“Jangan menikah hanya karena didesak umur. Menikahlah kalau kamu sudah yakin dengan calon pasanganmu dan yakin bahwa pernikahan adalah jalan terbaik.” (Dian Nafi-Penulis) 

Menikah tentu menjadi momen spesial bagi setiap orang. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melewati fase ini dengan suka cita dan bertabur doa. Namun, merencanakan pernikahan bukan hanya tentang sewa gedung, berburu katering, memilih penata rias terbaik, atau mencari suvenir yang cantik. 

Sebenarnya, ada yang lebih esensial dari semua itu, sudah sejauh mana tujuan hidupmu dan dia menjadi satu. Baik yang sudah lama pacaran, ataupun yang berkenalan melalui proses ta’aruf, mempersepsikan tujuan hidup yang searah adalah hal yang tidak boleh diabaikan setiap pasangan. Jangan asal cepat memutuskan untuk menikah, karena pernikahan bukan perlombaan siapa yang tercepat sampai di depan penghulu.

1. Kamu dan dia mampu bersikap jujur serta saling mengapresiasi kejujuran. Bukan terbawa emosi karena pengakuan yang dilakukannya.

bersikap jujur

bersikap jujur via https://pixabay.com

“To conceal anything from those to whom I am attached, is not in my nature. I can never close my lips where I have opened my heart.” (Charles Dickens)

Advertisement

Sudahkah kamu dan dia menjadi pribadi yang jujur? Sudah sejauh mana kalian mampu mengatakan yang sebenarnya saat melakukan kesalahan?

Rasanya, kejujuran adalah harga mati untuk sebuah hubungan serius menuju pernikahan. Saat kamu mampu mengutarakan kejujuran dan dia mengapresiasi kejujuranmu, maka saat itulah kalian siap melangkah ke pelaminan.

Terlalu naif jika kamu ingin menikah dengannya namun belum sanggup bersikap jujur dan memberi apresiasi terhadap kejujuran, sekalipun itu membuatmu mungkin kecewa atau marah.

2. Kamu dan dia mampu terbuka terhadap segala aib yang pernah kalian lakukan atau permasalahan yang sedang kalian hadapi

terbuka dan saling percaya

terbuka dan saling percaya via https://pixabay.com

Advertisement

“What greater thing is there for two human souls, than to feel that they are joined for life–to strength each other in all labor, to rest on each other in all sorrow, to minister to each other in silent unspeakable memories at the moment of the last parting?” (George Elio)

Kepercayaan adalah nilai yang tak tertandingi. Saking tidak ternilai dengan mata uang, rasa percaya memang tidak akan timbul seketika saat kamu dan dia menjalani masa-masa awal pacaran.

Kepercayaan tumbuh seiring kamu dan dia saling membuka diri dengan perasaan masing-masing. Kamu mungkin memiliki aib yang bahkan tidak ingin diketahui orang lain, atau bisa jadi memiliki permasalahan hidup yang kompleks dan enggan dikasihani.

Tentunya, permasalahan yang dihadapi oleh pasanganmu bukan untuk konsumsi publik atau kamu bincangkan lagi bersama sahabatmu. Percayalah, jika kamu dan dia sudah mampu bersikap terbuka dan percaya, maka kalian selangkah lebih siap.

3. Karena pernikahan bukan ajang main-main, kamu dan dia memiliki tujuan hidup yang sama serta siap mewujudkannya bersama-sama

tujuan hidup sama

tujuan hidup sama via https://pixabay.com

“Love is not just looking at each other, it’s looking in the same direction.” (Antoine de Saint-Exupery)

Apalagi yang paling penting sebelum menikah? Menyamakan persepsi dan tujuan hidup. Kamu dan dia yang lahir dan tumbuh di lingkungan yag berbeda dengan pola asuh yang berbeda pula, cenderung akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki tujuan hidup berbeda.

Saat akan memutuskan untuk menikah, kamu dan dia perlu mengkomunikasikan tujuan hidup ini dengan serius. Masa iya setelah menikah kamu dan dia melangkah masing-masing tanpa punya visi bersama yang ingin diraih dalam pernikahan kalian.

4. Bukan hanya mencintai kelebihannya, namun kamu dan dia dapat saling mencintai setiap inci kekurangannya

mencintai kekurangannya

mencintai kekurangannya via https://pixabay.com

Love looks not with the eyes, but with the mind.” (William Shakespeare)

Siapa sih yang tidak terpikat dengan kelebihan seseorang? Apalagi jika dia kaya raya, ganteng/cantik, taat beribadah, cerdas, atau sederet kelebihan lainnya. Tentu, kamu dan dia mampu mencintai semua kelebihan itu.

Namun untuk menjalin hubungan serius menuju pernikahan, kamu dan dia perlu mencintai setiap kekurangan yang ada pada diri masing-masing. 

Menikah bukan untuk mencari pasangan yang paling sempurna, kan? Justru kamu dan dia adalah pasangan yang sempurna dengan ketidaksempurnaan kalian. 

5. Tidak hanya sebagai dua sejoli yang saling mencintai, kamu dan dia dapat berperan sebagai sahabat yang bisa menjadi pendengar setia

berperan sebagai sahabat

berperan sebagai sahabat via https://pixabay.com

We’re all a little weird. And life is a little weird. And when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall into mutually satisfying weirdness–and call it love–true love.” (Robert Fulghum)

Kehidupan memang tidak pernah lurus dan bebas hambatan, pasti selalu ada liku dan kerikil yang mengahantam. Ada saatnya kamu atau dia tidak membutuhkan saran apa pun.

Kamu atau dia cukup menjadi pendengar setia tanpa ada judjing saat salah satunya menghadapi sebuah masalah. Kehadiranmu atau dia dapat saling menentramkan satu sama lain, bukan malah semakin menyulutkan emosi jiwa, ya.

6. Pernikahan punya arti menjalani sisa hidup dengan orang yang sama, kamu dan dia butuh merasakan jatuh cinta lagi dan lagi

jatuh cinta lagi

jatuh cinta lagi via https://pixabay.com

A successful marriage requires falling in love many times, always with the same person.” (Mignon McLaughlin)

Pernahkah kamu membayangkan bahwa setelah menikah kamu akan hidup dan menghabiskan waktu yang entah kapan akan berakhir dengan orang yang sama? Tidakkah kamu khawatir akan merasa bosan?

Untuk itulah, kamu dan dia perlu memupuk rasa cinta yang kalian miliki dan selalu merasakan jatuh cinta berkali-kali terhadap orang yang sama. Tidak peru setiap saat, namun kamu dan dia butuh untuk kembali jatuh cinta satu sama lain.

7. Penting untuk dipahami, bahwa menikah bentuk ketaatan kalian untuk beribadah kepada Tuhan

tujuan menikah

tujuan menikah via https://pixabay.com

“Ada syarat penting agar kamu memiliki kehidupan pernikahan yang membahagiaan, yakni iman dan sisanya adalah kepercayaan.” (Elbert Hubbard)

Inilah yang melandasi megapa kamu dan dia memutuskan untuk menikah. Menikah menjadi bagian dari ketaatanmu kepada Tuhan. Bagaimana pun, kamu dan dia sama-sama ingin bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik  dari waktu ke waktu.

Dengan memutuskan untuk menikah, kamu dan dia dapat saling mendukung untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengerjakan lebih banyak kebaikan.

Jadi, kamu dan dia sudah siap menuju pelaminan? 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya