Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajirin Effendy, menganjurkan sistem baru yaitu "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Ia memiliki alasan agar anak tetap aman terjaga dari pantauan guru dan orang tua. 

Alasannya sih cukup bagus. Mengingat banyaknya tindak kriminal, dan kejamnya dunia luar bagi anak-anak. Tapi mungkin, Mendikbud kita lupa poin-poin penting, bahwa sistem "full day school" bukanlah solusi untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. 

1. Psikologis anak akan terganggu

Membayangkannya saja sudah pusing via http://google.co.id

Belajar dari pukul 07.00 pagi sampai 13.00 siang saja, banyak siswa yang mengeluh. Kebanyakan dari kita yang mengalami masa-masa sekolah dengan standar waktu normal sudah kehilangan konsentrasi jika sudah memasuki waktu siang kan? Dan yang terjadi adalah beberapa siswa akan bolak-balik izin keluar kelas dengan alasan ke kamar mandi bahkan ada yang mencuri-curi untuk tidur sejenak di barisan bangku paling belakang berkedok pura-pura baca buku.

Lalu bagaimana dengan mereka yang nanti akan sehari penuh di sekolah?

Advertisement

Tentu kondisi psikologi anak akan terganggu. Anak-anak butuh tidur siang yang cukup, mereka butuh istirahat, butuh waktu untuk bermain dan mengekspresikan diri.

Belum tugas-tugas dari guru yang akan dikerjakan di rumah.

Mungkin Pak Mendikbud belum tahu dari Pernyataan Kak Seto kalau jumlah anak-anak di sekolah nasional yang stres dan mau bunuh diri karena tertekan karena jam belajar dan kurikulumnya, makin meningkat.

Advertisement

Lantas bagaimana nanti? Ingat Pak Mendikbud, mereka bukanlah robot yang bisa dipaksa melakukan apa saja tanpa berontak.

2. Anak justru semakin jauh dari orang tua

seharian di sekolah, pulang langsung tidur via http://google.co.id

Mengingat sistem "full day school" dengan alasan ketakutan bahwa anak tidak akan terpantau adalah sistem pukul rata dengan memandang pada sudut pandang perkotaan. Indonesia ini luas, tidak hanya ibu kota dengan segala kesibukan dan kejahatannya saja. Masih ada anak-anak di desa yang sepulang sekolah harus membantu orang tua. Mereka adalah kalangan menengah ke bawah. Terlupakankah?

Pak Menteri pasti tahu, tak semua orang tua sibuk kerja dari pagi hingga menjelang petang. Anak-anak perlu waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menceritakan setiap kegiatan sehari-harinya. Kalau satu hari penuh di sekolah, apa yang terjadi? anak lelah, langsung masuk kamar. Dan begitu setiap harinya.

Mengerikan ya?

3. Kualitas pendidikan Indonesia masih buruk

belum semua sekolah memiliki fasilitas yang layak via http://google.co.id

Jika sistem "full day school" benar-benar dicanangkan, Sudahkan mendikbud kita memastikan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia sudah baik? Sudahkah ditinjau bahwa semua sekolah telah siap menerapkan sistem ini?

Dengan jam normal pendidikan Indonesia sekarang saja sebenarnya, sudah melewati batas yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Standar belajar UNESCO 800 jam per tahun untuk anak SD, sedangkan anak SD di Indonesia belajarnya mencapai 1.400 jam. Kejam?

Tapi lebih kejam apabila full day school benar-benar ditetapkan.

Coba bandingkan dengan Finlandia dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, apakah mereka menekan siswanya untuk seharian di sekolah? tidak. Tahu nggak, Finlandia hanya menetapkan 5 jam belajar di sekolah, tanpa tugas maupun PR, bahkan tidak ada ujian nasional.

Kalau kualitas pendidikan sudah baik, bolehlah kuantitasnya ditingkatkan.

Jangan sampai generasi muda minta pindah ke Finlandia ya, Pak ! Hehe

4. Nilai akademis bukanlah yang paling penting

Nilai hanyalah sebuah simbol via http://google.co.id

Nilai akademis yang bagus memang membanggakan ya? Apalagi kita tinggal di Indonesia yang mengukur kepandaian dengan nilai matematika, fisika yang tinggi. Sering dengar ya kita, dengan teman-teman atau para orang tua yang berkata "Jono pinter tuh, nilai matematikanya tertinggi di kelas."

Terus yang jago gambar, jago renang, jago fotografi, jago nulis fiksi gimana? Dipandang sebelah mata.

Belajar itu bisa di mana saja. Tidak belajar dan menggunakan waktu untuk mengasah kemampuan dan bakat lain tidak membuat generasi muda bodoh kok, Pak.

Padahal tujuan sekolah adalah untuk mempersiapkan skill kita, mental kita dengan dunia luar agar bisa benar-benar bersaing tidak hanya dalam lingkup nasional tapi juga internasional. Yang sibuk mengejar nilai, menghafal teori, kelak jadi apa?

Guru, para akademisi? Yang nantinya akan menjadikan sistem ini bergulir terus menerus?

5. Terbatasnya sosialisasi dengan lingkungan luar

anak muda harus mengekspresikan hobinya via http://google.co.id

Anak tak bisa bebas bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Geraknya hanya sebatas teman sekolah. Tak dapat memiliki komunitas-komunitas yang dapat mengekspresikan karya mereka. Jangkauan pertemanan tak semakin luas, anak akan semakin individualitas karena ditekan untuk berkompetisi dengan teman-temannya di sekolah.

Indonesia kehilangan generasi yang harusnya peka terhadap lingkungan sekitar. Kami tidak mau tumbuh seperti itu, Pak Menteri. Jadi, kami mohon jangan buat peraturan yang memenjarakan kami.

Semoga Pak Mendikbud mempertimbangkan matang-matang, ya !

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya