Jangan Sedih, Mari Pahami Hikmah dari Pandemi Ini Meski Harus Jalani #RamadandiPerantauan

Daripada meratapi keadaan dengan bersedih, lebih baik mencoba untuk memahami hikmahnya

Jendela kaca terbuka lebar memperlihatkan matahari jingga di puncak gunung, hampir tenggelam tapi belum. Beberapa menit kemudian terdengar bedug ditabuh, para muslim pun meneguk air dan mulai menikmati suguhan makanan setelah seharian menahan haus dan lapar.

Cara kita beribadah di bulan Ramadan masih sama, tidak ada yang berubah, hanya saja susananya kali ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, rasanya begitu hambar dan hampa. Itu karena tidak ada lagi susana ibadah di masjid akibat adanya pembatasan (Physical Distancing), budaya ngabuburit sambil berburu takjil lenyap seketika, begitu pula dengan tradisi buka bersama, sekarang hanyalah wacana belaka. Ini semua akibat mewabahnya virus corona, 2020 pun menjadi tahun dengan cobaan terberat untuk kita semua.

Bagi kita yang berjuang mencari nafkah demi keluarga di kampung, berteman dengan rasa sabar dalam menjalani Ramadan di perntauan itu sudah biasa, karena ada sederet rencana indah untuk pulang demi melepas rindu dengan keluarga di hari lebaran. Akan tetapi cobaan malah datang tanpa terduga, tahun ini tradisi mudik hanya menjadi sebuah impian semata, terpaksa dari Ramadan hingga lebaran kita harus menjalaninya di tanah rantau.

Namun jangan sedih, karena meratapi sulitnya keadaan tidaklah berguna, akan lebih baik jika kita mencoba menerima keadaan dan berusaha memahami hikmah dari corona meski harus menjalani Ramadan dan hari lebaran di perantauan.

Advertisement

1. Allah ingin kita lebih mendekatkan diri padanya

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash via https://unsplash.com

Sebelum virus corona menyerang, kita kerap kali terlalu sibuk akan urusan duniawi, seperti bekerja dan beraktivitas lain di luar rumah sampai kadang meninggalkan kewajiban untuk salat. Al-Quran juga jarang sekali dibuka apalagi dibaca.

Nah, dengan adanya lockdown akibat pandemik corona, kita dilarang keluar rumah jika tidak ada urusan yang benar-benar penting, apa pun sekarang menjadi serba sulit. Tapi daripada kesal, cobalah renungkan hikmahnya, berprasangka baiklah kepada Allah, mungkin ia ingin kita lebih mendekatkan diri padanya dengan lebih rajin beribadah di rumah.

Advertisement

2. Keadaan saat ini mengajarkan kita untuk lebih bersabar

Photo by Rachid Oucharia on Unsplash

Photo by Rachid Oucharia on Unsplash via https://unsplash.com

Berita terus saja membayangi, di mana semakin hari semakin banyak saja masyarakat yang positif corona, dan yang meninggal pun kian bertambah pula. Lebih dari itu, dampak pandemik ini begitu rumit karena mempersulit perekonomian. Pemutusan hubungan kerja di mana-mana, berdagang pun kian sepi, pendapatan yang berkurang rasanya begitu kencang mencekik leher di setiap harinya.

Namun, ratapilah, hikmah dari cobaan ini adalah di mana kita diajarkan untuk lebih bersabar. Sabar memang bukanlah suatu hal yang mudah, terlebih lagi di masa sulit ini. Akan tetapi, mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan dan sabar ialah kuncinya.

3. Pahamilah makna Ramadan lebih dalam

Advertisement
Photo by kilarov zaneit on Unsplash

Photo by kilarov zaneit on Unsplash via https://unsplash.com

Ramadan itu bukan ajang untuk bersenang-senang, bermalas-malasan atau pun ajang untuk makan banyak setelah berbuka. Ramadan adalah ajang untuk memperdalam ibadah dan memperkuat keimanan dengan berpuasa, tadarus Al-Quran sampai bersedekah untuk bekal menuju surga.

Riwayat Abu Hurairah ra berujar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu.” (Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim: 1793)
 

Begitu pula dengan Puasa. Berpuasa bukan untuk bermain saat ngabuburit, bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar, tapi berpuasa di bulan Ramadan ialah agar kita bisa menahan godaan dari hal-hal buruk seperti menjaga pandangan, pendengaraan, ucapan, mengontrol emosi dan menjaga hati menuju yang suci. Dengan di rumah saja, kita bisa lebih mudah melakukan hal itu. Rasulullah bersabda:

 

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari).

Hadis itu harusnya jadi panutan agar kita lebih mengahrap ridha Allah untuk mendapatkan pahala dibanding mengharapkan keseruan suasananya, hidangannya, atau baju lebaran semata.

4. Kita harus mendalami makna bersyukur

Photo by Ikhsan Sugiarto on Unsplash

Photo by Ikhsan Sugiarto on Unsplash via https://unsplash.com

Bagaikan rantai, pandemik corona menjerat semua orang dengan berbagai kesulitannya. Pekerjaan terhambat dan ekonomi jadi merosot, orang dengan pendapatan kecil kelaparan. Tapi percayalah! Berkah Ramadan tidak akan pernah pudar, jika kita bersyukur semuanya pasti akan baik-baik saja, sebab rasa syukur membuat hati tetap tenang dan damai.

Bersyukurlah masih bisa makan dan minum meskipun seadanya, sebab di luar sana ada begitu banyak orang yang masih kelaparan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bersyukurlah kita tinggal di negara yang aman, meskipun saat ini harus tetap berdiam diri di rumah saja. Sebab jika kita ingat pada warga Palestina, mereka harus tabah menjalani setiap Ramadan dengan ancaman peluru di mana-mana.

5. Membuat kita menjadi pribadi yang lebih ikhlas, tabah dan tawakal

Photo by mostafa meraji on Unsplash

Photo by mostafa meraji on Unsplash via https://unsplash.com

Semua perkara datangnya dari Allah SWT, maka hanya Allah pula yang mampu menolong kita. Jika diberi cobaan, maka ikhlaslah, terima segalanya dengan hati yang tabah serta damai.

Sikap yang baik dalam menghadapi pademik ini ialah dengan tawakal. Tawakal artinya kita berusaha menjaga diri dan tetap waspada, seperti mengikuti arahan pemerintah dengan di rumah saja, rajin mencuci tangan, berolahraga ringan di rumah, dan menjaga kesehatan lainnya. Setelah melakukan semua itu, barulah berdoa dan serahkan segala perkaranya pada Allah SWT.

“Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doanya mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang dizalimi.”(HR. Tirmidzi).

Maka bedoalah ketika sedang menjalani Ramadan meski tak bisa pulang dari kota rantau.

6. Belajar mengesampingkan sikap egois demi keselamatan bersama

Photo by Ikhsan Sugiarto on Unsplash

Photo by Ikhsan Sugiarto on Unsplash via https://unsplash.com

Dalam situasi mengkhawatirkan akibat pademik corona, rasanya kurang tepat apabila kita mementingkan urusan pribadi yang dapat membahayakan orang banyak. Ramadan serta lebaran di perantauan memang sedihnya luar biasa, tapi alangkah baiknya jika kita mengesampingkan sikap egois dulu demi keselamatan bersama.

Nilai-nilai Islam yang mengajarkan tentang beriman dan berakhlak baik harus kita terapkan dalam kehidupan. Sabarlah, karena Allah SWT pasti menyiapkan hadiah paling indah untuk orang yang senantiasa bersabar. Semoga kita dilindungi dari virus, selalu diberi kesehatan, dan semoga dunia segera terbebas dari pandemik COVID-19. Aamiin.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis cerita fiksi

CLOSE