Film adalah salah satu mahakarya seni yang sangat sering dijadikan konsumsi hiburan mata bagi mereka yang melihatnya. Dan film juga mempunyai masing-masing genre yang penggemarnya pun pasti berbeda-beda pula. Kebanyakan lebih cenderung menyukai genre film yang lebih seru dan mengundang detak jantung dibandingkan dengan genre-genre film seperti film drama.

Amerika adalah salah satu negara yang paling giat memproduksi film-film yang tak bisa dipungkiri selalu menembus tangga film box office internasional dengan para sutradara dan pemeran filmnya yang mempunyai skill diatas rata-rata. Walaupun Indonesia juga tidak bisa dipandang sebelah mata lewat film-film actionnya yang sekarang ini sudah semakin menemukan jalurnya untuk menembus pemutaran film di bioskop-bioskop di wilayah Asia, Eropa, dan Amerika. Hampir dari semua kalangan, baik yang dari usia kecil sampai dewasa bisa dikatakan menyukai apa yang disuguhkan lewat sebuah layar super lebar dengan tempat duduk yang nyaman, pun bisa sembari menikmati camilan.

Namun ada kalanya, film juga mempunyai batasan-batasan tersendiri terutama dalam pembatasan umur yang masih sangat perlu diperhatikan bagi mereka yang masih dibawah umur untuk mempunyai ruang tersendiri untuk menonton film yang memang sesuai dengan usia mereka. Saat kamu menonton film di sebuah gedung bioskop, mungkin kamu juga mengetahui sendiri bagaimana bisa mereka yang masih tergolong anak-anak menonton genre film yang terkadang walau berlabel film action atau bahkan animation sekalipun. Karena terkadang juga diselipi tampilan atau adegan yang kurang tepat untuk konsumsi mata seusia mereka. Dan perlu kamu ketahui, ini juga tidak baik untuk perkembangan anak menuju usia remaja. Karena kebanyakan dari anak- anak juga tidak hanya mengingat apa yang mereka lihat, namun juga menirunya.

Berikut beberapa alasan, pentingnya memperhatikan timing yang tepat untuk mengajak anak-anak menonton film di bioskop:

1. Rawan adegan vulgar

Closed eyes with hand

Closed eyes with hand via https://www.google.com.ua

Dalam sebuah film, adegan-adegan untuk pemanis jalan cerita sebuah film seringkali ditambahkan oleh sang sutradara. Dan sebagai aktor dan aktris profesional, adegan-adegan vulgar seperti itu sudah bukan hal yang sukar lagi untuk dilakukan karena selain menuntut profesionalisme dalam hal berakting, bonus bayaran dari sang produser pun juga pasti tidak sedikit. Bagi orang-orang dewasa yang menonton atau mereka yang bukan tergolong anak-anak bukanlah hal yang aneh untuk menonton hal-hal semacam ini. Terkadang sebenarnya kurang tepat juga jika mereka yang masih berusia dibawah 17 tahun terlalu sering menonton film bioskop yang menampilkan hal-hal yang kelewat vulgar untuk sebuah genre film.

Ketika sedang asik menonton film dan tiba-tiba ada adegan vulgar yang ditampilkan di layar, timing untuk menutup mata sang anak dengan satu atau dua telapak tangan pun juga sering terlewat sekian detik atau menit dari sang orang tua. Perlu kamu ketahui, sekian detik saja sudah cukup menembus ingatan kuat anak-anak kecil dan kemungkinan untuk dihilangkan juga tidak terlalu mudah dalam waktu yang singkat. Itulah yang tidak membuat heran, selain dari gadget sumbangsih film dewasa yang sengaja atau tidak sengaja terlihat oleh anak-anak sudah membuat mereka berani mencoba melakukan hal-hal intim yang dilakukan orang dewasa.

2. Membuat anak-anak menjadi penakut

Advertisement

Kesalahan kedua bagi orang tua yang sengaja mengajak anak-anak menonton film bioskop adalah pada genre film horor. Sangat diluar nalar mengapa anak-anak yang seharusnya masih senang disuguhkan mengenai hal-hal yang lucu, animasi kartun, dan bersifat tentang permainan bisa setega itu disuguhkan tontonan yang bisa menjadikan mereka anak-anak yang penakut. Bahkan itu juga bisa mempengaruhi psikis di usia mereka.

Tak heran jika anak yang seharusnya sudah berani ke kamar mandi sendiri,atau tidur malam hari di kamarnya sendiri masih selalu ingin ditemani oleh si orang tua. Kadang itu juga bisa membuat mereka paranoid sendiri pada hal-hal tertentu yang ditampilkan film horor, dari suatu hal yang sebenarnya tidak harus menakutkan untuk dilihat menjadi sebuah hal yang mengerikan

3. Membuatnya trauma atau malah menganggap sebagai suatu hal yang lumrah

Doing violance

Doing violance via https://www.google.com.ua

Konsumsi film-film yang terlalu ngeri atau bahkan sadis untuk dilihat juga tidak baik untuk si anak. Karena memang bukan waktunya mereka ikut melihat hal-hal yang belum diperuntukkan untuk seusia mereka. Ada kalanya ketika si orang tua mengatakan pada si anak bahwa adegan-adegan itu hanyalah tipuan belaka, namun cara pemikiran dan sudut pandang si anak pun bisa berbeda. Yang lebih beresiko adalah jika anak-anak melihat adegan-adegan sadis sebagai sebuah perilaku yang bisa terapkan kepada teman mereka karena menurut “sang guru” itu adalah hal yang tidak sebenarnya atau tidak menyakiti.

Advertisement

Memang iya para aktor tidak akan melakukan adegan yang menyakiti diri mereka sendiri terkecuali jika mereka yang memang ingin melakukannya dengan perjanjian kontrak tertentu. Ada kalanya anak memang mengerti dan tanggap mengenai pemahaman yang diberikan orang tua bahwa yang dilihatnya di sebuah film hanyalah sesuatu yang fiksi, namun ada kalanya juga mereka terlalu polos untuk memahami suatu pemahaman yang menurut mereka sulit untuk direfleksikan ke dunia nyata.

Jika seorang anak tumbuh menjadi sosok yang arogan, kasar, pemberontak, dan mungkin mengarah menjadi seorang psikopat kadang karena bukan karena salah pergaulan dan salah didikan semata, namun juga hal negatif yang terbiasa mereka lihat mereka anggap sebagai suatu hal yang biasa dan muncul kecenderungan untuk mencoba seperti apa sih rasanya melakukan hal tersebut.

4. Mengurangi kemungkinan melihat apa yang dilakukan suatu pasangan

Couple in theater

Couple in theater via https://www.google.com.ua

Rasa ingin tahu seorang anak kecil memang tergolong tinggi mengenai apa saja yang ada di sekitarnya. Itulah mengapa seringkali anak kecil juga menanyakan hal-hal sepele sampai yang juga bersifat penting bagi mereka kepada orang tuanya. Jika kamu jeli mengamati ketika ada anak-anak yang diajak orang tua mereka menonton film di bioskop, sesekali mereka juga curi-curi pandang dengan keadaan di sekitarnya.

Jika apa yang ada di sekitarnya adalah hal yang biasa-biasa saja tentu tidak menjadi masalah, namun sangat beresiko jika si anak melihat aktifitas-ktifitas terselubung para muda-mudi yang beranjak dewasa ataupun mereka yang dewasa sekali pun memasuki ruangnya yang paling egois. Terkadang anggapan dunia milik berdua masih selalu diresmikan di sela-sela pemutaran film di bioskop bukan ? Akui saja jika itu yang memang di sela-sela pemutaran film di gedung bioskop yang selalu gelap gulita.

Kira-kira bagaimana ketika si anak terbiasa melihat mereka yang berpelukan, berciuman, atau bahkan melakukan hal-hal vulgar lainnya menjadi suatu hal yang mereka anggap biasa ? Ingat, kemampuan untuk meniru dan ingin mencoba hal-hal yang membuat mereka tertarik untuk mencobanya dengan anak-anak seusia mereka adalah hal yang cukup memprihatinkan bagi perkembangan mereka.

5. Mengganggu ketenangan pengunjung lain

watching movie

watching movie via https://www.google.com.ua

Terkadang ketika kamu sedang serius menonton film dan ingin benar-benar mendengar dialog pada adegan-adegan tertentu harus sedikit terganggu dengan ulah si anak kecil. Akui saja jika kamu yang sering menonton film di bioskop terkadang juga mendengarkan ocehan-ocehan anak kecil, entah saat si anak itu rewel, selalu bertanya apapun pada orang tuanya, menumpahkan makanan ringan atau minuman, menggoda mas-mas atau mbak-mbak yang berada di sebelahnya, atau yang paling sering adalah tangisan yang dalam waktu sekejap memecah keheningan ruang bioskop di sela-sela pemutaran film yang baru dimulai atau masih menyisakan durasi satu jam lagi.

Daripada repot-repot dengan kerewelan anak saat menonton film di bioskop karena terpaksa harus pulang padahal belum “ngeh” jalan ceritanya, mungkin ada baiknya untuk menyediakan family time tersendiri.

Selain itu dengan pemilihan waktu luang yang pas dan pemilihan film yang sesuai dan disukai oleh si anak, dijamin waktu menonton film di bioskop tidak lagi menjadi repot. Atau jika mungkin memang ingin menonton film dewasa yang sedang ingin ditonton, mengalahlah dengan ego orang tua yang seharusnya sudah dewasa dengan menonton film di situs film gratis atau pada waktu si anak sedang sibuk dengan kegiatannya, semisal bimbingan belajar. Dan tentu akan lebih mudah lagi jika mempunyai seorang pengasuh anak di rumah, bila memang ingin memiliki quality time berdua sebagai pasangan menikah yang masih muda.

6. Tidak baik untuk kesehatan mata dan telinga si kecil

kid wearing glasses

kid wearing glasses via https://www.google.com.ua

Layar bioskop yang super lebar dengan pencahayaan yang sangat menyorot mata di kegelapan bukanlah kombinasi yang bagi kesehatan mata bagi mereka yang masih anak-anak. Terlebih jika pemilihan tempat duduk yang kurang tepat dan berada di deretan depan atau terlalu di sudut samping dengan posisi kepala yang lebih rendah daripada layar juga sangat sehat bagi penglihatan mata.

Tentu para orang tua tidak ingin anak-anaknya yang masih kecil harus memakai kacamata di usia yang belum genap 10 tahun bukan ? Maka dari itu kurangi waktu untuk mengajak si kecil refreshing bersama, hanya pada akhir pekan atau waktu-waktu dimana si kecil sedang libur bersekolah. Dan kalaupun bersama si kecil, usahakan untuk melihat tempat duduk yang berada di tengah dan tidak terlalu depan jika masih memungkinkan untuk kebagian tempat duduk di bagian tersebut.

Selain itu, kualitas audio dolby surround dari gedung bioskop yang terkadang getaran suaranya sampai membuat dada bergetar juga tidak baik bagi gendang telinga si kecil yang masih sangat rawan untuk mendengarkan frekuensi suara yang terlalu keras dari audio speaker dalam ruang bioskop.

7. Lebih bisa berhemat

money in wallet

money in wallet via https://www.google.com.ua

Dengan membuat jadwal tertentu untuk mengajak si anak menonton film animasi atau film asli Indonesia yang bersifat edukasi saja, tentu akan lebih memangkas budget pengeluaran untuk meonton film di bioskop. Orang tua memang tidak boleh egois dengan memaksakan anak ikut untuk menonton film yang mereka suka karena takut tidak ada hari lain untuk menonton film tersebut. Malah lebih efesien bukan hanya dari sisi pengeluaran tapi juga dari segi mendidik anak yang pas.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya