Apakah kamu seorang petualang? Jika iya, tentu pernah lihat di katalog traveling tentang keramahan penari lego lego dari NTT.  Tepatnya di desa Takpala Kabupaten Alor. Ya, tarian ini memang cukup unik, kostum mereka yang khas karena ditenun dengan alat tradisional menggunakan tangan. Makin keren lagi adalah, pakaian adat itu mereka pertahankan hingga sekarang. Betapa itu adalah peradaban etnik nyata saat ini? Kenyataan, gaya hidup ini benar benar genuin dan hampir sulit kita jumpai di negri kita Indonesia. 

Hal paling berharga adalah di sana saya dapat sedikit membuka mata untuk tahu tentang etnis Alornese ini. Tentang betapa kayanya negeri kita Indonesia dengan Surga alamnya. Sekali lagi saya merasa sangat beruntung bisa berkunjung di Desa Takpala pulau Alor waktu itu. Karena Desa Takpala merupakan salah satu tempat yang paling jarang dikunjungi di wilayah ini.

Entah beberapa tahun lagi apakah mereka akan tergerus oleh arus global dengan menembok dinding rumah adat mereka? Atau mengganti jerami atap rumahnya dengan genteng atau beton?

Apapun bisa saja terjadi, itulah sebuah desa adat di kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur yang masih bertahan dengan kebudayaan mereka hingga saat ini. Kemewahan alam pegunungan yang didukung oleh kesejukan hidupannya benar benar murni. Di sinilah masyarakat etnis itu menjalani kedamaian hidup dengan bertahan pada tradisi dan budaya asli mereka sejak zaman purba. Ini sebuah cermin betapa kuatnya komitmen mereka mempertahankan peradaban leluhur mereka untuk kehidupan selama berabad-abad lamanya. 

 

1. Keberagaman Bahasa Di Pulau Alor

Suasana desa Takpala

Suasana desa Takpala via https://www.instagram.com

Disanalah dataran tinggi yang di huni oleh suku Abui desa Takpala. Di desa inilah saya pernah menulis tentang tari Lego Lego dan hal-hal yang mungkin bisa membantu kamu jika kesana. Atau apa saja sekiranya bisa kamu lakukan di Kepulauan Alor.

Advertisement

Terlepas dari apa itu kamu akan puas menghabiskan waktu cukup dengan sekitar satu jam di sini, berbicara dengan penduduk setempat atau menjelajahi rumah tradisional mereka.

Desa Takpala berada di perbukitan Alor, yang berjarak sekitar 13 kilometer dari kota Kalabahi, area utama Pulau Alor. Masyarakat Takpala juga dikenal sebagai suku Abui yang juga merupakan kelompok etnis terbesar di pulau itu. Suku Abui juga dikenal sebagai orang gunung. Secara keseluruhan, ada tiga desa tradisional utama, tetapi Takpala adalah salah satu yang termudah dan terbaik untuk dikunjungi di Pulau Alor. 

Karena Alor adalah rumah bagi lebih dari 40 kelompok etnis berbeda bahkan berbicara dengan bahasa beda pula. Kabupaten ini memilki lebih dari 60 bahasa dengan sub bahasa dari Pulau Alor itu sendiri.

Advertisement

Itu luar biasa, mengingat betapa kecilnya pulau itu tapi memiliki begitu banyak ragam bahasa. Namun, dalam komunikasi antara kelompok etnis berbeda itu, mereka semua berbicara dalam satu bahasa sama, yaitu Bahasa Indonesia.

2. Perjalanan ke Desa Takpala

Rumah Lopo Suku Alor

Rumah Lopo Suku Alor via https://www.instagram.com

Bagi siapa pun yang ingin mengunjungi desa Takpala, kamu bisa berangkat dari Kalabahi yaitu ibukota Kabupaten Alor. Kalau kamu menggunakan mobil atau taksi akan butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di desa Alor.

Untuk bahasa kamu tidak perlu kawatir karena mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Indonesia. Jadi jangan malu bertanya, mereka akan selalu ramah pada tamu. Jika masih bingung kamu bisa menyewa taksi saja atau menggunakan pemandu wisata. Harap dicatat mungkin kamu perlu pemandu wisata untuk sesuatu hal bila ingin kamu ketahui lebih dalam. Karena mungkin kamu juga berencana untuk menjelajahi seluruh pulau. 

Perjalanan ini adalah bagian dari memori Trip of Wonders 2017 dengan tema Wisata Indonesia di mana kami menjelajahi Nusa Tenggara Timur dan Raja Ampat. Jadi telah dipersiapkan ritual penyambutan di kaki desa dengan tari lego lego oleh suku Abui di desa Takpala.

Rombongan kami cukup banyak, karena kami berangkat menggunakan jasa traveling, bersama lima puluh orang lainya. Jadi itu murni perjalanan petualangan kami untuk mengenal tempat-tempat menakjubkan di Indonesia. Meskipun selesai dari Raja Ampat saya terpaksa memisahkan diri dari rombongan karena harus ke Lombok waktu itu. 

3. Sambutan Hangat Para Wanita Abui Di Sekitar Mesbah

Sambutan dari Suku Abui

Sambutan dari Suku Abui via https://www.instagram.com

Hal paling berkesan dalam perjalanan itu adalah sambutan ramah masyarakat Desa Takpala. Kami disambut para penari yang terdiri dari pria dan wanita. Bahkan anak laki-laki dan perempuan pun mengenakan pakaian adat Abui menyambut kelompok kami dengan ramah menggunakan bahasa tradisional. Kemudian dua pria lain membawa genderang dan memukulinya untuk mengiringi langkah kami ketika jalan menanjak.

Para wanita sambil menari ketika mereka memimpin rombongan kami memasuki pintu masuk desa. Sampai di sana, kami bisa melihat lebih dari 30 hingga 40 pria dan wanita lainnya sedang menunggu kami.

Rumah-rumah beratap jerami bernana 'Rumah Gudang' berdiri megah sebagai latar belakang acara itu. Rumah Gudang adalah tempat untuk penyimpanan. Masyarakat Takpala menyebutnya sebagai rumah menyimpanan, karena di sinilah mereka menyimpan persediaan makanan seperti beras, jagung atau lainnya. 

Kemudian kami dibawa ke tengah area desa, terdapat struktur bundar, tampak seperti tempat ritual bagi masyarakat etnis Takpala yang disebut Mesbah. Situs ini adalah sebuah struktur yang terbuat dari tumpukan batu-batu besar. Semacam area umum juga tempat pertemuan, menari bersama juga acara-acara penting lain yang diadakan oleh suku Abui.

Begitu kami duduk di kursi bambu yang disediakan untuk pengunjung, kepala desa memulai pidato ritualnya, menyambut kami semua di Desa Takpala. Segera setelah itu, mereka mulai menari tarian tradisional, disebut tarian Lego Lego.

4. Suku Abui dengan Tarian Lego Leho

Tari Lego Leho Suku Abui

Tari Lego Leho Suku Abui via https://www.instagram.com

Tarian ini dilakukan oleh para penari dari suku Abui, dengan formasi melingkar di sekitar Mesbah. Para wanita dan gadis-gadis menggunakan gelang perak di pergelangan kaki, maka ketika mereka menginjakkan kaki akan terdengar suara gemenrincing saat menari.

Musik dimainkan oleh pria, sementara para wanita mulai bergerak di sekitar Mesbah. Meraka bergandengan tangan antara satu sama lain. Ketika tarian semakin intens, orang-orang Abui bergerak semakin cepat bahkan lebih cepat lagi dalam lingkaran.

Tibalah akhir tarian pembuka, di momen seperti itu para pengunjung akan diajak untuk berpartisipasi bersama dengan penduduk setempat dalam suasana riang gembira, tetapi tetap terus menari sama dalam satu lingkaran. Meskipun menurut adat tarian Lego Lego biasa di lakukan sejak pagi hingga petang, namun dalam acara penyambutan tentu akan menyesuaikan jadwal para wisatawan. Meskipun masyarakat setempat mungkin masih tetap melanjutkannya hingga selesai.

5. Setelah Lagu dan Tarian Tibalah Sesi Foto

Souvenir dari Suku Abui

Souvenir dari Suku Abui via https://www.instagram.com

Ini adalah suatu keharusan bagi wisatawan, setidaknya buat kamu yang ingin mengabadikannya entah untuk kepentingan apapun. Apalagi sekarang sosial media sangat membantu netizen untuk mengonversi suatu momen untuk dijadikan bisnis lain. Maka di sinilah kamu bisa mendapatkan foto terbaik yaitu potret suku Abui dengan pakaian tradisional mereka.

Kamu dapat mengambil foto atau bahkan berpose bersama mereka karena masyarakat ini sangat ramah. Momen ini benar-benar bisa dinikmati oleh semua warga bersama para wisatawan, bahkan gadis-gadis muda dengan mengenakan pakaian tradisional. 

Di bagian pusat desa, penduduk Abui setempat memiliki kios sementara untuk menjual oleh-oleh. Beberapa dari hasil kerajinan tangan mereka cukup keren, terutama kalung dan gelang biji pisang kering.

Satu hal yang harus kamu perhatikan adalah bahwa masyarakat Alor suka mengunyah buah pinang, karena itu mulutnya berwarna merah. Ini adalah hal yang biasa dilakukan di sekitar Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur di antara pria dan wanita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya