunia remaja memang selalu beragam dengan segala kenakalannya. Darah muda yang ada pada mereka membuatnya ingin mengenal dan mencoba segala sesuatu yang belum mereka ketahui sebelumnya.

Rasa ingin tau dan mengarah ke sifat yang kritis itu sebenarnya adalah sesuatu hal yang baik bila dimiliki para generasi muda. Asalkan, dalam menggunakannya tetap pada jalur yang sesuai dengan batasan – batasan yang ada. Hal ironis yang kerap kali menjadi kekhawatiran para orang tua pada anak – anaknya adalah pada fase pergaulan. Fase ini dianggap sangat penting dan sangat berpengaruh pada psikologis maupun jati diri anak itu sendiri dikarenakan pergaulan membawa dampak yang besar pada para remaja dimana mereka pada saat itu juga melakukan aktifitas melihat, mendengar, dan juga bahkan setelahnya mempunyai kemampuan untuk meniru.

Yang paling memprihatinkan dari kenakalan remaja saat ini dimana usia mereka masih sangat belia adalah ketika para remaja belasan tahun ini sudah mulai menyukai segala macam bentuk hiburan malamnya. Dan itu semua juga tidak lepas dari beberapa hal penting yang sebetulnya memerlukan perhatian lebih dari orang tua maupun kontrol diri dari anak itu sendiri sebelum mereka terlalu asik mencoba segala macam hal di dunia malam, yang sebenarnya belum pantas untuk seusia mereka.

Berikut beberapa hal yang menyebabkan banyak remaja dibawah umur terjerumus gemerlapnya dunia malam.

1. Pengaruh dari tayangan televisi

television program

television program via https://www.google.com.ua

Hal pertama yang sangat mudah mempengaruhi pikiran para remaja adalah apa yang mereka lihat dan apa yang juga disukai banyak teman sebayanya dalam lingkup pergaulan mereka. Dari melihat kemudian apa yang mereka tangkap itu akan berubah menjadi sebuah pembicaraan diantara lingkup pertemanan mereka yang juga kemudian menjadi sebuah perilaku yang dianggap keren dan layak untuk mereka tiru.

Dari kebanyakan tayangan di televisi, tayangan sinetron adalah yang paling banyak memperlihatkan hal – hal yang seharusnya tidak diperlihatkan pada mereka – mereka yang masih di usia remaja terutama jalan cerita sinetron yang sejalan dengan usia mereka. Seringkali jalan ceritanya dibuat secara hiperbola dan bahkan lebih banyak pengaruh negative di dalamnya hanya demi mengejar sebuah rating. Dari cara marah, cara mem-bully, penyimpangan, membentuk geng kriminal, cara menjadi seorang yang munafik, dan cara merusak diri dengan barang – barang terlarang atau kehidupan yang kelewat hedonis pun hampir semuanya ada dalam tayangannya.

Advertisement

Dan seperti yang sudah terjadi sekarang ini, para remaja yang melakukan dengan santainya melakukan kriminalitas, prostitusi dunia malam tanpa rasa malu, dan pemakaian obat – obatan terlarang adalah sebagian hasil cetakan dari tayangan yang semata – mata hanya mengejar rating dan pundi – pundi uang dimana sebagian lagi melakukannya karena terpaksa oleh himpitan ekonomi.

2. Lingkungan keluarga tidak mendukung

teen prostitution

teen prostitution via https://www.google.com.ua

Tidak bisa dipungkiri, lingkungan juga mempunyai andil penting dari fenomena kenakalan remaja yang bisa dibilang semakin membuat para orang tua mereka mengelus dada. Peran orang tua adalah yang paling penting bagi terbentuknya kepribadian anak dan kemampuan kontrol diri mereka di kehidupan sosialnya. Apa yang mereka ajarkan, adalah yang pertama kali para anak – anak mereka tiru sebelum pengaruh dari lingkungan luar menjamah pribadi mereka yang masih polos. Terkadang yang sangat ironis adalah pengaruh itu bisa dikatakan secara tidak langsung dari orang tua mereka sendiri. Seperti halnya banyak ditemui para orang tua yang tidak menemukan sisi kematangan dalam membentuk kepribadian mereka di usianya, yang mana banyak dari mereka yang masih melakukan hal – hal yang serupa dengan kenakalan remaja.

Apakah itu bertepatan dengan takdir atau pengaruh pepatah dimana buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya dari si anak untuk mengetahui sisi buruk dari orang tuanya kemudian memiliki kecenderungan untuk meniru terkadang tidak bisa disalahkan, dan walaupun tidak banyak faktanya memang ada demikian. Seperti yang mungkin dulunya si orang tua pernah terlalu menggeluti dunia malam seperti dunia prostitusi dan minuman beralkohol, hal ini juga bisa menurun sekalipun tanpa disadari dari si anak ditambah dengan tidak adanya kemampuan parenting yang baik dari orang tua. Dan bahkan kemampuan untuk bisa menurun pada si anak ini juga terjadi karena adanya pembiaran dari orang tua yang merasa dirinya dulu juga melakukan hal yang sama dan siapa tau nasib si anak berbeda darinya.

Advertisement

Lalu, bagaimana mungkin sebuah produk dari pabrik bisa mempunyai prestasi penjualan yang baik jika tidak pernah ada inovasi variant yang bisa meningkatkan daya jualnya ? Kira – kira seperti itulah analogi dari cara orang tua mengawasi dan mendidik anak yang ingin masa depan anaknya bisa lebih baik. Jika cara mendidiknya saja sudah sama persis dan apa adanya dengan dirinya yang dulu, hasilnya tentu juga tidak jauh dari apa yang sudah ada walaupun sedikit kemungkinan adanya keajaiban dari si anak untuk mempunyai kesadaran diri yang jauh lebih dewasa dan positif dari orang tuanya itu ada.

3. Lingkungan pergaulan yang buruk

Setelah lepas dari peran orang tua, waktunya anak untuk terjun ke dunia mereka dan bersosialisasi dengan berbagai macam karakter orang di luar sana. Entah kenapa, pengaruh negatif akan lebih mudah mempengaruhi para remaja daripada pengaruh positif yang dilihat oleh mereka. Namun jika diamati, pengaruh negatif lebih mudah mempengaruhi kebanyakan remaja karena adanya tambahan sebuah rayuan daripada ajakan. Ingatkah tentang cara Iblis membuat Adam dan Hawa tergelincir ke bumi dan menyesal oleh buah yang sudah mereka berdua makan ?

Kira – kira seperti itulah cara kerja rayuannya mengapa banyak kenakalan remaja yang semakin menjadi – jadi saat ini demi pengakuan jati diri dan adu gengsi mereka daripada memikirkan perasaaan orang tua yang sudah membesarkan mereka. Dan tak jarang kenakalan remaja ini juga disebabkan karena bentuk pelampiasan amarah dari diri mereka yang tidak mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua atau orang yang disayanginya, dan kemudian lingkungan pergaulan yang sejalan dengan pengaruh negatif ini dengan mudah merangkul mereka. Dan tidak jarang, untuk bisa bergaul dengan suatu kelompok pergaulan, mereka juga di tekankan untuk mempunyai kesamaan dengan apa yang mereka lakukan.

4. Demi menjaga sebuah gengsi

naughty teens

naughty teens via https://www.google.com.ua

Dunia remaja adalah dunia yang paling syarat dengan gengsi. Dan disini juga mereka mulai mengenal apa yang dinamakan dengan gengsi. Kemampuan bersaing ini sudah jauh dari yang seharusnya, jika mereka membuat standar persaingan oleh sesuatu yang sebenarnya lambat laun akan merugikan dirinya sendiri suatu saat nanti. Bahwasanya, hanya ada satu hukum yang menjadi patokan ketika seseorang sudah memilih jalannya untuk melakukan hal – hal negatif baik dari segi nilai sosial maupun pengaruh bagi dirinya sendiri, yaitu hukum cepat atau lambat. Namun kebanyakan remaja dengan darah muda yang masih meluap – luap ini seringkali masa bodoh dengan yang lainnya dan yang terpenting kesenangan jiwa mereka yang membuat mereka penasaran saat ini sudah terpenuhi.

Atau mungkin yang paling penting tidak kalah keren dan liar agar dirinya tidak dianggap sebagai sosok yang kuper dalam pergaulannya. Bahkan ketika dirinya sudah tidak menjadi dirinya sendiri adalah sebuah hal yang tidak perlu ia jaga demi sebuah gengsi dan kekinian. Dan tak ayal dari kriminalitas, prostitusi, penipuan dan penjualan obat – obatan terlarang itulah yang menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan kesenangan dan keliaran mereka di usia yang masih belia.

5. Anggapan nakal dulu sebelum tua

smoking teen

smoking teen via https://www.google.com.ua

Di sela – sela beberapa faktor yang paling menyebabkan seorang remaja mencoba hal – hal terlarang baik secara hukum maupun menyimpang secara norma yang berlaku di masyarakat, ada sebuah anggapan yang mungkin sedikit jarang banyak orang tua terkecoh dengan pemikiran yang dimiliki anaknya. Dalam pergaulan seusia remaja “puas – puasin nakalnya dulu daripada ketika tua nanti malah nakal” tentu sudah tidak asing lagi bagi banyak kalangan remaja di negeri ini. Tidak melebih – lebihkan, namun memang begitu adanya anggapan yang terus berkembang di pergaulan para remaja dari generasi ke generasi.

Sayangnya anggapan itu tidak disertai dengan sebuah yang berbunyi “semakin tua semakin menjadi”. Karena semuanya berawal dari sebuah kebiasaan dan bukannya mengandalkan spekulasi perubahan kepribadian seseorang. Sebagai contoh mudahnya, seorang perokok berat akan benar – benar berhenti merokok jika memang dari dalam dirinya sendiri ada kemauan dan tekad untuk tidak merokok lagi sekalipun teman sesama perokoknya mungkin membujuknya untuk kembali merokok di lain waktu. Sekali lagi, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan mustahil dihilangkan jika tidak ada niat dan kesadaran dari yang bersangkutan. Dan ironisnya, ada saja orang tua yang menasehati anaknya sedemikian rupa. Namun siapa yang tahu kendali diri seseorang jika bukan si anak sendiri yang berusaha mengendalikannya ?

Bangga tapi nakal? Hmmm.. bangga karena prestasi ya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya