Semenjak ada smartphone, manusia sepertinya tidak pernah bisa dipisahkan dengan keberadaan media sosial. Keberadaan media sosial sendiri sepertinya bisa diartikan sebagai sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Mengapa demikian? Kamu tentu tahu bagaimana kebiasaan millennial untuk mengisi waktu senggangnya. Selain sibuk dengan hobinya, stalking di Instagram adalah jawaban yang tepat. Siapa yang distalking? Jawabannya beragam, mulai dari gebetan, mantan, hingga sederet artis yang katanya rupawan. Kalau kamu menekan fitur explore di Instagram, feed pencarian di bulan September ini sepertinya masih didominasi oleh artis cantik seperti Raisa dan Bella.

Kabar pernikahan dan kehidupan asmara dua artis cantik ini memang banyak menyorot perhatian publik. Terang saja, keduanya adalah gadis cantik pribumi yang harus direlakan oleh masyarakat untuk jatuh ke pelukan pria asing. Ibarat kata seperti Indonesia sedang kehilangan asset lokal berharga yang jatuh ke negara asing lagi hehe. Sebagai seorang yang juga gemar mengikuti kabar terbaru dari kedua artis cantik ini, saya pun kadang iseng berimajinasi liar dan terkesan sedang kufur nikmat. Seperti ini misalnya.

1. Alangkah bahagianya menjadi Raisa, wajah cantiknya selalu membuat orang terpesona

Sebagai sesama wanita, aku mengakui bahwa Raisa memang punya wajah yang mempesona. Darah sunda milik ibunya mengalir dengan sempurna hingga membuat sosoknya juga mewarisi kecantikan luar biasa ala gadis Sunda. Ya, dia Raisa dan aku bukan siapa-siapa. Seperti yang aku bilang sejak awal, bagiku stalking Instagram artis seperti Raisa hanya akan membuatku menjadi sosok yang kufur nikmat.

Dengan wajah secantik dan semulus itu, pria mana yang tidak takluk dengan pesonanya? Sungguh betapa beruntungnya wanita yang bernama Raisa itu. Alisnya yang rapi, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, perawakannya yang ramping, kulitnya yang bersih, duh ngiri! Bagaimana dengan aku? Sstt ambil kaca dan tara lihat perbandingannya. Wajah kusam karena perawatan dokter yang tidak pernah berhasil, hidung pesek, alis tipis, pipit bergerigi akibat jerawat, muka selebar lapangan golf. Sepertinya aku hanya akan cantik jika berpose di depan kamera selfie expert atau dengan bantuan filter seperti B612.

Advertisement

Seperti itulah aku menilai tampilan fisikku. Khas anak muda yang hobi berkeluh kesah dan mendustakan nikmat Tuhan yang Maha Esa. Hingga akhirnya aku mendengar ibu berbicara


Nak, secantik apapun kamu, nanti kalau tua juga kamu akan keriput seperti mbah. Nanti juga yang membuat suamimu bahagia bukan cuma karena kamu cantik, tapi pribadimu nak.


Seperti disambar petir di siang bolong, ucapan sederhana dari ibu seperti membangunkanku dari imajinasi liarku. Iya, ibuku benar. Betapa cantiknya seseorang, ia juga tetap akan jadi tua dengan keriput di wajahnya. Kenapa tidak aku sibuk mempercantik kepribadianku saja? Agar kelak ia yang menjadi suamiku akan betah menetap di atap yang sama.

Advertisement


Jika kecantikan seorang wanita bisa membuat semua pria menatap, maka kepribadiannyalah yang akan membuat pria menetap.


2. Beruntungnya jika aku jadi Raisa, suara merdunya selalu diidamkan banyak wanita

Beralih ke poin kedua alasan karena aku merasa akan bahagia jika menjadi Raisa dengan suara merdunya. Jika masalah kecantikan sudah terselesaikan dengan jawaban kepribadian, bagaimana aku akan menyelesaikan permasalahan yang satu ini. Ketika hobimu mendatangkan uang, mungkin seperti itu aku memandang anugerah suara merdu yang diberikan Tuhan kepada Raisa. Di dunia ini siapa sih yang nggak tergiur dengan hobi yang menghasilkan uang?

Apalagi kalau kerjanya “cuma” nyanyi. Kan enak gampang, cuma modal suara dan paham nada. Kalian boleh mengkritik pendapat brutalku tentang penyanyi. Tapi jujur memang begitu yang aku rasakan. Jadi sebenarnya yang aku irikan bukan suara merdunya, tapi keberuntungannya karena bisa bekerja mendapatkan banyak uang hanya lewat hobinya. Sedangkan bagiku yang baru saja lulus kuliah, jangankan dapat banyak uang, berhasil dalam tes wawancara kerja saja jarang-jarang.

Hingga akhirnya di suatu hari aku berjumpa dengan seorang anak di tengah padatnya lalu lintas kota. Dengan seragam sekolahnya ia berlari ke sana kemari menjajakan kerupuk. Sesekali aku melihatnya mengusap peluh di kepala karena ia sibuk berlarian ke sana kemari menawarkan dagangannya. Akupun menghampirinya dan bertanya “adek nggak capek?” “Enggak mbak, Ibu bapak sudah tua ngggak bisa menyekolahkan saya. Jadi kalau saya mau sekolah ya harus kerja berusaha, karena kata bu Guru Allah itu Baik, pasti akan membantu saya kalau saya nggak malas.” Eng ing eng, jawaban anak polos ini terlalu menusuk jiwa.

Sungguh sebenarnya jawaban itu sederhana, tapi karena seorang anak SD yang berbicara, saya jadi malu dibuatnya. Bagaimana bisa saya iri dengan kehidupan Raisa yang sukses dengan karirnya, sementara anak tadi tidak pernah merasa iri dengan kehidupan saya yang bisa sarjana dengan biaya orang tua?

3. Jika aku jadi Raisa, pasti nggak perlu galau lama-lama setelah patah hati karena ada banyak pria yang siap mengantri

Mantannya Raisa

Mantannya Raisa via https://www.google.com

“Cie yang gagal move on seringkali cuitan seperti itu saya dengarkan dari teman sepermainan lantaran sering mendapati saya yang hobi mengunggah foto di Instagram diiringi caption galau. Jalinan kisah cinta yang sudah dikenalkan pada orang tua dan kerabat memang tak pernah bisa berakhir dengan baik-baik saja. Ada perasaan malu dan kecewa lantaran yang dibawa pulang ke rumah tak bisa menjadi suami malah pergi ke lain hati.

Ratusan hari aku mencoba berdamai dengan masa lalu dan menerima kenyataan bahwa aku memang sudah ditinggalkan. Bagiku, kenangan buruk karena ditinggalkan selalu sepaket dengan trauma untuk mencoba sebuah hubungan yang baru. Tapi lihatlah Raisa, bahkan setelah kisah 5 tahunnya bersama Keenan gagal, masih saja aku melihatnya bahagia lewat Instagramnya. Ia pun juga tidak mengekspos kesedihannya berlebihan, sungguh betapa mengagumkannya saat ia lebih memilih untuk menghasilkan sebuah karya di tengah patah hatinya. Beda sekali dengan aku yang sibuk mencari perhatian seakan sedang meminta belas kasihan karena sudah ditinggalkan. Ah Raisa, harusnya untuk poin ini aku banyak belajar dari kamu mbak. Tetap sibuk berkarya walau sedang patah-patahnya. Biar patah hatinya nggak sia-sia kan ya?

4. Menjadi Raisa pasti selalu bahagia karena hadirnya sosok suami idaman seperti Hamish Daud

Suaminya Raisa

Suaminya Raisa via http://www.viva.co.id


Habis Keenan terbitlah Hamish, duh Raisa!


Setelah sibuk menata lagi hidup yang sempat kacau balau, kini saatnya aku harus benar-benar meninggalkan masa lalu untuk memulai hidup yang baru. Kali ini Raisa jadi objek keiirianku lagi. Kalau Raisa aja bisa dapat pengganti sekeren Hamish, kenapa aku nggak bisa? Hehe sedikit memaksa memang, tapi poin yang harus dicermati di sini adalah segala hal baik akan tetap datang pada mereka yang mau memperbaiki diri. Begitupun dengan aku, kamu, dan Raisa. Percayalah kita juga bisa kok dapat suami yang walau pun mungkin nggak akan setampan Hamish, tapi percayalah kasih sayangnya pasti sama besarnya seperti Hamish yang menyayangi Raisa.

5. Lantas jika aku jadi Raisa, apakah hidupku akan bahagia selamanya?

Apa Aku Bahagia?

Apa Aku Bahagia? via https://www.pexels.com

Setelah semua bagian hidup dari Raisa ku gabungkan, aku sampai pada sebuah pertanyaan simpulan. Lantas benarkah aku bisa bahagia jika aku menjadi Raisa? Tentu mentalku Di titik ini mungkin aku hanya tinggal menyimpulkan setiap potongan jawaban yang pernah ku dapatkan sebelumnya. Benarkah setiap permasalahan hidup akan terasa mudah jika aku jadi Raisa?

Bagi Raisa tentu punya masalah peliknya sendiri, hanya ia pandai untuk menjaga dan menyembunyikannya agar masalahnya tidak semakin runyam dan tidak dikonsumsi public. Menjadi Raisa tentu juga pernah mengalami titik berat dan titik jenuh dalam hidupnya. Tidak ada yang pernah baik-baik saja setelah mengalami sebuah perpisahan, begitupun dengan Raisa. Tapi Raisa hebat karena sudah berhasil melewati itu dan membuat hidupnya jadi lebih baik. Amenjadi Raisa tentu tidak mudah, kamu pasti tahu bahwa seorang artis pasti punya haters.

Dan ketika haters bertindak, kamu bisa saja menerima beragam bentuk hujatan, kecaman, hingga aksi terror yang membahayakan. Nah memang aku sudah siap kalau punya haters? Dibicarakan dari belakang oleh orang lain saja kupingku masih panas kok, apalagi jika orang se-Indonesia yang membicarakanku? Tentu mentalku belum sekebal dan sekuat itu. Menjadi Raisa juga nggak asal terkenal karena video viral mendadak. Ia benar-benar seorang artis yang memulai dari bawah, dari seorang yang bukan siapa-siapa lalu menjadi seorang Raisa yang sekarang. Sungguh semuanya ia lalui dengan usaha dan kerja keras yang tidak sebentar. Kalau aku ingin jadi seperti Raisa ya jawabannya cuma satu. Jangan lupa berusaha dan berdoa.

Begitulah aku yang mencoba untuk menjawab pertanyaan hidupku. Karena seharusnya aku tidak mengukur kebahagiaanku dengan milik orang lain. Karena kalau cuma sibuk melihat hidup orang lain ya nggak akan pernah ada habisnya. Bukankah di luar sana juga banyak orang yang iri dengan kehidupan yang ku miliki? Jadi sepertinya aku memang harus belajar lebih banyak lagi perihal bersyukur. Agar lain kali aku terhindar dari segala godaan dunia yang membuatku kufur.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya