Mengenalmu adalah kejutan, bisa sangat dekat denganmupun adalah sebuah kebetulan, kini hidup tanpamu menjadi sebuah keharusan. Tak pernah ku sangka-sangka sebelumnya, kehadiranmu begitu menggugah semangat baru di hidupku. Kamu berhasil mengalihkan pusat perhatianku untuk fokus padamu. Sampai saat ini pun, ketika kamu telah menghilang dari peredaran hidupku, perhatianku tetap tidak berubah. Bukan! Bukannya aku ingin memintamu berbalik arah, aku hanya belum bisa memutar pandanganku ke lain arah. Luka yang begitu menghantam dinding-dinding hati ini masih begitu lebam terasa.

 

1. Sosokmu Yang Gagah Tegap Mencerminkan Sosok Kakak Dan Calon Pemimpin Yang Hebat

Caramu berbicara ketika kita pertama kali bertemu, menjadi daya tarik tersendiri di mataku. Kata-katamu yang bijak dan menyejukkan berhasil meredam sifat kelabilanku saat  itu. Entah karena kamu memang sudah terbiasa public speaking atau sepik sana-sini, yang jelas aku yang begitu kekanak-kanakkan memang sangat butuh sosok sepertimu.Begitu banyak hal menarik dari dirimu yang ingin aku tau. Menjadikanmu penyeimbang hidupku jelas tertulis di kolom harapan baru.

2. Kita Sama-Sama Menanam Janji Tapi Tidak Berhasil Memanennya Bersama

Kita memutuskan bersama bukan berarti tanpa tujuan. Wacana awalmu yang ingin membibit sebuah rencana masa depan bersamaku adalah alasanku mengiyakan tawaranmu. Niat suci yang kamu utarakan membuat kedua orangtuaku percaya. Begitu mudahnya kamu dapatkan izin dari mereka untuk setiap rencana. Kepercayaan mereka yang berhasil kamu kantongi membuatku semakin meyakini janji-janji yang kamu tabung tiap hari. Hingga suatu hari kepercayaan yang sama aku juga sangat harapkan dari keluargamu. Tapi tidak semulus jalanmu merebut hati ayah dan ibuku, mereka tidak bisa menerima kehadiranku. Berbagai usaha telah kamu lakukan, tapi nyatanya keadaan ini tidak akan bisa terus dipaksakan.

3. Aku Bukan Salah Satu Kandidat Pilihan

Aku seorang gadis biasa yang berasal dari keluarga sederhana, sedangkan dirimu berasal dari keluarga berada. Aku sudah terbiasa bersusah payah, sedangkan kamu terbiasa hidup serba ada. Kita memang jelas berbeda. Semua orangtua hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia. Aku begitu sadar diri akan keadaanku, sebenarnya tanpa kamu minta pun aku sudah mulai mengambil posisi, satu langkah menjauhi.

4. Aku Sudah Memaafkan, Tanpa Dimintapun Aku Juga Pasti Akan Merelakan

Tak perlu kamu mengulangi meminta maaf, aku sudah maafkan semua perlakuan siapapun kemarin yang ikut menghakimi keadaanku. Merelakan adalah tugas akhir yang harus aku tempuh. Seperti yang kamu tau sebelumnya, kamu telah menjadi bagian dari candu bercampur bersama rindu. Aku adalah peserta yang masih berada di bawah standar minimal dan tidak jarang harus mengulang. Susah ? Begitulah. Karena melupakan tak ubahnya seperti mengingat orang asing.

5. Selamat Jalan

Kini kembalilah berjalan menapaki jalanan yang terjal sendirian. Aku di sini hanya bisa bertahan dan memaafkan. Karena sejatinya melupakan sama sulitnya seperti mengembalikan sebuah kepercayaan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya